Sahabatku pUnkmore

Sahabatku pUnkmore
saHabat untuk sLamanya

Rabu, 18 Januari 2012

ASUHAN PERSALINAN KALA I

KALA I

Pendahuluan
Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, lahirnya bayi dan plasenta dan rahirn ibu. Bab ini akan memberikan gambaran mengenai kala satu persalinan dan asuhan bagi ibu selama waktu tersebut, dan juga mendefinisikan proses fisiologis persalinan normal. Juga dijelaskan bagaimana cara memberikan asuhan sayang ibu selama persalinan, melakukan anamnesis dan melakukan pemeriksaan fisik pada ibu dalam persalinan. Selain itu, dikaji pula tentang deteksi dini dan penatalaksanaan awal berbagai masalah dan penyulit, kapan dan bagaimana cara merujuk ibu.
Di sini juga akan dijelaskan tentang penggunaan partograf. Partograf adalah alat bantu untuk membuat keputusan klinik, memantau, mengevaluasi dan menatalaksana persalinan dan kewajiban untuk menggunakannya secara rutin pada setiap persalinan. Partograf dapat digunakan untuk deteksi dini masalah dan penyulit untuk sesegera mungkin menatalaksana masalah tersebut atau merujuk ibu dalam kondisi optimal. Partograf tidak digunakan Selama fase laten persalinan, instrumen ini merupakan salah satu komponen dan pemantauan dan penatalaksanaan proses persalinan secara lengkap. Pada prinsipnya, setiap penolong persalinan diwajibkan untuk rnemantau dan mendokumentasikan secara seksama kesehatan dan kenyamanan ibu dan janin dan awal hingga akhir persalinan.
Tujuan
Pada akhir bab ini, penolong persalinan akan dapat :
  1. Menjelaskan batasan persalinan.
  2. Menjelaskan batasan kala satu persalinan.
  3. Membedakan apakah ibu sudah inpartu atau belum.
  4. Memahami langkah-Iangkah esensial untuk melakukan anamnesis rutin dan pemeriksaan fisik pada ibu yang sudah inpartu.
  5. Mengidentifikasi kapan ibu berada dalam fase aktif persalinan.
  6. Memberikan asuhan sayang ibu selama kala satu persalinan.
  7. Penggunaan partograf secara rutin dan tepat untuk mendokumentasikan dan memantau kernajuan persalinan serta keseliatan dan kenyarnanan ibu dan bayi, penuntun untuk membuat keputusan klinik dan deteksi dini rnasalah dan penyulit.
  1. Mengambil tindakan secara tepat sasaran dan waktu. Jika terjadi penyulit dan perlu dirujuk, dapat dilakukan dengan sesegera mungkin.
Batasan
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dan rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 rninggu) tanpa disertai adanya penyulit.
Persalinan dimulai (inpartu) pada saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan pada serviks.
Tanda dan gejala inpartu termasuk :
Penipisan dan pembukaan serviks.
  • Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit).
  • Keluarnya lendir bercampur darah (‘show’) melalui vagina.
Fase-fase dalam kala satu persalinan
Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan sehingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala satu dibagi menjadi dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif.
Fase laten persalinan :
  • Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks Secara bertahap.
  • Pembukaan serviks kurang dan 4 cm.
  • Biasanya berlangsung di bawah hingga 8 jam.
Fase aktif persalinan :
  • Frekuensi dan lama kontraksi uterus urnumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
  • Serviks membuka dan 4 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap (10 cm).
  • Terjadi penurunan bagian terbawah janin.
Menyiapkan kelahiran
Tujuan :
  • Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
  • Menyiapkan sernua perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obat esensial.
  • Menyiapkan rujukan.
  • Memberikan asuhan sayang ibu selama persalinan.
  • Melakukan upaya Pencegahan Infeksi (P1) yang direkomendasikan.
Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi
Persalinan dan kelahiran bayi mungkin tcrjadi di rumah (rumah ibu, rumah kerabat), di tempat bidan, di puskesmas, Polindes atau rumah sakit. Pastikan ketersediaan bahan-bahan dan sarana yang rncmadai dan upaya pencegahan infeksi dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Di manapun persalinan dan kelahiran bayi terjadi, diperlukan hal-hal pokok seperti berikut ini :
  • Ruangan yang hangat dan bersih, merniliki sirkulasi udara yang baik dan terlindung dan tiupan angin.
  • Sumber air bersih yang mengalir untuk cuci tangan dan mandi ibu sebelum dan sesudah melahirkan.
  • Air disinfeksi tingkat tinggi (air yang dididihkan dan didinginkan) untuk membersih kan vulva dan perineum sebelurn periksa dalam selama persalinan dan membersihkan perineum ihu setelah bayi lahir.
  • Air bersih dalarn jumlah yang cukup, kionin, dcterjen, kain pembersih, kain pel dan sarung tangan karet untuk rnernbersihkan ruangan, lantai, perabotan, dekontaminasi dan proses peralatan (lihat Bab 1).
  • Karnar mandi yang bersih untuk kebersihan pribadi ibu dan penolong persalinan. Pastikan hahwa kamar kecil dan kamar mandi telah didekontaminasi dengan larutan kiorin 0,5%, dibersihkan dengan deterjen dan air sebelum persalinan dimulai (untuk melindungi ibu dan risiko infeksi), dan setelah bayi lahir (melindungi keluarga terhadap nisiko infeksi dan darah dan sekret tubuh ibu).
  • Tempat yang lapang untuk ibu ber selama persalinan, melahirkan bayi dan memberikan asuhan bagi ibu dan bayinya setelah persalinan. Pastikan bahwa ibu mendapatkan privasi.
  • Penerangan yang cukup, baik siang maupun malam.
  • Tempat tidur yang bersih untuk ihu. Tutupi kasur dengan plastik atau lembaran yang mudah dibersihkan jika terkontarninasi selama persalinan atau kelahiran bayi.
  • Tempat yang bersih untuk memberikan asuhan bayi baru lahir.
  • Meja yang bersih atau tempat tertentu untuk menaruh peralatan persalinan.
Menyiapkan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang dibutuhkan
Daftar perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang dibutuhkan untuk asuhan dasar persalinan dan kelahiran bayi diuraikan dalam Lampiran 5. Pastikan kelengkapan jenis dan jumlah bahan-bahan yang diperlukan dan dalam keadaan siap pakai untuk setiap persalinan dan kelahiran. Jika tempat persalinan dan kelahiran bayi, jauh dan fasilitas kesehatan, bawalah semua keperluan yang dibutuhkan ke lokasi persalinan. Kegagalan untuk menyediakan semua perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obat esensial pada saat asuhan diberikan, akan meningkatkan risiko terjadinya penyulit pada ibu dan bayi baru lahir yang dapat membahayakan keselamatan jiwa mereka.
Pada setiap persalinan dan kelahiran bayi :
  • Periksa semua peralatan sebelum dan setelah memberikan asuhan. Ganti peralatan yang hilang atau rusak dengan segera.
  • Periksa semua obat-obatan dan bahan-bahan sebelum dan setelah menolong ibu bersalin dan melahirkan. Segera ganti obat apapun yang telah digunakan atau hilang.
  • Pastikan bahwa perlengkapan dan bahan-bahan sudah bersih dan siap pakai. “Partus set”, “set jahit”, dan peralatan resusitasi bayi baru lahir sudah dalam kondisi disinfeksi tingkat tinggi atau steril (Bacalah pemrosesan peralatan di Bab 1).
Menyiapkan rujukan
Kaji ulang rencana rujukan (lihat Bab 1) bersama ibu dan keluarganya. Jika terjadi penyulit, keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai dapat, membahayakan jiwa ibu dan atau bayinya. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.
Jika ibu datang untuk asuhan persalinan dan kelahiran bayi dan ia tidak siap dengan rencana rujukan, lakukan konseling terhadap ibu dan keluarganya tentang keperluan rencana ru jukan. Bantu mereka membuat rencana rujukan pada saat awal persalinan (lihat Bab 1).
Memberikan asuhan sayang ibu
Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, malahan dapat pula menjadi saat yang menyakitkan dan rnenakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, pastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan sayang ibu selama persalinan dan kelahiran.
Kaji prinsip-prinsip umum asuhan sayang ibu yang dijelaskan di Bab 1 secara khusus :
  • Sapa ibu dengan ramah dan sopan, bersikap dan bertindak dengan tenang dan berikan dukungan penuh selama persalinan dan kelahiran bayi
  • Jawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh ibu atau anggota keluarganya.
  • Anjurkan suami dan anggota keluarga ibu untuk hadir dan memberikan dukungannya.
  • Waspadai tanda penyulit selama persalinan dan lakukan tindakan yang sesuai jika diperlukan.
  • Siap dengan rencana rujukan.
Asuhan sayang ibu selama persalinan termasuk :
  • Memberikan dukungan emosional.
  • Membantu pengaturan posisi.
  • Memberikan cairan dan nutrisi.
  • Keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur.
  • Pencegahan infeksi.
Dukungan emosional
Dukung dan anjurkan suami dan anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu Selama persalinan dan kelahiran. Anjurkan mereka untuk berperan aktif dalam mendukung dan mengenali langkah-langkah yang mungkin akan sangat membantu kenyamanan ibu. Hargai keinginan ibu untuk didampingi oleh teman atau saudara yang khusus (Enkiri, et al, 2000).
Bekerjasama dengan anggota keluarga untuk :
  • Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dan pujian kepada ibu.
  • Membantu ibu bernapas pada saat kontraksi.
  • Memijat punggung, kaki atau kepala ibu dan tindakan-tindakan bermanfaat lainnya.
  • Menyeka muka ibu dengan lembut, menggunakan kain yang dibasahi air hangat atau dingin.
  • Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.
Mengatur posisi
Anjurkan ibu untuk mencoba posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan kelahiran. Anjurkan pula suami dan pendamping laihnya untuk membantu ibu berganti posisi. Ibu boleh berjalan. berdiri, duduk, jongkok, berbaring miring atau rnerangkak. Posisi tegak seperti berjalan, berdiri atau jongkok dapat membantu turunnya kepala bayi dan seringkali mempersingkat waktu persalinan. Bantu ibu untuk sering berganti posisi selama persalinan. Jangan membuat ibu dalam posisi telentang, beritahukan agar ia tidak mengambil posisi tersebut.
Alasan: Jika ibu berbaring telentang, berat uterus dan isinya ‘janin, cairan ketuban, plasenta, dli) akan inenekan vena cava inferior Hal iizi inenyebabkan turunnya aliran darah dan sirkulasi ibu ke plasenta. Kondisi seperti ini, akan menyebabkan hipoksia/ kekurangan oksigen pada janin. Posisi telentang juga akan memperlambat kemajuan persalinan (Enkiri, et aI, 2000).
Pemberian cairan dan nutrisi
Anjurkan ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan dan rninum air) selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian ibu masih ingin makan selama fase laten persalinan, tapi setelah memasuki fase aktif, mereka hanya menginginkan cairan saja. Anjurkan anggota keluarga menawarkan ibu minum sesering mungkin dan makanan ringan selarna persalinan.
Alasan: Makanan ringan dan cairan yang cukup selaina persalinan akan niemberikan le bih banyak energi dan rnencegah dehidrasi. Dehidrasi bisa meinperlambat kontraksi dan/atau membuat kontraksi menjadi tidak teratur dan kurang efektif
Kamar mandi
Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya secara rutin selama persalinan. Ibu harus berkemih paling sedikit setiap 2 jam, atau lebih sering jika terasa ingin berkemih atau jika kandung kemih dirasakan penuh. Periksa kandung kemih pada saat akan memeriksa denyut jantung janin (lihat/palpasi tepat di atas simfisis pubis untuk mengetahui apakah kandung kemih penuh). Anjurkan dan antarkan ibu untuk berkeniih di kamar mandi. Jika ibu tidak dapat berjalan ke kamar mandi, berikan wadah penampung urin.
Alasan: Kandung kernih yang penuh akan :
  • Memperlambat turunnya bagian terbawah janin dan mungkin menyebabkan partus macet.
  • Menyebabkan ibu tidak nyanlan.
  • Meningkatkan risiko perdarahan pascapersalinan yang disebabkan atonia uteri.
  • Mengganggu penatalaksanaan distosia bahu.
  • Meningkatkan risiko infeksi saluran kemih pascapersalinan.
Selama persalinan berlangsung, tidak dianjurkan untuk melakukan kateterisasi kandung kemih secara rutin.
Kateterisasi kandung kemih hanya dilakukan jika kandung kemih penuh dan ibu tidak dapat berkemih sendiri.

Alasan: Kateterisasi menimbulkan rasa sakit, meningkatkan risiko infeksi dan perlukan saluran kemih ibu.
Anjurkan ibu untuk buang air besar jika perlu. Jika ibu merasa ingin buang air besar saat persalinan aktif, lakukan periksa dalam untuk memastikan bahwa apa yang dirasakan ibu bukan disebabkan oleh tekanan kepala bayi pada rektum. Jika ibu belum siap melahirkan, perbolehkan ibu untuk ke kamar mandi.
Jangan melakukan klisma secara rutin selama persalinan. Klisma tidak akan memperpendek waktu persalinan, menurunkan angka infeksi bayi baru lahir atau infeksi luka pas capersalinan, malahan akan meningkatkan jumlah tinja yang keluar selama kala dua persalinan (Enkiri, et al, 2000).
Pencegahan infeksi
Menjaga lingkungan yang bersih merupakan hal penting dalam mewujudkan kelahiran yang bersih dan aman bagi ibu dan bayinya (lihat Bab 1). Hal ini tergolong dalam unsur esensial asuhan sayang ibu. Kepatuhan dalam menjalankan praktek-praktek pencegahan infeksi yang baik juga akan melindungi penolong persalinan dan keluarga ibu dan infeksi. Ikuti praktek-praktek pencegahan infeksi yang sudah ditetapkan, ketika mempersiapkan persalinan dan kelahiran. Anjurkan ibu untuk mandi pada awal persalinan dan pastikan bahwa ibu memakai pakaian yang bersih. Mencuci tangan sesering mungkin. menggunakan peralatan stenil atau disinfeksi tingkat tinggi dan sarung tangan pada saat diperlukan (lihat Bab 1). Anjurkan anggota keluarga untuk mencuci tangan mereka sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan/atau bayi baru lahir.
Alasan: Pencegalian infeksi sangat penting dalam menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Upaya dan keterampilan dalam melaksanakan prosedur pencegahan infeksi yang baik, akan melindungi penolong persalinan terhadap risiko infeksi.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik rutin bagi ibu yang sedang bersalin
Asuhan sayang ibu yang baik dan aman selama persalinan memerlukan: anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama. Pertama, sapa ibu dan beritahukan apa yang akan anda lakukan. Jelaskan pada ibu tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh ibu. Selama anamnesis dan pemeriksaan fisik, perhatikan tanda-tanda penyulit atau gawat darurat dan segera lakukan tindakan yang sesuai bila diperlukan (Lihat Tabel 2-1 hal. 14) untuk memastikan persalinan yang aman. Catat semua temuan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama dan Iengkap. Kemudian jelaskan hasil pemeriksaan dan kesimpulannya pada ibu dan keluarganya.
Anamnesis
Tujuan dan anamnesis adalah mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan dan kehamilan. Informasi ini digunakan dalam proses membuat keputusan klinik untuk menentukan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang sesuai.
Tanyakan pada ibu :
  • Nama, umur dan alarnat
  • Gravida dan para
  • Hari pertama haid terakhir
  • Kapan bayi akan lahir (menurut taksiran ibu)
  • Alergi obat-obatan
  • Riwayat kehamilan yang sekarang:
-         Apakah ihu pernah inelakukan peineriksaan antenatal? Jika ya, periksa kartu asuhan antenatalnya (jika inungkiri).
-         Pernahkah ibu mendapat masalah selama kehamilannya (misalnya perdarahan, hipertensi, dll)?
-         Kapan mulai kontraksi?
-         Apakah kontraksi teratur? Seberapa sering terjadi kontraksi?
-         Apakah ibu masih merasakan gerakan bayi?
-         Apakah selaput ketuban sudah pecah? Jika ya, apa warna cairan ketuban? Apakah kental atau encer? Kapan selaput ketuban pecah? (Periksa perineum ibu dan lihat! air ketuban di pakaiannya.)
-         Apakah keluar cairan bercampur darah dan vagina ibu? Apakali berupa bercak atau darah segar pervaginain? (Periksa perineum ibu dan lihat darah di pakaian nya.)
-         Kapankah ibu terakhir kali makan atau minum?
-         Apakah ibu men galami kesulitan untuk berkeinih?
  • Riwayat kehamilan sebelumnya :
-         Apakah ada masalah selama persalinan atau kelahiran sebeluinnya (bedah sesar persalinan dengan ekstraksi vakuin atau forseps, induksi oksitosin, hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan, preekiampsia/eklampsia, perdarahan pascapersalinan)?
-         Berapa berat badan bayi paling besar pernah ibu lahirkan?
-         Apakah ibu mempunyai masalah dengan bayi-bayi sebelumnya?
  • Riwayat medis lainnya (masalah pernapasan, hipertensi, gangguan jantung, berkemih dll).
  • Masalah medis saat ini (sakit kepala, gangguan penglihatan, pusing atau nyeri epigastrium). Jika ada, periksa tekanan darahnya dan jika mungkin periksa protein dalam urin ibu.
  • Pertanyaan tentang hal-hal lain yang belum jelas atau berbagai bentuk kekhawatiran lainnya.
Dokumentasikan semua temuan. Setelah anamnesis Iengkap, lakukan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kesehatan dan kenyamanan fisik ibu dan bayinya. Informasi yang dikumpulkan dan pemeriksaan fisik akan digunakan bersama dengan informasi dan hasil anamnesis untuk proses membuat keputusan klinik untuk menentukan diagnosis serta mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang paling sesuai.
Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang apa yang akan dilakukan selama pemeriksaan dan jelaskan pula aiasannya. Anjurkan mereka untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan sehingga mereka memahami kepentingan pemeriksaan.
Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan fisik :
  • Cuci tangan sebelum memulai pemeriksaan fisik.
  • Bersikaplah lemah lembut dan sopan, tenteramkan hati ibu dan bantu ibu agar merasa nyaman. Jika ibu tegang atau gelisah, anjurkan untuk menarik napas perlahan dan dalam.
  • Minta ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya. (Jika perlu, periksa jumlah urin, protein dan aseton dalam urin).
  • Nilai kesehatan dan keadaan umum ibu, suasana hatinya, tingkat kegelisahan atau nyeri, warna konjungtiva, kebersihan, status nutrisi dan kecukupan air tubuh.
  • Nilai tanda-tanda vital ibu (tekanan darah, temperatur, nadi dan pernapasan). Agar su paya bisa menilai tekanan darah dan nadi ibu dengan akurat, lakukan pemeriksaan di antara dua kontraksi.
  • Lakukan pemeriksaan abdomen (lihat hal. 2-9).
  • Lakukan pemeriksaan dalam (lihat hal. 2-12).
Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan abdomen digunakan untuk :
  1. Menentukan tinggi fundus
  2. Memantau kontraksi uterus
  3. Memantau denyut jantung janin
  4. Menentukan presentasi
  5. Menentukan penurunan bagian terbawah janin
Sebelum memulai pemeriksaan, pastikan bahwa ibu sudah mengosongkan kandung kemihnya. Minta ibu berbaring, tempatkan bantal di bawah kepala dan bahunya kemudian minta ibu untuk menekukkan lututnya. Jika ibu gugup, bantu untuk santai dan tenang dengan cara meminta ibu menarik napas dalam.

  1. 1. Menentukan tinggi fundus
Pastikan tidak terjadi kontraksi selama penilaian. Ukur tinggi fundus dengan menggunakan pita pengukur. Mulai dan tepi atas simfisis pubis, rentangkan hingga ke puncak fundus uteri mengikuti aksis atau linea medialis pada abdomen (lihat Gambar 2 Pita pengukur harus menempel pada kulit abdomen. Jarak antara tepi atas simfisis pubis dan pun cak fundus uteri adalah tinggi fundus.
  1. 2. Memantau kontraksi uterus
Gunakan jarum detik yang ada pada jam dinding atau jam tangan untuk mcmantau kon traksi uterus. Letakkan tangan (dengan hati-hati) di atas uterus dan rasakan jum]ah kon traksi yang terjadi dalam kurun waktu 10 menit. Tentukan durasi atau lama setiap kontraksi berlangsung. Pada fase aktif, minimal terjadi dua kontraksi dalam waktu 10 menit, lama kontraksi 40 detik atau lehih. Di antara dua kontraksi. dinding uterus melunak kembali dan mengalami relaksasi.
  1. 3. Memantau denyut jantung janin
Gunakan jarum detik yang ada pada jam dinding atau jam tangan dan scbuah fetoskop Pinnards atau Doppler untuk memantau denyut jantung janin (DJJ); Dengan fetoskop dengarkan denyut jantung janin yang dihantarkan melalui dinding abdomen. Tentukan titik tertentu pada dinding abdomen di mana DJJ terdengar paling kuat.
Tips :Jika DJJ sulit ditemukan palpasi abdomen dan tentukan dataran punggung bayi. Biasanya denyut jantung bayi lebih mudah digeser melalui dinding abdomen yang sesuai dengan dataran punggung bayi.
Nilai DJJ selama dan segera setelah kontraksi uterus. Mulailah penilaian sebelum atau selama puncak kontraksi. Dengarkan DJJ selama minimal 60 detik, dengarkan sampai sedikitnya 30 detik setelah kontraksi berakhir. Lakukan penilaian DJJ tersebut pada lebih dan satu kontraksi. Jika DJJ kurang dan 120 atau lebih dan 160, pertimbangkan adanya gangguan sirkulasi utero-plasenter padajanin. Jika DJJ kurang dan 100 atau lebih dan 180 per menit, baringkan ibu ke sisi kiri dan anjurkan ibu untuk santai. Lakukan penilaian ulang denyut jantung 5 menit kemudian untuk menentukan apakah DJJ tetap abnormal., Jika DJJ tidak mengalami perbaikan, siapkan untuk segera dirujuk (lihat Tabel 2-1).
  1. 4. Menentukan presentasi
Untuk menentukan presentasi bayi (apakah presentasi kepala atau bokong/sungsang) :
  • Berdiri di samping ibu, menghadap ke arah kepalanya (pastikan lutut ihu ditekuk).
  • Dengan ibu jari dan jari tengah dan satu taugan (hati-hati tapi mantap) pegang bagian bawah abdomen ibu, tepat di atas simfisis pubis. Bagian terbawah janin atau presentasi dapat diraba di antara ibu jari dan jari tengah.
  • Jika bagian terbawah janin belum masuk ke dalam rongga panggul, bagian tersebut masih bisa digerakkan. Jika bagian terbawah janin sudah masuk ke dalam panggul maka bagian tersebut tidak dapat digerakkan lagi.
  • Untuk menentukan apakah presentasi adalah kepala atau bokong, pertimbangkan bentuk, ukuran dan kepadatan bagian tersebut. Jika bulat, keras dan mudah digerakkan
    mungkin presentasi kepala, atau jika tidak beraturan, lebih besar, tidak keras dan sulit digerakkan mungkin bokong. Sungsang berarti terbalik dan ini diidentikkan dengan bokong sebagai kebalikan dan kepala. Jika presentasinya bukan kepala, lihat Tabel 2-1.
  • ·
  1. 5. Menentukan penurunan janin
Akan lebih nyaman bagi ibu jika penurunan janin ditentukan melalui pemeriksaan abdomen dibandingkan dengan pemeriksaan dalam. Menilai penurunan melalui palpasi abdomen juga memberikan informasi mengenai kemajuan persalinan dan membantu mencegah pemeriksaan dalam yang tidak perlu.
Nilai penurunan kepala janin dengan hitungan per lima bagian kepala janin yang bisa di palpasi di atas simfisis pubis (ditentukan oleh jumlah jan yang bisa ditempatkan di bagian kepala di atas simfisis pubis, lihat Gambar 2-2).
Kepala janin adalah:
  • 5/5 (lima per lima) jika keseluruhan kepala janin dapat diraba di atas simfisis pubis.
  • 4/5 jika sebagian besar kepala janin berada di atas simfisis pubis.
  • 3/5 jika hanya tiga dan lima jam bagian kepala janin teraba di atas simfisis pubis.
  • 2/5 jika hanya dua dan lima jan bagian kepala janin berada di atas simfisis pubis. Berarti hampir seluruh kepala telah turun ke dalam saluran panggul (bulatnya kepala tidak dapat diraba dan kepala janin tidak dapat digerakkan).
  • 1/5 jika hanya sebagian kecil kepala dapat diraba di atas simfisis pubis.
  • 0/5 jika kepalajanin tidak teraba dan luar atau seluruhnya sudah melalui simfisis pubis.
Rujuk primigravida yang berada dalam fase aktif persalinan dengan kepala janin masih 5/5 (Tabel 2-1).
Alasan: Kepala harus sudah mulai masuk ke dalam rongga panggui pada fase aktif kala satu persalinan. Bila kepala tidak dapat turun, mungkin diameternya lebih besar dibandingkan dengan rongga panggul ibu. Bila ada dugaan disproporsi kepala panggul (cefalo pelvic disproportion atau CPD), untuk mendapatkan keluaran yang optimal, sebaiknya ibu segera dirujuk kefasilitas kesehatan yang dapat melaksanakan tindakan seksio sesar. Bila kepalajanin tidak dapat turun, risiko untuk terjadi tali pusat menumbung akan lebih tinggi pada saat selaput ketuban pecah.
Pemeriksaan dalam
Sebelum melakukan pemeriksaan dalam, tangan dicuci dengan sabun dan air bersih yang mengalir, kemudian keringkan dengan handuk kering dan bersih’. Minta ibu untuk berkemih dan membasuh regio genitalia dengan sabun dan air bersih (jika ibu belum melakukannya). Jelaskan pada ibu setiap langkah yang akan dilakukan selama pemeriksaan. Tenteramkan dan anjurkan ibu untuk nicks. Pastikan privasi ibu terjaga selama pemeriksaan dilakukan.
Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan dalam termasuk :
  1. Tutupi badan ihu sebanyak mungkin dengan sarung atau selimut.
  2. Minta ibu berbaring telentang dengan lutut ditekuk dan paha dibentangkan (mungkin akan membantu jika ibu menempelkan kedua telapak kakiriya satu sama lain).
  3. Menggunakan sarung tangan DTT atau steril pada saat melakukan pemeriksaan.
  4. Menggunakan kasa atau gulungan kapas DTT yang dicelupkan ke air DTT atau larutan antiseptik. Membasuh labia secara hati-hati, seka dan depan kebelakang untuk menghindarkan kontarninasi feses (tinja).
  5. Memeriksa genitalia eksterna, apakah terdapat luka atau massa (termasuk kon dilornata), varikositas vulva atau rektum, atau luka parut di perineum.
  6. Nilai cairan vagina dan tentukan apakah terdapat bercak darah, perdarahan pervaginam atau mekonium:
  7. Jika ada perdarahan per vaginam, jangan lakukan pemeriksaan dalam. Lihat Tabel 2-1.
  8. Jika ketuban sudah pecah, lihat warna dan bau air ketuban. Jika mekonium ditemukan, lihat apakah kental atau encer dan periksa DJJ (lihat Tabel 2-1):
    1. Jika mekonium encer dan DJJ normal, teruskan memantau DJJ secara seksama menurut petunjuk pada partograf. Jika ada tanda-tanda akan terjadinya gawat janin, lihat Tabel 2-1 dan rujuk segera.
    2. Jika mekonium kental, nilai DJJ dan rujuk segera (lihat Tabel 2-1).
    3. Jika ban busuk, lihat Tabel 2-1. Ibu mungkin mengalami infeksi.
  9. Dengan hati-hati pisahkan labia dengan jari manis dan ibu jari tangan (gunakan sarung tangan pemeriksa). Masukkan jari telunjuk dengan hati-hati, diikuti oleh jari tengah. Pada saat kedua jari berada di dalam vagina, jangan mengeluarkannya sebelum pemeriksaan selesai. Jika ketuban belum pecah, jangan lakukan amniotomi (memecah kannya).
Alasan: Amniotomi ineningkatkan risiko infeksi pada ibu dan bayi, serta gawat janin.
  1. Nilai vagina. Luka parut lama di vagina bisa memberikan indikasi luka atau episiotomi sebelumnya, hal ini mungkin menjadi informasi penting pada saat kelahiran bayi.
  2. Nilai pembukaan dan penipisan serviks.
10.  Pastikan tali pusat umbilikus dan/atau bagian-bagian kecil (tangan atau kaki bayi) tidak teraba pada saat melakukan pemeriksaan per vaginam. Jika teraba, ikuti langkah-Iangkah kedaruratan di Tabel 2-1 dan segera rujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang sesuai.
11.  Nilai penurunan janin dan tentukan apakah kepala sudah masuk ke dalam panggul. Bandingkan penurunan kepala dengan temuan-temuan dan pemeriksaan abdomen Untuk menentukan kemajuan persalinan.
12.  Jika kepala dapat dipalpasi, raba fontanela dan sutura sagitalis untuk menilai penyusupan tulang kepala dan/atau tumpang tindihnya, dan apakah kepala janin Sesuai dengan diameter jalan lahir.
13.  Jika pemeriksaan sudah lengkap, keluarkan kedua jan pemeriksa dengan hati-hati, celupkan sarung tangan ke dalam larutan dekontaminasi, lepaskan sarung tangan secara terbalik dan rendam dalam larutan dekontaminasi selama 10 menit.
14.  Cuci kedua tangan dan segera keringkan dengan handuk bersih dan kering.
15.  Bantu ibu untuk mengambil posisi yang lebih nyaman.
16.  Jelaskan hasil-hasil pemeriksaan pada ibu dan ke!uarganya.
Setelah melengkapi anamnesis dan pemeriksaan fisik
Ketika anamnesis dan pemeriksaan telah lengkap :
  1. Catat semua hasil anamnesis dan temuan pemeriksaan fisik secara teliti dan lengkap.
  2. Gunakan informasi yang terkumpul untuk menentukan apakah ibu sudah dalam persalinan (inpartu). Jika pembukaan serviks kurang dan 4 cm, berarti ibu masih dalam fase laten persalinan. Lakuikan penilaian ulang setelah 4 jam sejak pemeriksaan pertama. Jika pembukaan serviks 4 cm atau lebih, ibu telah masuk dalam fase aktif persalinan; mulailah mencatat kemajuan persalinan pada partograf (lihat bawah).
  3. Tentukan ada tidaknya masalah atau penyulit yang harus ditatalaksana secara khusus.
  4. Setiap kali selesai melakukan penilaian, analisis data yang terkumpul, buat diagnosis berdasarkan informasi tersebut. Susun rencana penatalaksanaan asuhan bagi ibu. Penatalaksanaan itu selalu berdasarkan pada hash temuan penilaian.
Contoh: Jika setelah menyelesaikan penilaian awal diagnosisnya adalah kehamilan intrauterin, cukup bulan, dalam fase aktif kala satu persalinan dengan DJJ dan tanda tanda vital normal. Rencana selanjutnya adalah terus mernantau kondisi ibu serta janin menurut parameter-parameter pada partograf dan memberikan asuhan sayang ibu. Jika hasil diagnosis menunjukkan suatu ahnormalitas atau komplikasi, maka rencana selan jutnya mencakup persiapan untuk rujukan segera, memperbaiki kondisi umum ibu, merujuk sambil terus menerus memantau dan me!akukan pertolongan awal terhadap masalah tersebut dan tetap memberikan asuhan sayang ibu (kaji ulang bagian Membuat keputusan klinik di Bab 1).
  1. Jelaskan semua temuan, diagnosis dan rencana penatalaksanaan kepada ibu dan keluar ganya sehingga mereka memahami asuhan yang akan diberikan.
Mengenali masalah dan penyulit secara dini
Pada saat memberikan asuhan kepada ibu yang sedang bersalin, penolong harus selalu waspada terhadap masalah atau penyulit yang mungkin terjadi. Ingat bahwa menunda pemberian asuhan kegawatdaruratan akan meningkatkan risiko kematian dan kesakitan ibu dan bayi baru lahir. Selama anamnesis dan penieriksaan fisik, tetap waspada terhadap indikasi-indikasi seperti yang tertera pada Tabel 2-1 dan lakukan tindakan segera. Lakukan langkah dan tindakan yang scsuai untuk mernastikan proses persalinan yang aman bagi ibu dan keselamatan bagi bayi yang dilahirkan.
Tabel 2-1: Indikasi-indikasi untuk melakukan tindakan dan/atau rujukan segera selama kala satu persalinan
Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan Rencana untuk asuhan atau perawatan
Riwayat bedah sesar
  1. Segara rujuk ke fasilitas yang mempunyai kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan, berikan dukungan dan semangat.
Perdarahan pervaginam selain dari lendir bercampur darah (show) Jangan melakukan pemeriksaan dalam
  1. Baringkan ibu ke sisi kiri
  2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisiologis (NS)
  3. Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah besar.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan.
Kurang dari 37 minggu (persalinan kurang bulan)
  1. Segara rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obsteri dan bayi baru lahir.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat


Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan
Rencana untuk asuhan atau perawatan
Ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental
  1. Baringkan ibu miring ke kiri,
  2. Dengarkan DJJ.
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena-talaksanaan untuk melakukan bedah sesar.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan bawa partus set, kateter penghisap lendir DeLee dan handuk/kain untuk menge-ringkan dan menyelimuti bayi kalau ibu melahirkan di jalan.
Ketuban pecah bercampur dengan sedikit mekonium disertai tanda-tanda gawat janin
  1. Dengarkan DJJ, jika ada tanda-tanda gawat janin laksanakan asuhan yang sesuai (lihat di bawah).
Ketuban telah pecah (lebih dari 24 jam )atau Ketuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
  1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan me- lakukan asuhan kegawat daruratan obstetri.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi:• temperatur tubuh > 38° c • menggigil
• nyeri abdomen
• cairan ketuban yang berbau
  1. Baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisio logis (NS) dengan tetesan 125 ml/jam.
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena- talaksanaan kegawat daruratan obstetri.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta Semangat.
Tekanan darah lebih dari 160/ 110 dan/atau terdapat protein dalam urin (preeklampsia berat)
  1. Baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisio logis (NS).
  3. Jika mungkin berikan dosis awal 4 g MgSO4 20% IV selama 20 menit.
  4. Suntikan 10 g MgSO4 50% (5 g IM pada bokong kiri dan kanan).
  5. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapabilitas asuhan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  6. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
Tinggi tundus 40 cm atau lebih (makrosomia, polihidramniosis, kehamilan ganda)
  1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat dan dukungan.
Alasan: Jika diagnosisnya adalah polihidramnion, mungkin ada masalah-masalah lain dengan janinnya. Dengan adanya makrosomia, risiko distosia bahu dan perdarahan pasca persalinan akan lebih besar


Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan Rencana untuk asuhan atau perawatan
DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali/menit pada dua kali penilaian dengan jarak 5 menit (gawat janin)
  1. Baringkan bu miring ke kiri dan anjurkan untuk bernapas secara teratur.
  2. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisio logis (NS) dengan tetesan 125 ml/jam.
  3. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  4. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Primipira dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin masih 5/5
  1. Baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pembedahan bedah sesar.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Presentasi bukan belakang kepala(sungsang, letak lintang, dll)
  1. Baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
Presentasi ganda (majemuk)(adanya bagian janin, seperti misalnya lengan atau tangan, bersamaan dengan presentasi belakang kepala)
  1. Baringkan ibu dengan posisi lutut menempel ke dada atau miring ke kiri.
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetri danbayi baru lahir.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan   berikan semangat serta dukungan.
Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdenyut)
  1. Gunakan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi, letakkan satu tangan di vagina dan jauhkan kepala janin dari tali pusat janin. Gunakan tangan yang lain pada abdomen untuk membantu menggeser bayi dan menolong hagian terbawah bayi tidak menekan tali pusatnya (keluarga mungkin dapat membantu).
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetni dan bayi baru lahir.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
ATAU
  1. Minta ibu untuk mengambil posisi bersujud di mana posisi bokong tinggi melebihi kepala ibu, hingga tiba ke tempat rujukan.
  2. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penn talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  3. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
Temuan-temuan anamnesis dan/atau pemeriksaan Rencana untuk asuhan atau perawatan
Tanda dan gejala syok:
  • Nadi cepat, lemah (lebih dari 110 kali/menit)
  • Tekanan darahnya rendah (sistolik kurang dan 90 mmHg)
  • Pucat
  • Berkeringat atau kulit lembab, dingin
  • Napas cepat (lebih dari 30 kali/ menit)
  • Cemas, bingung atau tidak sadar
  • Produksi urin sedikit (kurang dari 30 ml/jam)
  1. baringkan ibu miring ke kiri.
  2. Jika mungkin naikkan kedua kak ibu untuk meningkatkan aliran darah ke jantung.
  3. Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisiologis (NS). Infuskan 1 liter dalam waktu 15-20 menit; jika mungkin infuskan 2 liter dalam waktu satu jam pertama, kemudian turunkan tetesan menjadi 125 ml/jam.
  4. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena- talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  5. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
Tanda dan gejala persalinan dengan fase laten yang memanjang:
  • pembukaan serviks kurang dari 4 cm setelah 8 jam
  • kontraksi teratur (lebih dari 2 dalam 10 menit)
  1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapabilitas kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
Tanda dan gejala belum inpartu:
  • kurang dari 2 kontraksi dalam 10 menit, berlangsung kurang dari 20 detik
  • tidak ada perubahan senviks dalam waktu 1 sampai 2 jam
  1. Anjurkan ibu untuk minum dan makan.
  2. Anjurkan ibu untuk bergerak bebas dan leluasa.
  3. Jika kontraksi berhenti dan/atau tidak ada perubahan serviks, evatuasi DJJ, jika tidak ada tanda-tanda kegawatan pada ibu dan janin, persilahkan ibu pulang dengan nasehat untuk:
  • Menjaga cukup makan dan minum.
  • Datang untuk meridapatkan asuhan jika terjadi peningkatan frekuensi dan lama kontraksi.
Tanda dan gejala partus lama:
  • pembukaan serviks meng-arah ke sebelah kanan garis waspada (partograf)
  • pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam
  • kurang dari 2 kontraksi dalam wak tu 10 menit, masing-masing berlangsung kurang dari 40 detik.
  1. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena- talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
  2. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.


Rujuk ibu :Apabila didapati salah satu atau lebih penyulit seperti berikut :
  1. Riwayat bedah sesar
  2. Perdarahan pervaginam
  3. Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
  4. Ketuban pecah dengan mekonium yang kental
  5. Ketuban pecah lama (lebih dari 24 jam)
  6. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (kurang dari 37 minggu usia kehamilan)
  7. Ikterus
  8. Anemia berat
  9. Tanda/gejala infeksi
  10. Preeklampsia/Hipertensi dalam kehamilan
  11. Tinggi fundus 40 cm atau lebih
  12. Gawat janin
  13. Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih 5/5
  14. Presentasi bukan belakang kepala
  15. Presentasi majemuk
  16. Kehamilan gemeli
  17. Tali pusat menumbung
  18. Syok
Menggunakan Partograf
Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. Tujuan utama dan penggunaan partograf adalah untuk :
  • Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
  • Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian, juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama.
Jika digunakan secara tepat dan konsisten, maka partograf akan membantu penolong persalinan untuk :
-         Mencatat kemajuan persalinan.
-         Mencatat kondisi ibu dan janinnya.
-         Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran.
-         Menggunakan informasi yang tercatat untuk secara dini mengidentifikasi adanya nenvulit.
Partograf harus digunakan :
  • Untuk semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sebagai elemen penting asuhan persalinan. Partograf harus digunakan, baik tanpa ataupun adan penyulit. Partograf akan membantu penolong persalinan dalam memantau, mengevaluasi dan membuat keputusan klinik baik persalinan normal maupun yang disertai dengan penyulit.
  • Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas, klinik bidan swasta, rumah sakit, dll).
  • Secara rutin oleh sernua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan dan kelahiran (Spesialis Obgin, bidan, dokter umum, residen dan mahasiswa kedokteran).
Penggunaan partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinya mendapatkan asuhan yang aman dan tepat waktu. Selain itu, juga mencegah terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka.
Pencatatan selama fase laten persalinan
Seperti yang sudah dibahas di awal bab ini kala satu persalinan dibagi menjadi fase laten dan fase aktif yang clibatasi oleh pembukaan serviks :
  • fase laten : pembukaan serviks kurang dan 4 cm
  • fase aktif : pcrnbukaan serviks dan 4 sampai 10 cm
Selama fase laten persalinan, semua asuhan, pengamatan dan pemeriksaan harus di catat. Hal ini dapat direkani secara terpisah dalam catatan kemajuan persalinan atau pada Kartu Menuju Sehat (KMS) Ibu Hamil. Tanggal dan waktu harus dituliskan setiap kali membuat catatan selama fase laten persalinan. Semua asuhan dan intervensi harus dicatat.
Kondisi ibu dan bayi juga harus dinilai dan dicatat secara seksama, yaitu :
  • denyut jantung janin: setiap 1/2 jam
  • frekuensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap 1/2 jam
  • nadi: setiap 1/2 jam
  • pembukaan serviks: setiap 4 jam
  • penurunan: setiap 4 jam
  • tekanan darah dan temperatur tubuh: setiap 4 jam
  • produksi urin, aseton dan protein: setiap 2 sampai 4 jam
Jika ditemui tanda-tanda penyulit, penilaian kondisi ibu dan bayi, harus lebih sering di lakukan. Lakukan tindakan yang sesuai apabila dalam diagnosis keja ditetapkan adanya penyulit dalam persalinan. Jika frekuensi kontraksi berkurang dalam satu atau dua jam pertama, nilai ulang kesehatan dan kondisi aktual ibu dan bayinya. Bila tidak ada tanda-tanda kegawatan atau penyulit. Ibu dipulangkan di rumah, penolong persalinan boleh meninggalkan ibu hanya setelah dipastikan bahwa ibu dan bayinya dalam kondisi baik. Pesankan pada ibu dan keluarganya untuk memberitahu penolong persalinan jika terjadi peningkatan frekuensi kontraksi (perlu diskusi).
Pencatatan selama fase aktif persalinan: Partograf
Halaman depan partograf (lihat Gambar 2-3) mencantumkan bahwa observasi dimulai pada fase aktif persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif persalinan, terrnasuk :
  1. A. Informasi tentang ibu:
-         nama, umur;
-         gravida, para, abortus (keguguran);
-         nomor catatan medis/nomor puskesmas;
-         tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah, tanggal dan waktu penolong persalinan mulai merawat ibu);
-         waktu pecahnya selaput ketuban.
  1. B. Kondisi janin:
-         DJJ;
-         warna dan adanya air ketuban;
-         penyusupan (molase) kepala janin.
  1. C. Kemajuan persalinan:
-         pembukaan serviks;
-         penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin;
-         garis waspada dan garis bertindak.
  1. D. Jam dan waktu:
-         waktu mulainya fase aktif persalinan;
-         waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian.
  1. E. Kontraksi uterus:
-    frekuensi dan lamanya.
  1. F. Obat-obatan dan cairan yang diberikan:
-         oksitosin;
-         obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan.
  1. G. Kondisi ibu:
-     nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh; urin (volume, aseton atau protein).
  1. H. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya (dicatat dalarn kolom yang tersedia di sisi partograf atau di catatan kemajuan persalinan).
Mencatat temuan pada Partograf

  1. A. Informasi tentang ibu
Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti pada saat rnemulai asuhan persalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai: “jam” pada partograf) dan perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase laten persalinan. Catat waktu terjadinya pecah ketuban.
  1. B. Kesehatan dan kenyamanan janin
Kolom, lajur dan skala angka pada partograf adalah untuk pencatatan denyut jantung janin (DJJ), air ketuban dan penyusupan (kepala janin)
  1. 1. Denyut jantung janin
Dengan menggunakan metode seperti yang diuraikan pada bagian Pemeriksaan fisik dalam bab ini, nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika ada tanda-tanda gawat janin). Setiap kotak pada bagian ini menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka di sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada garis yang sesuai dewngan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik yang satu dengan titik lainnya dengan garis tidak terputus (Gambar 2-6).
Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal angka l dan 100. Tetapi, penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di atas 160. Lihat Tabel 2-1 untuk tindakan-tindakan segera yang harus dilakukan jika DJJ melampaui kisaran normal ini. Catat tindakan-tindakan yang dilakukan pada ruang yang tersedia di salah satu dari kedua sisi partograf.
  1. 2. Warna dan adanya air ketuban
Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam, dan nilai warna air ketuban jika selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ (Gambar 2-6). Gunakan lambang-lambang berikut ini :
  • U : ketuban utuh (belum pecah)
  • J : ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
  • M : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium
  • D : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
  • K : ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban (“kering”)
Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin. Jika terdapat mekonium, pantau DJJ secara seksama untuk mengenali tanda-tanda gawat janin selama proses persalinan. Jika ada tanda-tanda gawat janin (denyut jantung janin < 100 atau >180 kali per menit), ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai (lihat Tabel 2-1)
Tetapi jika terdapat mekonium kental, segera rujuk ibu ke tempat yang memiliki asuhan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir (lihat tabel 2-1)
  1. 3. Molase (penyusupan kepala janin)
Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul ibu. Tulang kepala yang saling menyusup atau tumpang tindih, menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggul (CPD). Ketidakmampuan akomodasi akan benar-benar terjadi jika tulang kepala yang saling menyusup tidak dapat dipisahkan. Apabila ada dugaan disproprosi tulang panggul, penting sekali untuk tetap memantau kondisi janin dan kemajuan persalinan. Lakukan tindakan pertolongan awal yang scsuai dan rujuk ibu dengan tanda-tanda disproporsi tulang panggul ke fasilitas kesehatan yang memadai.
Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam, nilai penyusupan kepala janin. Catat temuan dikotak yang sesuai (Gambar 2-6) di bawah lajur air ketuban. Gunakan lambang-lambang berikut ini :
0    :     tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat dipalpasi
1    :     tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
2    :     tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih dapat dipisahkan
3    :     tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan
C. Kemajuan persalinan
Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0-10 yang tertera di tepi kolom paling kiri adalah besarnya dilatasi serviks (Gambar 2-6). Masing-masing angka mempunyai lajur dan kotak tersendiri. Setiap angka/kotak menunjukkan besarnya pembukaan serviks. Kotak yang satu dengan kotak yang lain pada lajur di atasnya, menunjukkan penambahan dilatasi sebesar 1 cm. Skala angka 1-5 juga menunjukkan seberapa jauh penurunan janin. Masing-masing kotak di bagian ini menyatakan waktu 30 menit.
  1. 1. Pembukaan serviks
Dengan rnenggunakan metode yang dijelaskan di bagian Pemeriksaan Fisik dalam bab ini, nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering dilakukan jika ada tanda tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf hasil temuan dan setiap pemeriksaan. Tanda “X’ harus ditulis di garis waktu yang sesuai dengan lajur besarnya pembukaan serviks. Beri tanda untuk temuan-temuan dan pemeriksaan dalam yang dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di garis waspada. Hubungkan tanda ‘X” dan setiap perneriksaan dengan garis utuh (tidak terputus).
Contoh : Perhatikan contoh partograf untuk Ibu Rohati (Gambar 2-6) :
  • Pada pukul 17.00, pembukaan serviks 5 cm dan ibu ada dalam fase aktif. Pembukaan serviks dicatat di garis waspada” dan waktu pemeriksaan dituliskan di bawahnya.
  1. 3. Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin
Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Penieriksaan fisik di bab ini. Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), atau lebih sering jika ada tanda tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian tcrbawah atau presentasi janin.
Pada persalinan normal, kemajuan pernbukaan serviks umumnya diikuti dengan turunnya bagian terbawah atau presentasi janin. Tapi kadangkala, turunnya bagian terbawah/presentasi janin baru terjadi setelah pembukaan serviks sebesar 7 cm.
Kata-kata “Turunnya kepala” dan garis tidak terputus dan 0-5, tertera di sisi yang sama dengan angka pembukaan serviks. Berikan tanda “pada garis waktu yang sesuai. Sebagai contoh, jika kepala bisa dipalpasi 4/5, tuliskan tanda “S’ di nomor 4. Hubungkan tanda “0” dan setiap pemeriksaan dengan garis tidak terputus.
Contoh: Partograf untuk Ibu Rohati (Gambar 2-6) :
  • Pada pukul 17.00 penurunan kepala 3/5
  • Pada pukul 21.00 penurunan kepala 1/5
  1. 3. Garis waspada dan garis bertindak
Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik di mana pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan Selama fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada. Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dan 1 cm per jam), maka harus dipertimbangkan adanya penyulit (misalnya fase aktif yang memanjang, macet, dll). Pertirnbangkan pula adanya tindakan intervensi yang diperlukan, misalnya persiapan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan (rumah sakit atau puskesmas) yang mampu menangani penyulit dan kegawatdaruratan obstetri. Garis bertindak tertera sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8 kotak atau 4 jalur ke sisi kanan. Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis bertindak, maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan harus dilakukan. Ibu harus tiba di tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampaui.
D. Jam dan waktu
  1. 1. Waktu mulainya fase aktif persalinan
Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera kotak-kotak yang diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya fase aktif persalinan.
  1. 2. Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan
Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam penuh dan
berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh menit pada lajur kotak diatasnya atau lajur kontraksi di bawahnya. Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catatkan pembukaan serviks di garis waspada. Kernudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai. Sebagai contoh, jika pemeriksaan dalam menunjukkan ibu mengalami pembukaan 6 cm pada pukul 15.00, tuliskan tanda di garis waspada yang sesuai dengan angka 6 yang tertera di sisi luar kolom paling kiri dan catat waktu yang sesuai pada kotak waktu di bawahnya (kotak ketiga dan kiri).
E. Kontraksi uterus
Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan kontraksi per 10 menit” di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.
Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu 10 menit dengan mengisi angka pada kotak yang sesuai (Gambar 2-4). Sebagai contoh jika ibu mengalami 3 kontraksi dalam waktu satu kali 10 menit, isi 3 kotak.
Nyatakan Iamanya kontraksi dengan:

F. Obat-obatan dan cairan yang diberikan
Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat oksitosin, obat-obat lainnya dan cairan IV.
  1. 1. Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokurnentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit.
  1. 2. Obat-obatan lain dan cairan IV
Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak yang sesuai dengan kolom waktunya.
G. Kesehatan dan kenyamanan ibu
Bagian terakhir pada lembar depan partograf berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan ibu.
  1. 1. Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh
Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah ibu.
  • Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktifpersalinan. (lebih seringjika dicurigai adanya penyulit). Ben tanda titik pada kolom waktu yang sesuai (•).
  • Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan (lebih sering jika dianggap akan adanya penyulit). Beri tanda panah pada partograf pada kolom waktu yang sesuai:
  • Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih lebih jika meningkat, atau dianggap adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur tubuh dalam kotak yang sesuai.
  1. 2. Volume urin, protein atau aseton
Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali ibu berkemih). Jika memungkinkan setiap kali ibu berkemih, lakukan pemeriksaan adanya ase ton atau protein dalam urin.
H. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya

Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom partograf. atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan.
Asuhan, pengamatan dan/atau keputusan klinik mencakup :
  • Jumlah cairan per oral yang diberikan
  • Keluhan sakit kepala atau pengelihatan (pandangan) kabur
  • Konsu dengan penolong persalinan lainnya (Obgin, bidan, dokter umum)
  • Persiapan sebelum melakukan rujukan
  • Upaya rujukan


INGAT :
  1. Fase laten persalinan didefinisikan sebagai pembukaan serviks kurang dan 4 cm. Biasanya fase laten berlangsung tidak lebih dan 8 jam.
  2. Dokumentasikan asuhan, pengamatan dan pernenksaan selama fase laten persalinan pada catatan kemajuan persalinan yang dibuat secara terpisah atau pada kartu KMS.
  3. Fase aktif persalinan didefinisikan sebagai pembukaanserVikS dart 4 sampai 10 cm. Biasanya, selania fase aktif, terjadi pembukaan serviks sedikitnya 1 cm/jam..
  4. Saat persalinan maju dan fase laten ke fase aktif, dimulailah pencatatan pada garis waspada di patrograf.
  5. Jika ibu datang pada saat fase akiif persalinan pencatatan kemajuan pembukaan serviks dilakukan pada ganis waspada.
  6. Pada persalinan tanpa penyulit, catatan pembukaan seviks umumnya tidak akan melewati garis waspada.
Pencatatan pada lembar belakang Partograf
Halaman belakang partograf (Gambar 2-5) merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak persalinan kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah sebabnya bagian ini disebut sebagai Catatan Persalinan. Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas terutama selama persalinan kala empat untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai. Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan klinik, terutama pada pemantauan kala IV (mencegah terjadinya perdarahan pascapersalinan). Selain itu, catatan persalinan (yang sudah diisi dengan lengkap dan tepat) dapat pula digunakan untuk menilai/memantau sejauh mana telah dilakukan pelaksanaan asuhan persalinan yang dan bersih aman.
CATATAN PERSALINAN
  1. Tanggal : ………………………………………………………………………………………….
  2. Nama bidan :……………………………………………………………………………………..
  3. Tempat Persalinan :
Rumah Ibu                                                 Puskesmas
Polindes                                                    Rumah Sakit
Klinik Swasta                                           Lainnya :…………………
  1. Alamat tempat persalinan :………………………………………………………………….
  2. Catatan:        rujuk, Kala : I / II / III / IV
  3. Alasan merujuk :………………………………………………………………………………..
  4. Tempat rujukan :………………………………………………………………………………..
  5. Pendamping pada saat merujuk:
Bidan                                                         Teman
Suami                                                        Dukun
Keluarga                                                    Tidak ada
KALA I
  1. Partograf melewati garis waspada: Y/T
  2. Masalah lain, sebutkan:……………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
  1. Penatalaksanaan masalah tsb:……………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………..
  1. Hasilnya……………………………………………………………………………………………
KALA II
  1. Episiotomi :
Ya, indikasi………………………………………………………………………………….             Tidak
  1. Pendamping pada saat persalinan:
Suami                                                        Dukun
Keluarga                                                    Tidak ada
Teman
  1. Gawat janin:
Ya, tindakan yang dilakukan:
a   ………………………………………………………………………………………………
b   ………………………………………………………………………………………………
c   ………………………………………………………………………………………………
Tidak
  1. Distosia bahu
Ya, tindakan yang dilakukan
a   ………………………………………………………………………………………………
b   ………………………………………………………………………………………………
c   ………………………………………………………………………………………………
Tidak
  1. Masalah lain, Sebutkan :…………………………………………………………………….
  2. Penatalaksanaan masalah tersebut:…………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………..
  1. Hasilnya……………………………………………………………………………………………
KALA III
  1. Lama kala III:…………………………………………………………………………. Menit
  2. Pemberian Oksitosin 10 U IM?
Ya, waktu : ……………………………menit sesudah persalinan
Tidak, alasan……………………………………………………………………………….
  1. Pemberian ulang Oksitosin (2x)?
Ya, alasan :………………………………………………………………………………….
Tidak
  1. Penegangan tali pusat terkendali?
Ya,
Tidak, alasan:………………………………………………………………………………
  1. Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri?
Ya,
Tidak, alasan:………………………………………………………………………………
  1. Plasenta lahir lengkap (intact) : Ya/Tidak
Jika tidak lengkap, tindakan yang dilakukan:
a.    …………………………………………………………………………………………….
b.    …………………………………………………………………………………………….
  1. Plasenta tidak lahir > 30 menit: Ya/Tidak
Ya, tindakan:
a.   ……………………………………………………………………………………………..
b.   ……………………………………………………………………………………………..
c.   ……………………………………………………………………………………………..
  1. Laserasi:
Ya, dimana…………………………………………………………………………………..
Tidak
  1. Jika laserasi perineum, derajat : 1 / 2 / 3 / 4
Tindakan :
Penjahitan, dengan/tanpa anestasi
Tidak dijahit, alasan:…………………………………………………………………….
  1. Atonia uteri:
Ya, tindakan
a.   ……………………………………………………………………………………………..
b.   ……………………………………………………………………………………………..
c.   ……………………………………………………………………………………………..
Tidak
  1. Jumlah perdarahan:……………………………………………………………………… ml
  2. Masalah lain, sebutkan………………………………………………………………………
  3. Penatalaksanaan masalah tersebut:…………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………..
  1. Hasilnya:…………………………………………………………………………………………..
BAYI BARU LAHIR
  1. Berat Badan ………………………………………………………………………….. garam
  2. Panjang…………………………………………………………………………………. cm
  3. Jenis kelamin :  L/P
  4. Penilaian bayi baru lahir : baik / ada penyulit
  5. Bayi lahir:
Normal, tindakan:
mengeringkan
menghangatkan
rangsangan taktil
bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu
tindakan pencegahan infeksi mata
Asfiksia ringan/pucat/biru/lemas, tindakan:
mengeringkan                                     menghangatkan
rangsangan taktil                                lain-lain, sebutkan:
bebaskan jalan napas                        ………………………………..
bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu
Cacat bawaan, sebutkan:………………………………………………………………
Hipotermia, tindakan:
a.  …………………………………………………………………………………………
b.  …………………………………………………………………………………………
c.  …………………………………………………………………………………………
  1. Pemberian ASI
Ya, waktu:……………jam setelah bayi lahir
Tidak, alasan:………………………………………………………………………………
  1. Masalah lain, sebutkan:……………………………………………………………………..
Hasilanya:…………………………………………………………………………………………
PEMANTAUAN PERSALINAN KALA IV
Jam Ke Waktu Tekanan darah Nadi Temperatur Tinggi fundus uteri Kontraksi uterus Kandung kemih Perdarahan
1































2















Masalah Kala IV :…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Penatalaksanaan yang dilakukan untuk masalah tersebut:……………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Bagaimana hasilnya?……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Gambar 2-5 : Halaman belakang partograf
Catatan persalinan adalah terdiri dari unsur-unsur berikut :
  1. A. Data dasar
  2. B. Kala I
  3. C. Kala II
  4. D. Kala III
  5. E. Bayi baru lahir
  6. F. Kala IV
Cara pengisian:
Berbeda dengan halaman depan yang harus diisi pada akhir setiap pemeriksaan, lembar belakang partograf ini diisi setelah seluruh proses persalinan selesai. Adapun cara pengisian catatan persalinan pada lembar belakang partograf secara lebih terinci disampaikan menurut unsur-unsurnya sebagai berikut.
  1. A. Data dasar
Data dasar terdiri dan tanggal, nama bidan, tempat persalinan, alamat tempat persalinan, catatan. alasan merujuk, tempat rujukan dan pendamping pada saat merujuk. Isi data pada masing-masing tempat yang telah disediakan, atau.dengan cara memberi tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan nomor 5, lingkari jawaban yang sesuai dan untuk pertanyaan nomor 8 jawaban bisa lebih dari satu.
Data dasar yang perlu dipenuhi adalah sebagai berikut :
  1. Tanggal …………………………………………………………………
  2. Nama bidan …………………………………………………………..
  3. Tempat persalinan :
Rumah Ibu                            Puskesmas
Polindes                                Rumah Sakit
Klinik Swasta                        Lainnya : ………………
  1. Alamat tempat persalinan
  2. Catatan: ru kala: / II / III               / IV
  3. Alasan merujuk: …………………………………………………….
  4. Tempat rujukan …………………………………………………….
  5. Pendamping pada saat merujuk:
bidan                                      teman
suami                                     dukun
keluarga                                tidak ada
B. Kala I

Kala I terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat melewati garis waspada, masalah-masalah yang dihadapi, penatalaksanaannya, dan hasil penatalaksanaan tersebut. Untuk pertanyaan nomor 9, lingkari jawaban yang sesuai. Pertanyaan lainnya hanya diisi jika terdapat masalah lainnya dalam persalinan.
Pertanyaan pada kala I adalah sebagai berikut :


  1. Patrograf melewati garis waspada: Y / T…………..
  2. Masalah lain, sebutkan ………………………………….                                                    ………………………………………………………………..
  3. Penatalaksana masalah tsb: ……………………………                                                    ………………………………………………………………..
  4. Hasilnya: ……………………………………………………
C. Kala II
Kala II terdiri dan episiotomi, pendamping persalinan, gawat janin, distosia bahu, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya. Beri tanda “ pada kotak di samping jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan nomor 13, jika jawabannya “Ya”, tulis indikasinya sedangkan untuk nomor 15 dan 16 jika jawabannya “Ya”, isi jenis tindakan yang telah dilakukan. Untuk pertanyaan nomor 14, jawaban bisa lebih dan 1. Sedangkan untuk ‘masalah lain’ hanya diisi apabila terdapat masalah lain pada Kala II.
Pertanyaan-pertanyaan pada Kala II adalah sebagai berikut:
  1. Episiotomi:
Ya, indikasi ………………………………………………………………………
Tidak
  1. Pendamping pada saat persalinan:
suami                         dukun
keluarga                    tidak ada
teman
  1. Gawat janin:
Ya, tindakan yang dilakukan:
a. ………………………………………………………………………………………
b. ………………………………………………………………………………………
c. ………………………………………………………………………………………
Tidak
  1. Distosia bahu
Ya, tindakan yang dilakukan:
a. ………………………………………………………………………………………
b. ………………………………………………………………………………………
c. ………………………………………………………………………………………
Tidak
  1. Masalah lain, sebutkan: …………………………………………………..
  2. Penatalaksanaan masalah tersebut: ………………………………                                                                 ………………………………………………………………………………………….
  3. Hasilnya: ………………………………………………………………………….
D. Kala III
Kala III terdiri dan lama kala III, pemberian oksitosin, penegangan tali pusat terkendali, pemijatan fundus, plasenta lahir Iengkap, plasenta tidak lahir> 30 menit, laserasi, atonia uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya. Isi jawaban pada tempat yang disediakan dan beri tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai. Untuk nomor 25, 26 dan 28 lingkari jawaban yang benar.
Pertanyaan pada kala III adalah sebagai berikut:
  1. Lama kala III …………………………………………………………… menit
  2. Pemberian Oksitosin 10 U IM?
Ya, waktu ……………………………….. menit sesudah persalinan
Tidak, alasan ……………………………………………………………………
  1. Pemberian ulang Oksitosin (2x)?
Ya, alasan : ……………………………………………………………………….
Tidak
  1. Penegangan tali pusat terkendali?
Ya
Tidak, alasan: …………………………………………………………………..
  1. Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri?
Ya
Tidak, alasan: …………………………………………………………………..
  1. Plasenta lahir Iengkap (intact) : Ya / Tidak
Jika tidak Iengkap, tindakan yang dilakukan:
a. ……………………………………………………………………………………….
b. ……………………………………………………………………………………….
  1. Plasenta tidak ahir >30 menit: Ya / Tidak
Ya, tindakan:
a. ……………………………………………………………………………………….
b. ……………………………………………………………………………………….
c. ……………………………………………………………………………………….
  1. Laserasi:
Ya, dimana ………………………………………………………………………..
Tidak
  1. Jika laserasi perineum, derajat: 1/2/3 / 4
Tindakan:
Pen jahitan, dengan / tanpa anestesi
Tidak dijahit, alasan: ………………………………………………………..
  1. Atonia uteri:
Ya, tindakan:
a. ……………………………………………………………………………………….
b. ……………………………………………………………………………………….
c. ……………………………………………………………………………………….
Tidak
  1. Jumlah perdarahan:…………………………………………………….. ml
  2. Masalah lain, sebutkan …………………………………………………….
  3. Penatalaksanaan masalah tersebut:……………………………………………..                                                 …………………………………………………………………………………………..
  4. Hasilnya …………………………………………………………………………….
E. Bayi baru lahir
Informasi tentang bayi baru lahir terdiri dan berat dan panjang badan, jenis kelamin, penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta, penatalaksanaan terpilih dan hasilnya. Isi jawaban pada tempat yang disediakan serta beri tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai. Untuk pertanyaan nomor 36 dan 37, lingkari jawaban yang sesuai sedangkan untuk nomor 38, jawaban bisa lebih dari satu.
Pertanyaan mengenai Bayi Baru Lahir adalah sebagai berikut:
  1. Berat badan ……………………………………………………………………… gram
  2. Panjang ……………………………………………………………………………. cm
  3. Jenis kelamin: UP
  4. Penilaian bayi baru lahir: baik I ada penyulit
  5. Bayi lahir:
Normal, tindakan:
mengeringkan
menghangatkan
rangsangan taktil
bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu
tindakan pencegahan infeksi mata
Asfiksia ringanlpucatlbiru/lemas, tindakan:
mengeringkan                       menghangatkan
rangsangan taktil                   lain-lain, sebutkan:
bebaskan jalan napas ……………………………………………
bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu
Cacat bawaan, sebutkan: ………………………………………….
Hipotermia, tindakan:
a. …………………………………………………………………………….
b. …………………………………………………………………………….
c. …………………………………………………………………………….
  1. Pemberiari ASI
Ya, waktu …………………………………………. jam setelah bayi lahir
Tidak, alasan: ……………………………………………………………
  1. Masalah lain, sebutkan: ……………………………………………………
Hasilnya: ……………………………………………………………………………
F. Kala IV
Kala IV berisi data tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus, kontraksi uterus, kandung kemih dan perdarahan. Pemantauan pada kala IV ini sangat penting terutama untuk menilai apakah terdapat risiko atau terjadi perdarahan pascapersalinan. Pengisian peman tauan kala IV dilakukan setiap 15 menit pada satu jam pertama setelah melahirkan, dan setiap 30 menit pada satu jam berikutnya. Isi setiap kolom sesuai dengan hasil pemeriksaan dan jawab pertanyaan mengenai masalah kala IV pada tempat yang telah disediakan. Bagian yang digelapkan tidak usah diisi.
Catatkan semua temuan selama kala empat persalinan di bagian ini :
Jam ke waktu Tekanan darah Nadi Temper-atur Tinggi fundus uteri Kontraksi uterus Kandung kemih Perdarahan
1































2















Masalah kala IV : …………………………………………………………
Penatalaksanaan masalah tersebut: …………………………………..
Hasilnya: …………………………………………………………………….
Contoh Partograf
Gambar 2-6 adalah contoh partograf yang sudah dilengkapi untuk kasus berikut :
Ibu Rohati adalah G1: P0: A0, berusia 23 tahun. Ia datang ke klinik bersalin bersama keluarganya untuk mendapatkan asuhan dan Bidan Ita di Rt 001/Rw 04, Kelurahan Tebet Timur, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan pada tanggal 20 Maret 2002 pukul 13.00. Ia mengatakan kepada bidan penolong bahwa ia sudah merasakan adanya kontraksi sejak pukul 05.00.
Bidan Ita melakukan anamnesis secara seksama dan melakukan pemeriksaan fisik (lihat Bab 1). Ia menemukan :
  • Kehamilan cukup bulan, presentasi belakang kepala (verteks), dengan penurunan kepala janin 4/5, kontraksi uterus tiga kali dalam 10 menit, setiap kontraksi berlangsung 18 detik, dan DJJ 124 kali/menit.
  • Pembukaan serviks 3 cm, tidak ada penyusupan dan selaput ketuban utuh.
  • Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80, temperatur tubuh 36,8°C.
  • Ibu berkemih 200 ml sebelum pemeriksaan dalam, tidak ditemui protein dan aseton dalam urin.
  1. Berdasarkan data yang dikumpulkan pada pukul 13.00, bidan Ita membuat diagnosis bahwa ibu Rohati adalah primigravida, dalam fase laten persalinan dengan DJJ normal, pembukaan serviks 3 cm, tiga kontraksi dalam 10 menit, setiap kontraksinya berlangsung kurang dan 20 detik. Bidan Ita menentramkan hati ibu Rohati dan menganjurkannya untuk berjalan-jalan ditemani oleh suaminya dan banyak minum. Bidan Ita menuliskan tanggal dan waktu serta mencatat semua temuan dan asuhannya pada catatan kemajuan persalinan.
Bidan Ita meneruskan untuk memantau DJJ, kontraksi serta nadi dan kontraksi uterus ibu Rohati setiap jam. DJJ, nadi dan kontraksinya tetap normal. Bidan Ita mengukur produksi urin ibu Rohati setiap kali ia berkemih. Bidan Ita meneruskan pencatatan temuan-temuannya di catatan kernajuan persalinan. Bidan Ita terus memberikan dukungan persalinan dan menentramkan hati ibu Rohati.
  1. Pemeriksaan kedua dilakukan pukul 17.00. Ibu Rohati melaporkan bahwa kontraksinya terasa lebih kuat dan lebih nyeri. Bidan Ita melakukan pemeriksaan abdomen dan pemeriksaan dalam yang kedua: Ibu Rohati mengalami 4 kontraksi dalam 10 menit, masing-masing lamanya antara 20 sampai 40 detik, DJJ 134 kali/menit, penurunan bagian terbawah janin 3/5, pembukaan serviks 5 cm, tidak ada penyusupan kepala janin dan selaput ketubannya masih utuh. Tekanan darah ibu Rohati 120/70 mm Hg, nadinya 88, dan temperatur tubuhnya 37°C. Ia berkemih 100 ml sebelum pemeriksaan di lakukan.

Lihat gambar partograf (Gambar 2-6)
Pada pukul 17.00, ibu Rohati berada dalam fase aktif persalinan dan bidan ita mulai mencatat pada partograf. Ia mencatatkan pernbukaan serviks pada garis waspada dan semua temuan lainnya di garis waktu yang sesuai. Bidan Ita mulai menilai DJJ, kontraksi uterus dan nadi ibu Rohati setiap 30 menit dan menilai temperatur tubuhnya setiap 2 jam. Semua temuan dicatat di partograf dengan tepat (Gambar 2-6):
  • Pukul 17.30 DJJ 144/menit Kontraksi 4 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 80/menit.
  • Pukul 18.00 DJJ 144/menit Kontraksi 4 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 88/menit.
  • Pukul 18.30 DJJ 140/menit Kontraksi 4 kali dalarn       10 rnenit selama 45 detik Nadi 90/menit.
  • Pukul 19.00 DJJ 134/menit Kontraksi 4 kali dalam        10 menitselama 45 detik: Nadi 97/menit Suhu 36,8°C Urin 150 ml.
  • Pukul 19.30 DJJ 128/menit Kontraksi 4 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 88/menit.
  • Pukul 20.00 DJJ 128/menit Kontraksi 5 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 88/menit.
  • Pukul 20.30 DJJ 128/menit Kontraksi 5 kali dalam        10 menit selama 45 detik Nadi 90/menit Urin 80 ml
  1. Pada pukul 21.00, bidan Ita melakukan periksa ulang abdomen dan panggul. Hasilnya: DJJ 130 kali/menit, 5 kontraksi dalam 10 menit, rnasing-masing berlangsung lebih dari 45 detik penurunan kepalajanin 1/5. Pembukaan serviks 10cm, tidak ada penyusupan kepala janin, selaput ketuban pecah sesaat sebelum pemeriksaan jam 20.45, dan cairan ketuban jernih. Tekanan darah ibu 120/70mm Hg, temperatur tubuh 37°C, dan nadinya 80 kali/menit.
  2. Pada pukul 21.30, lahir seorang bayi perempuan, berat badan 3000 gram dan panjang 48 cm. Bayi menangis spontan. Dilakukan penatalaksanaan aktif kala tiga dan plasenta lahir 5 menit setelah bayi lahir. Tidak dilakukan episiotomi dan tidak terjadi laserasi. Perkiraan kehilangan darah kurang lebih 150 ml.
  1. Tidak ada penyulit terjadi pada 15 menit pertama kala empat (sampai pukul 21.45). Bi dan Ita menjlai keadaan umum dan kondisi kesehatan ibu Rohati setiap 15 menit Selama jam pertama setelah lahirnya plasenta. Temuan-temuannya adalah sebagai berikut (Gambar 2-7):
  • 21.50: TD 120/70, nadi 80, temperatur tubuh 37,2°C, tinggi fundus 3 jam di bawah pusat, tonus uterus baik (keras), kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  • 22.05: TD 120/70, nadi 76, tinggi fundus 3 jan di bawah pusat, tonus uterus baik (keras), kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  • 22.20: TD 110/70, nadi 76, tinggi fundus 3 jam di bawah pusat, tonus uterus baik, kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  • 22.35: TD 110/70, nadi 76, tinggi fundus 3 jan di bawah pusat, tonus uterus baik, kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  1. Selama jam kedua kala empat persalinan, bidan Ita menilai ibu Rohati setiap 30 menit. Temuannya adalah sebagai berikut (Gambar 2-7) :
  • 23.05: TD 110/70, nadi 80, temperatur tubuh 37° C, tinggi fundus dua jan di bawah pusat, tonus uterus baik, ibu Rohati berkemih dan produksi urin berjumlah 250 ml, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
  • 23.35: TD 110/70, nadi 80, tinggi fundus dua jari di bawah pusat, tonus uterus baik, kandung kemih kosong, perdarahan pervaginam dalam batas normal.
sumber : buku APN

Selasa, 17 Januari 2012

7 Hal yang Seharusnya Ibu Baru Tahu

7 Hal yang Seharusnya Ibu Baru Tahu




BAGI seorang ibu baru, kehadiran bayi menjadi momen yang membahagiakan sekaligus membingungkan. Mengapa setiap dua jam dia harus diberikan ASI, mengapa dia buang air besar dan kecil lebih dari tiga kali, mengapa napasnya bunyi saat tidur? Itu merupakan beberapa pengalaman asing bagi seorang ibu baru.
Agar tak bingung, simak yuk penjelasan dr Robert Soetandio, SpA. MSi. Med, dari Rumah Sakit Awal Bros Tangerang.
Tidur
Bayi baru lahir biasanya tidur selama 16-20 jam yang dibagi menjadi empat sampai enam periode. Pola tidur bayi masih belum teratur, karena jam biologis yang belum matang. Tetapi perlahan-lahan akan bergeser sehingga lebih banyak waktu tidur di malam hari dibandingkan dengan siang hari.
Pada usia dua bulan, bayi mulai lebih banyak tidur malam dibandingkan siang. Pada usia tiga sampai enam bulan, jumlah tidur siang akan semakin berkurang, kira-kira tiga kali dalam sehari, dan terus berkurang hingga dua kali sehari saat usia bayi enam sampai 12 bulan.
Menjelang usia satu tahun biasanya bayi hanya perlu tidur siang satu kali dengan total jumlah waktu tidur berkisar antara 12-14 jam.
Posisi tidur bayi ada tiga; posisi miring, telentang, dan tengkurap. Bayi baru lahir sampai usia tiga bulan, posisinya hanya telentang karena kemampuan motoriknya baru sampai di situ. Moms bisa membantu mengubah posisinya dengan dimiringkan ke kanan atau kiri maupun ditengkurapkan.
Bayi boleh saja tidur tengkurap asalkan tetap diawasi karena alasan takut tersedak atau tercekik saluran napasnya. Sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS – Sudden Infant Death Syndrome) hingga napasnya berhenti bisa saja terjadi. Karena itu, sebaiknya posisi tengkurap dihindari saat malam hari karena saat itu pengawasan pada bayi kurang.
Napas Bunyi Saat Tidur
Sering memerhatikan napas bayi yang berbunyi keras saat tidur? Tarikan napas si kecil begitu berat seperti orang yang menderita asma. Ini dia penyebabnya:
Bunyi napas yang muncul saat bayi tidur berasal dari tidak lancarnya aliran udara yang keluar dan masuk melalui saluran napas. Bunyi napas yang muncul dapat juga akibat terhalangnya cairan atau lendir yang berada dalam paru-paru bayi. Perlu diingat bahwa organ ini juga memroduksi lendir.
Hambatan aliran udara ini dapat terjadi karena kepala bayi tertekuk atau memang karena struktur leher bayi yang belum sempurna sehingga ada bagian yang menyempit saat tidur.
Produksi lendir yang berlebih mudah dialami bayi yang membawa bakat alergi. Begitu terpacu oleh alergen (pemicu timbulnya alergi), produksi lendirnya akan meningkat. Selain alergi, peningkatan lendir juga dapat terjadi jika bayi terkena virus, contohnya influenza.
Sejauh tidak mengganggu proses menyusu, tidak disertai demam dan infeksi serta tidak mengganggu aktivitas sehari-hari bayi, maka hal ini tidak perlu dikhawatirkan.
Yang dapat moms lakukan adalah coba posisi tengkurap dengan kepala dimiringkan, namun posisi ini harus dalam pengawasan orangtua. Letakkan bantal kecil di bahu bayi, usahakan kepala jangan terlalu tengadah.
Gumoh
Gumoh adalah kondisi di mana bayi memuntahkan kembali susu yang sudah ditelannya. Bagi ibu baru, hal ini seringkali mengkhawatirkan. Karena itu, jangan memberi minum susu terlalu banyak, berikan sedikit namun sering dan biasakan membuatnya bersendawa setelah diberi susu.
Penyebab gumoh bermacam-macam. Salah satunya klep penutup lambung belum sempurna. Sehingga jika si kecil langsung ditidurkan setelah disusui dan juga menggeliat, susu akan keluar dari mulut. Pada tahun-tahun pertama, mekanisme klep ini perlahan-lahan menguat seiring perkembangan bayi sehingga kemungkinan terjadinya gumoh berkurang.
Gumoh berbahaya khususnya jika terjadi saat tidur karena gumoh dapat masuk ke saluran napas utamanya paru-paru sehingga dapat membuat sesak napas dan anak menjadi biru karena kekurangan oksigen. Oleh karena itu, bila anak gumoh langsung seka mulutnya dengan lap lembut.
BAB & BAK
Sedikit-sedikit pipis atau “pup”. Wah, apa bayiku baik-baik saja? Ini dia rahasia di balik Buang Air Kecil (BAK) dan Buang Air Besar (BAB) si kecil:
Pada bayi yang menyusu ASI usia 0-6 bulan
* Frekuensi BAB normal:
Sehari satu sampai tujuh kali atau bahkan hanya satu sampai dua hari sekali. Dengan catatan: berat badan bayi terus bertambah sesuai grafik normal yang tertera pada Kartu Menuju Sehat atau KMS. Jika yang terjadi sebaliknya, si kecil harus menjalani pemeriksaan dokter.
* Frekuensi BAB tidak normal:
- Setelah dua hari tidak BAB
- BAB tiga hari satu kali atau lebih dari tujuh kali sehari. Kondisi ini perlu dikonsultasikan kepada dokter. Biasanya dokter akan melihat kondisi perut bayi, kembung atau tidak, keadaan feses, berat badan, dan tumbuh kembang bayi.
Pada bayi yang tidak menyusu ASI usia nol sampai enam bulan
# Frekuensi BAB normal:
- Berkisar tiga sampai empat kali sehari sampai hanya satu hingga dua hari sekali. Pada bayi yang diberi susu formula, frekuensi BAB-nya lebih jarang dari bayi yang menyusu ASI karena ASI sangat mudah dicerna oleh bayi, sementara susu formula lebih sulit dicerna dan diserap oleh sistem pencernaan bayi.
* Frekuensi BAB tidak normal:
- Bila feses bayi encer dan frekuensinya lebih dari 10 kali per hari disertai penurunan berat badan.
Pada bayi usia 6 bulan ke atas
# Frekuensi BAB normal:
- Biasanya tiga sampai empat kali sehari, atau dua hari sekali. Setelah anak menginjak empat tahun, frekuensi BAB-nya sudah seperti orangtua, yakni satu sampai dua kali sehari.
* Frekuensi BAB tidak normal:
- Lebih dari empat kali sehari disertai gejala-gejala lain. Misalnya, bayi BAB sampai enam kali sehari. Ini bisa dijadikan alarm bagi Moms bahwa kondisi si kecil sedang tidak sehat. Coba perhatikan apakah bayi juga rewel atau gelisah.
# Frekuensi BAK:
- Dalam sehari, normalnya si kecil BAK berkisar tiga sampai empat kali. Namun, sebetulnya frekuensi BAK tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Jika lebih dari itu tidak masalah, kecuali bila pipis-nya sangat sering (lebih dari 10 kali per hari) atau jarang sama sekali. Artinya, selama tidak ada tanda-tanda dehidrasi atau bayi menjadi lesu dan rewel, tak perlu terlalu mempermasalahkannya. Apalagi sampai khawatir bayi terkena Diabetes Mellitus (DM), karena DM pada anak apalagi bayi sangat jarang terjadi.
- Namun waspadai bila frekuensi BAK bayi jarang atau menjadi jarang. Misalnya, satu hari hanya sekali padahal biasanya bisa empat kali. Atau sejak lahir si kecil memang jarang pipis padahal asupan cairannya mencukupi.
Menyusu
Pada bayi yang menyusu ASI, ASI diberikan secara on demand (semau bayi). Pada hari pertama bayi akan minum dalam jumlah sedikit tetapi dengan frekuensi yang sering, misalnya 10 kali dalam waktu 24 jam.
Setelah beberapa hari, pada saat produksi ASI sudah cukup dan bayi sudah cukup kuat mengisap, maka bayi akan minum selama 15 menit atau lebih dan baru minta minum lagi tiga jam kemudian.
Moms dapat menilai apakah bayinya mendapatkan cukup ASI atau tidak. Bayi usia nol sampai enam bulan dinilai mendapat kecukupan ASI bila mencapai keadaan sebagai berikut:
1. Bayi minum ASI tiap dua sampai tiga jam atau dalam 24 jam minimal mendapatkan ASI delapan kali pada dua sampai tiga minggu pertama.
2. Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering dan warna menjadi lebih muda pada hari kelima setelah lahir.
3. Bayi akan buang air kecil (BAK) paling tidak enam sampai delapan kali sehari.
4. Moms dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI.
5. Payudara terasa lebih lembek, yang menandakan ASI telah habis.
6. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal.
7. Pertumbuhan berat badan (BB) bayi dan tinggi badan (TB) bayi sesuai dengan grafik pertumbuhan.
8. Perkembangan motorik baik (bayi aktif dan motoriknya sesuai dengan rentang usianya). Jika kurang, ada kemungkinan cara pemberian ASI salah – mungkin dari perlekatan atau posisi menyusui. Jika hal ini terjadi Moms dapat berkonsultasi ke klinik laktasi.
Bagi bayi yang tidak menyusu ASI, jumlah susu formula yang diberikan sangat individual bergantung kondisi bayi. Ada yang jumlahnya sedikit tapi sering, namun ada yang jumlahnya banyak tetapi dalam waktu yang lama.
Makan
Mulai usia enam bulan hingga satu tahun, si kecil diperkenalkan dengan MPASI (makanan pendamping ASI). Nah, seberapa banyak bayi akan makan dalam satu hari?
- Kebutuhan energi dari MPASI untuk bayi di negara sedang berkembang dengan masukan ASI yang cukup berkisar  200 kkal/hari untuk bayi usia enam sampai delapan bulan.
- 300 kkal/hari untuk bayi umur 9-11 bulan. Dan 550 kkal/hari untuk anak umur 12-23 bulan.
- Estimasi kebutuhan tersebut hanya berlaku untuk bayi yang mengonsumsi ASI rata-rata. Jika konsumsi ASI lebih banyak atau lebih sedikit, kebutuhan energi dari ASI dapat bertambah atau berkurang.
- Sedangkan untuk bayi yang tidak mendapat ASI, kebutuhan energinya 600 kkal/hari, 700 kkal/hari pada umur 9-11 bulan dan 900 kkal/hari pada anak umur 12-23 bulan.
- Rata-rata bayi yang mendapat ASI diberi MPASI dua sampai tiga kali sehari saat bayi umur enam sampai delapan bulan. Tiga sampai empat kali per hari saat bayi umur 9-11 bulan dan 12-24 bulan dengan tambahan makanan selingan bergizi satu sampai dua kali dalam sehari.
Menangis
Bayi menangis karena ia merasa tidak nyaman, lapar, bosan, lelah, mengantuk, kolik dan sakit. Orangtua perlu belajar mencari tahu sebab bayi menangis. Yang terpenting, hentikan tangis bayi dengan lembut, perlahan dan tenang.
Berikut ini kondisi di mana bayi acapkali menangis:

Lapar

Ciri tangisan: Keras, terjadi beberapa kali dalam sehari dan dapat diprediksi kapan kira-kira akan terjadi, yaitu berkisar waktu bayi biasa menyusu atau makan.
Cara atasi: Orangtua sebaiknya menenangkan bayi dengan memeluk dan menciumnya setelah tangisnya reda baru diberi susu atau makan.
Terlalu Ramai
Ciri tangisan: Bayi tampak lelah dan menangis cukup keras sambil menatap mata kita seperti mengajak kita pergi dari suasana itu. Mungkin ia termasuk bayi yang sangat peka terhadap keramaian sehingga tidak suka pada bunyi-bunyian yang tidak pernah kita pikirkan misalnya suara TV atau radio. Bisa juga dia lelah karena terlalu banyak orang yang mengajaknya bermain.
Cara atasi: Sebaiknya membawa bayi ke tempat yang lebih tenang dan matikan TV atau radio. Bila perlu nyalakan lampu yang lebih redup atau mengurangi jumlah mainan yang ada didekatnya.
Bosan
Ciri tangisan: lirih tapi kalau tidak ditanggapi bisa semakin keras.
Cara atasi: Orangtua sebaiknya mengalihkan rasa bosan bayi dengan memberikan mainan yang menarik dari bentuk dan warnanya, atau yang bisa mengeluarkan suara. Ajak bayi menyanyi dan menari dalam suasana santai dan menyenangkan, atau ajak bayi jalan-jalan ke tempat yang berbeda misalnya ke halaman rumah.
Kolik
Ciri tangisan: tiba-tiba menangis hebat, terus menerus, tidak dapat dihibur, tangisannya memelas utamanya pada sore atau menjelang malam hari. Lamanya bisa sampai tiga jam atau lebih. Penyebab dan mengapa terjadi pada waktu sore atau menjelang malam hari belum diketahui secara pasti. Namun kolik biasa dialami bayi usia dua minggu dan akan hilang sendiri saat bayi berumur tiga sampai empat bulan.
Cara atasi: Sebaiknya dekap dan pijat perut bayi dengan lembut. Bila bayi tetap menangis coba letakkan dia dengan nyaman di tempat tidur dan hibur kembali.
Tidak Nyaman
Ciri tangisan : merengek gelisah sambil menggerakkan tubuh seperti ingin menunjukkan bagian tubuhnya yang terasa tidak nyaman. Kondisi yang menyebabkan bayi tidak nyaman misalnya popoknya kotor karena BAK atau BAB, ruam kulit, udara yang terlalu panas atau terlalu dingin, atau perutnya kembung.
Orangtua sebaiknya mencari tahu penyebab dan segera mengatasinya:
* Popok yang kotor karena BAK atau BAB segera diganti dengan yang bersih
* Kalau ada ruam kulit, atasi dengan membersihkan kulit yang terkena ruam dengan air bersih, keringkan dengan handuk atau kain yang kering dan diberi salep atau krim untuk ruam kulit.
* Kalau kedinginan segera beri selimut atau baju hangat. Sebaliknya jika kepanasan dan bajunya basah karena keringat, lap tubuhnya dan ganti bajunya.
* Bila perutnya kembung, coba menyendawakannya dan beri minyak telon atau minyak kayu putih di perutnya. Usapan tangan Ibu di punggung bayi dapat membuat bayi lebih tenang.

Sakit

Ciri tangisan: suara tangis bervariasi dari lirih sampai keras, yang intinya menarik perhatian. Penyebabnya mungkin karena jatuh, terjepit, terinfeksi kuman atau virus, digigit serangga atau sebab lain.
Cara atasi: sebaiknya periksa seluruh tubuh bayi termasuk mengukur suhu tubuhnya. Bila perlu segera ke dokter.

Sumber : http://artikelunik.com/7-hal-yang-seharusnya-ibu-baru-tahu/
DEFINISI KB
Keluarga Berendana adalah usaha untuk mengontrol jumlah dan jarak antara kelahiran anak.

Untuk menghindari kehamilan yang bersifat sementara digunakan kontrasepsi sedangkan untuk menghindari kehamilan yang sifatnya menetap bisa dilakukan sterilisasi.
Aborsi bisa digunakan untuk mengakhiri kehamilan jika terjadi kegagalan kontrasepsi.

Alat  kontrasepsi

KONTRASEPSI

Metode kontrasepsi terdiri dari:

Kontrasepsi oral (pil KB)Pil KB mengandung hormon, baik dalam bentuk kombinasi progestin dengan estrogen atau progestin saja.
Pil KB mencegah kehamilan dengan cara menghentikan ovulasi (pelepasan sel telur olehovarium) dan menjaga kekentalan lendir servikal sehingga tidak dapat dilalui oleh sperma.  Tablet yang hanya mengandung progestin sering menyebabkan perdarahan tidak teratur. Tablet ini hanya diberikan jika pemberian estrogen bisa membahayakan, misalnya pada wanita yang sedang menyusui.
Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan ada yang mengandung estrogen dosis tinggi.
Estrogen dosis tinggi biasanya diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat epilepsi).
Keuntungan pemakaian pil KB adalah mengurangi:
- Resiko kanker jenis tertentu
- Angka kekambuhan kram pada saat menstruasi
- Ketegangan premenstruasi
- Perdarahan tidak teratur
- Anemia
- Kista payudara
- Kista ovarium
- Kehamilan ektopik (kehamilan di luar kandungan)
- Infeksi tuba falopii.
Sebelum mulai menggunakan pil KB, dilakukan pemeriksaan fisik untuk meyakinkan bahwa tidak ada masalah kesehatan yang bisa menimbulkan resiko.
Jika wanita tersebut atau keluarga dekatnya ada yang menderita diabetes atau penyakit jantung, biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar kolesterol dan gula darah. Jika kadar kolesterol atau gula darahnya tinggi, maka diberikan pil KB dosis rendah.
3 bulan setelah pemakaian pil KB, dilakukan pemeriksaan ulang untuk mengetahui adanya perubahan tekanan darah. Selanjutnya pemeriksaan dilakukan 1 kali/tahun.
Pil KB sebaiknya tidak digunakan oleh:
a. Wanita yang merokok dan berusia diatas 35 tahun
b. Wanita penderita penyakit hati aktif atau tumor
c. Wanita yang memiliki kadar trigliserida tinggi d. Wanita penderita tekanan darah tinggi yang tidak diobati
e. Wanita penderita diabetes yang disertai penyumbatan arteri
f. Wanita yang memiliki bekuan darah
g. Wanita yang tungkainya sedang digips
h. Wanita penderita penyakit jantung
I. Wanita yang pernah menderita stroke
j. Wanita yang pernah menderita penyakit kuning pada saat kehamilan
k. Wanita penderita kanker payudara atau kanker rahim.
Pengawasan harus dilakukan jika pil KB digunakan oleh:
a. Wanita yang mengalami depresi
b. Wanita yang sering mengalami sakit kepala migren
c. Wanita yang merokok tetapi berusia dibawah 35 tahun
d. Wanita yang pernah menderita hepatitis atau penyakit hari lainnya tetapi telah sembuh total.
  1. Pemakaian pil KB setelah kehamilan Resiko terbentuknya bekuan darah di tungkai meningkat setelah kehamilan dan akan semakin meningkat jika wanita tersebut memakai pil KB.
    Jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu kurang dari 12 minggu setelah persalinan, maka pil KB bisa langsung digunakan. Jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu 12-28 minggu, maka harus menunggu 1 minggu sebelum pil KB mulai digunakan, sedangkan jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu lebih dari 28 minggu, harus menunggu 2 minggu sebelum pil KB mulai digunakan.
    Wanita yang menyusui biasanya tidak mengalami ovulasi sampai 10-12 minggu setelah persalinan, tetapi mereka bisa mengalami ovulasi dan hamil sebelum terjadinya menstruasi pertama. Karena itu, ibu yang menyusui sebaiknya menggunakan pil KB jika tidak ingin hamil.
    Pil kombinasi yang diminum oleh ibu menyusui bisa mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein dalam air susu. Hormon dari pil terdapat dalam air susu sehingga bisa sampai ke bayi. Karena itu untuk ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air susu.
    Pil KB yang diminum segera setelah terjadinya pembuahan atau pada awal kehamilan (sebelum wanita tersebut mengetahui bahwa dia hamil) tidak akan membahayakan janin.
    Efek samping pil KB
    a. Spotting
    Sering terjadi pada tahun pertama pemakaian pil KB, jika tubuh telah menyesuaikan diri dengan hormon biasanya perdarahan abnormal akan berhenti.
    b. Beberapa bulan setelah berhenti menggunakan pil KB, mungkin tidak akan terjadi menstruasi, tetapi obat ini tidak menyebabkan berkurangnya kesuburan secara permanen.
    c. Efek samping yang berhubungan dengan estrogen adalah mual, nyeri tekan pada payudara, perut kembung, penahanan cairan, peningkatan tekanan darah dan depresi.
    d. Efek samping yang berhubungan dengan progestin adalah penambahan berat badan, jerawat dan kecemasan.
    Penambahan berat badan sebanyak 1,5-2,5 kg biasanya terjadi akibat penahanan cairan dan mungkin karena meningkatnya nafsu makan.
    e. Bekuan darah diperkirakan 3-4 kali lebih sering terjadi pada pemakaian pil KB dosis tinggi.
    Jika secara tiba-tiba timbul nyeri dada atau nyeri tungkai, pemakaian pil KB harus segera dihentikan dan segera memeriksakan diri karena gejala tersebut mungkin menunjukkan adanya bekuan darah di dalam vena tungkai dan kemungkinan sedang menuju ke paru-paru.
    Pil KB dan pembedahan menyebabkan meningkatnya resiko pembentukan bekuan darah, sehingga 1 bulan sebelum menjalani pembedahan pemakaian pil harus dihentikan dan baru mulai dipakai lagi 1 bulah setelah pembedahan.
    f. Mual dan sakit kepala.
    g. 1-2% wanita pemakai pil KB mengalami depresi dan kesulitan tidur.
    h. Melasma (bercak-bercak berwarna gelap di wajah).
    Jika terkena sinar matahari, bercak semakin gelap. Melasma akan menghilang secara perlahan setelah pemakaian pil KB dihentikan.
    I. Resiko terjadinya kanker leher rahim tampaknya meningkat, terutama jika pil KB telah dipakai selama lebih dari 5 tahun. Karena itu wanita pemakai pil KB harus rutin menjalani pemeriksaan Pap smear (minimal 1 kali/tahun).
    Di lain fihak, wanita pemakai pil KB memiliki resiko kanker ovarium ataupun kanker rahim yang lebih rendah.
    Interaksi pil KB dengan obat lain
    Pil KB tidak berpengaruh terhadap obat lain, tetapi obat lain (terutama obat tidur dan antibiotik) bisa menyebabkan berkurangnya efektivitas dari pil KB.
    Wanita pemakai pil KB bisa hamil jika secara terus menerus mengkonsumsi antibiotik (misalnya rifampin, penisilin, ampisilin, tetrasiklin atau golongan sulfa). Ketika mengkonsumsi antibiotik tersebut, selain pil KB sebaiknya ditambah dengan menggunaka kontrasepsi penghalang (misalnya kondom atau diafragma).
    Oba anti-kejang (fenitoin dan phenobarbital) bisa menyebabkan meningkatkan perdarahan abnormal pada wanita pemakai pil KB.
    Untuk mengatasi hal ini, kepada wanita penderita epilepsi yang mengkonsumsi anti-kejang perlu diberikan pil KB dosis tinggi.
    Kontrasepsi hormonal
  2. Kontrasepsi penghalangKontrasepsi penghalang secara fisik menghalangi jalan masuk sperma ke dalam rahim wanita.
    Yang termasuk ke dalam kontrasepsi penghalang adalah:  A. Kondom.
    Kondom bisa melindungi pemakainya dari penyakit menular seksual (misalnya AIDS) dan dapat mencegah perubahan prekanker tertentu pada sel-sel leher rahim.
    Ada kondom yang ujungnya memiliki penampung semen; jika tidak ada penampung semen, sebaiknya kondom disisakan sekitar 1cm di depan penis.
    Kondom harus dilepaskan secara perlahan karena jika semen tumpah maka sperma bisa masuk ke vagina sehingga terjadi kehamilan.
    Untuk menambah efektivitas pemakaian kondom bisa ditambahkan spermisida (biasanya terkandung di dalam pelumas kondom atau dimasukkan secara terpisah ke dalam vagina).
    Kondom wanita merupakan alat kontrasepsi penghalang baru yang dipasang di vagina dengan bantuan sebuah cincin.
    Kondom wanita menyerupai kondom pria, tetapi lebih lebar dan memiliki angka kegagalan yang tinggi.
    Kondom
    Kondom  wanita
    B. Diafragma.
    Diafragma merupakan plastik berbentuk kubah dengan sabuk yang lentur, dipasang pada serviks dan menjaga agar sperma tidak masuk ke dalam rahim.
    Ukurannya bervariasi dan harus dicocokkan oleh dokter atau perawat.
    Pemakaiannya harus selalu bersamaan dengan krim atau jeli.
    Diafragma dipasang sebelum melakukan hubungan seksual dan tetap terpasang sampai minimal 8 jam tetapi tidak boleh lebih dari 24 jam.
    Ukuran diafragma harus diganti jika:
    - terjadi penambahan atau penurunan berat badan sebanyak lebih dari 5 kg
    - diafragma telah dipakai selama lebih dari 1 tahun
    - baru melahirkan anak atau mengalami aborsi,
    karena ukuran dan bentuk vagina mungkin mengalami perubahan.
    Diagragma
    Penutup leher rahim
    C. Penutup serviks (leher rahim).
    Penutup serviks (cervical cap) hampir menyerupai diafragma tetapi ukurannya lebih kecil dan lebih kaku, dipasang pada serviks.
    Ukurannya bervariasi dan harus dicocokkan oleh dokter atau perawat.
    Pemakaian penutup serviks harus selalu bersamaan dengan krim atau jeli.
    Penutup serviks dipasang sebelum melakukan hubungan seksual dan tetap terpasang sampai minimal 8 jam dan maksimal 48 jam sesudah melakukan hubungan seksual.
    D. Sediaan untuk menghentikan atau membunuh sperma atau disebut juga spermisida(dalam bentuk busa, krim, jel dan suppositoria yang dimasukkan ke dalam vagina)
    Busa, krim, jeli dan suppositoria vagina dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual.
    Selain mengandung spermisida, bahan tersebut juga merupakan penghalang fisik untuk sperma.
  3. Penarikan penis sebelum terjadinya ejakulasiDisebut juga coitus interruptus.
    Pada metode ini, pria mengeluarkan/menarik penisnya dari vagina sebelum terjadinya ejakulasi (pelepasan sperma ketika mengalami orgasme).
    Metode ini kurang dapat diandalkan karena sperma bisa keluar sebelum orgasme juga memerlukan pengendalian diri yang tinggi serta penentuan waktu yang tepat.
  4. Metoda ritmikPada metoda ritmik, pasangan suami istri tidak melakukan hubungan seksual selama masa subur wanita.
    Ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) terjadi 14 hari sebelum menstruasi. Sel telur yang telah dilepaskan hanya bertahan hidup selama 24 jam, tetapi sperma bisa bertahan selama 3-4 hari setelah melakukan hubungan seksual. Karena itu pembuahan bisa terjadi akibat hubungan seksual yang dilakukan 4 hari sebelum ovulasi.  A. Metode ritmik kalender merupakan metode yang paling tidak efektif, bahkan untuk wanita yang memiliki siklus menstruasi yang teratur.
    Wanita sebaiknya mencatat siklusnya dalam 12 bulan terakhir. Untuk mengetahui saat tidak boleh melakukan hubungan seksual, dilakukan perhitungan berikut:
    (siklus terpendek – 18) dan (siklus terpanjang – 11).
    Contohnya, jika siklus seorang wanita dalam waktu 12 bulan terakhir berkisar antara 26-29 hari, maka 26-18=8 dan 29-11=18, artinya hubungan seksual tidak boleh dilakukan pada hari ke-8 sampai hari ke-18 setelah menstruasi.
    B. Pada metode temperatur, dilakukan pengukuran suhu basal (suhu ketika bangun tidur sebelum beranjak dari tempat tidur).
    Suhu basal akan menurun sebelum ovulasi dan agak meningkat (kurang dari 1? Celsius) setelah ovulasi.
    Hubungan seksual sebaiknya tidak dilakukan mulai dari menstruasi hari pertama sampai suhu basalnya meningkat.
    C. Pada metode lendir, masa subur wanita diketahui dengan mengamati lendir servikal, yang biasanya dikeluarkan dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih encer sesaat sebelum ovulasi.
    Hubungan seksual tidak boleh pada saat terjadinya peningkatan jumlah lendir servikal sampai 4 hari sesudahnya.
    C. Metoda simptotermal terdiri dari pengamatan perubahan lendir servikal dan suhu basal tubuh, juga gejala lainnya yang berhubungan dengan ovulasi (misalnya nyeri kram ringan pada perut bagian bawah).
    Metoda ini merupakan metoda yang paling dapat diandalkan.
  5. Kontrasepsi implanKontrasepsi implan adalah kapsul plastik yang mengandung progestin, yang bekerja dengan cara mencegah ovulasi dan menghalangi masuknya sperma melalui lendir serviks yang kental.
    6 kapsul dimasukkan ke bawah kulit lengan atas. Setelah diberi obat bius, dibuat sayatan dan dengan bantuan jarum dimasukkan kapsul implan. Tidak perlu dilakukan penjahitan.
    Kapsul ini melepaskan progestin ke dalam aliran darah secara perlahan dan biasanya dipasang selama 5 tahun.  Interaksi dengan obat lain jarang terjadi karena implan tidak mengandung estroggen.
    Efek samping yang utama adalah perdarahan tidak teratur atau sama sekali tidak terajdi menstruasi.
    Efek samping lainnya adalah sakit kepala dan penambahan berat badan.
    Kapsul implan tidak larut dalam tubuh sehingga setelah 5 tahun harus dilepaskan.
    Segera setelah implan dilepas, fungsi ovarium akan kembali normal dan wanita pemakai implan kembali menjadi subur.
  6. Kontrasepsi suntikanMedroksiprogesteron (sejenis progestin) disuntikkan 1 kali/3 bulan ke dalam otot bokong atau lengan atas.
    Suntikan ini sangat efektif tetapi bisa mengganggu siklus menstruasi. Sepertiga pemakai KB suntik tidak mengalami menstruasi pada 3 bulan setelah suntikan pertama dan sepertiga lainnya mengalami perdarahan tidak teratur dan spotting (bercak perdarahan) selama lebih dari 11 hari setiap bulannya. Semakin lama suntikan KB dipakai, maka lebih banyak wanita yang tidak mengalami menstruasi tetapi lebih sedikit wanita yang mengalami perdarahan tidak teratur. Setelah 2 tahun memakai suntikan KB, sekitar 70% wanita sama sekali tidak mengalami perdarahan.
    Jika pemakaian suntikan KB dihentikan, siklus menstruasi yang teratur akan kembali terjadi dalam waktu 6 bulan-1 tahun.  Efeknya berlangsung lama, sehingga kesuburan mungkin baru kembali 1 tahun setelah suntikan dihentikan, tetapi Medroksiprogesteron tidak menyebabkan kemandulan permanen.
    Suntikan KB bisa menyebabkan penambahan berat badan yang sifatnya ringan. Setelah pemakaian dihentikan, bisa terjadi osteoporosis yang bersifat sementara.
    Medroksiprogesteron tidak menyebabkan meningkatnya resiko terhadap berbagai kanker (termasuk kanker payudara), tetapi mengurangi resiko terjadinya kanker rahim.
    Keuntungan memakai KB suntik:
    • Cocok untuk mencegah kehamilan atau menjarangkan kehamilan dalam jangka panjang dan kesuburan dapat pulih kembali
    • Tidak terpengaruh “faktor lupa” dari pemakai (tidak seperti memakai PIL KB)
    • Tidak mengganggu hubungan suami istri
    • Dapat dipakai segala umur pada masa reproduktif
    • Tidak mengganggu laktasi (menyusui), baik dari segi kuantitas maupun kualitas
    • Dapat dipakai segera setelah masa nifas
    • Meningkatkan kenyamanan hubungan suami-istri karena rasa aman terhadap risiko kehamilan
    • Dapat dipakai segera setelah keguguran
    • Membantu mencegah terjadinya kehamilan di luar kandungan
    • Membantu mencegah kanker endometrium (rahim)
    • Membantu mencegah kejadian mioma uteri (tumor jinak rahim)
    • Mungkin dapat mencegah kanker indung telur (ovarium)
    • Mengurangi kejadian anemi kekurangan zat besi
    • Khusus untuk penderita epilepsi mengurangi kejadian kejang.
Kekurangan KB suntikan: Kekurangan KB Suntikan: Efek sampingya terhadap siklus haid (menstruasi) sering “tidak menyenangkan” , namun tidak berbahaya dan bukan tanda kelainan/penyakit ; perubahan pola haid biasanya pada tahun pertama pemakaian yakni :

  • Perdarahan bercak , terjadi pada tahun pertama pemakaian
  • Jarang terjadi perdarahan yang banyak
  • Tidak dapat haid (sering setelah pemakaian berulang)
  • Sering menaikkan Berat Badan
  • Dapat menyebabkan (tidak pada semua akseptor) sakit kepala, nyeri payudara, “moodiness”, jerawat, kurangnya libido seksual, rambut rontok.
  • Perlu suntikan ulangan teratur
  • Perlu follow up (kontrol/kunjungan berkala) untuk evaluasi Secara UMUM, kebanyakan wanita BOLEH memakai KB suntik, meskipun:
    1. perokok berat
    2. menyusui
    3. gemuk atau kurus
    4. remaja
    5. baru keguguran
    6. Berpenyakit Tiroid
    7. Epilepsi
    8. TBC (bukan TBC kandungan)
    9. Varises ringan
    10. Hipertensi ringan
    11. Siklus haid tidak teratur
    12. Anemi kekurangan zat besi
    Interaksi dengan obat lain jarang terjadi.
  • IUD (intra uterine device, spiral).Keuntungan dari IUD adalah efek sampingnya terbatas di dalam rahim.
    Terdapat 2 macam IUD:
    - melepaskan progesteron (harus diganti setiap tahun)
    - melepaskan tembaga (efektif selama 10 tahun).  Biasanya IUD dipasang pada saat menstruasi. Jika kemungkinan terjadi infeksi serviks, masa pemasangan IUD sebaiknya ditunda sampai infeksi mereda.
    Cara kerja IUD adalah dengan menyebabkan reaksi peradangan di dalam rahim yang akan menarik datangnya sel-sel darah putih. Zat yang dihasilkan oleh sel darah putih ini merupakan racun bagi sperma sehingga tidak terjadi pembuahan sel telur.
    Melepaskan IUD akan menyebabkan terhentinya proses peradangan.
    Efek samping dari IUD:
    - Perdarahan dan nyeri
    - Kadang IUD terlepas dengan sendirinya (sekitar 20% IUD yang lepas tidak disadari/diketahui oleh pemakainya dan bisa menyebabkan kehamilan)
    - Perforasi rahim
    - Ketika baru dipasang akan terjadi infeksi singkat pada rahim, tetapi infeksi ini akan mereda setelah 24 jam
    - Resiko terjadinya keguguran pada wanita hamil dengan IUD yang masih terpasang adalah sekitar 55%. IUD
    STERILISASI
    Sterilisasi merupakan cara berkeluarga berencana yang sifatnya permanen.
    Sterilisasi pada pria dilakukan melalui vasektomi, sedangkan pada wanita dilakukan prosedur ligasi tuba.
    Vasektomi adalah pemotongan vas deferens (saluran yang membawa sperma dari testis).
    Vasektomi dilakukan oleh ahli bedah urolog dan memerlukan waktu sekitar 20 menit.
    Pria yang menjalani vasektomi sebaiknya tidak segera menghentikan pemakaian kontrasepsi, karena biasanya kesuburan masih tetap ada sampai sekitar 15-20 kali ejakulasi.
    Setelah pemeriksaan laboratorium terhadap 2 kali ejakulasi menunjukkan tidak ada sperma, maka dikatakan bahwa pria tersebut telah mandul.
    Komplikasi dari vasektomi adalah:
    - Perdarahan
    - Respon peradangan terhadap sperma yang merembes
    - Pembukaan spontan.
    Ligasi tuba adalah pemotongan dan pengikatan atau penyumbatan tuba falopii (saluran telur dari ovarium ke rahim).
    Pada ligasi tuba dibuat sayatan pada perut dan dilakukan pembiusan total.
    Ligasi tuba bisa dilakukan segera setelah melahirkan atau dijadwalkan di kemudian hari.
    Ligasi  tuba
    Sterilisasi pada wanita seringkali dilakukan melalui laparoskopi.
    Selain pemotongan dan pengikatan, bisa juga dilakukan kauterisasi (pemakaian arus listrik) untuk menutup saluran tuba.
    Untuk menyumbat tuba bisa digunakan pita plastik dan klip berpegas.
    Pada penyumbatan tuba, kesuburan akan lebih mudah kembali karena lebih sedikit terjadi kerusakan jaringan.
    Ligasi  tuba
    Ligasi  tuba
    Teknik sterilisasi lainnya yang kadang digunakan pada wanita adalah histerektomi(pengangkatan rahim) dan ooforektomi (pengangkatan ovarium/indung telur).
    • ABORSI Aborsi adalah pengguguran kandungan.
      Secara umum, kontrasepsi dan sterilisasi memiliki komplikasi yang lebih rendah dibandingkan dengan aborsi, terutama pada wanita muda.
      Karena itu kontrasepsi dan sterilisasi merupakan pilihan yang lebih baik untuk mencegah kehamilan dan aborsi sebaiknya dijadikan pilihan terakhir jika teknik lainnya yang lebih aman telah gagal dilakukan.
      Metoda aborsi terdiri dari:
      1. Evakuasi pembedahan : mengeluarkan isi rahim melalui vagina.
        Evakuasi pembedahan merupakan 97% dari aborsi dan hampir selalu dilakukan pada kehamilan yang berumur kurang dari 12 minggu.
        Digunakan teknik kuretase aspirasi.  Untuk kehamilan yang berusia 7-12 minggu, serviks biasanya harus dilebarkan terlebih dahulu (dilatasi) karena selang penghisapnya lebih besar.
        Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya cedera pada serviks, bisa digunakanlaminaria (akar rumput laut yang dikeringkan) atau dilator lainnya yang menyerap air. Laminaria dimasukkan ke dalam saluran servikal dan dibiarkan selama 4-5 jam, biasanya semalaman. Karena laminaria menyerap sejumlah air dari tubuh, maka laminaria akan mengembang dan menyebabkan peregangan lubang serviks.
        Untuk kehamilan yang berusia lebih dari 12 minggu teknik yang paling sering digunakan adalah D&E (dilatasi dan evakuasi). Alat penghisap dan forseps digunakan untuk mengeluarkan hasil pembuahan lalu dilakukan pengerokan rahim secara perlahan untuk memastikan bahwa seluruh jaringan telah dikeluarkan.
        Dilatasi dan evakuasi semakin banyak digunakan pada kehamilan lanjut untuk merangsang aborsi karena komplikasinya lebih ringan dibandingkan dengan pamekaian obat.
      2. Obat-obatan untuk merangsang kontraksi rahim sehingga isi rahim keluar.
        Obat-obatan (misalnya mifepriston/RU 486 dan prostaglandin) kadang digunakan untuk merangsang aborsi, terutama pada kehamilan diatas 16 minggu, karena pada saat ini D&E bisa menyebabkan komplikasi yang serius (seperti kerusakan rahim atau usus).
        RU 486 bisa digunakan segera setelah pembuahan.
        Prostaglandin adalah obat yang merangsang kontraksi usu, bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau suppositoria vagina. Efek sampingnya adalah mual, muntah, diare, kemerahan pada wajah dan pingsan. Pada beberapa wanita, prostaglandin bisa memicu suatu serangan asma.  Mifepriston dikombinasikan dengan prostaglandin sangat efektif untuk mengakhiri kehamilan yang berusia kurang dari 7 minggu.
        Obat ini menghalangi kerja progesteron di dalam lapisan rahim sehingga prostaglandin lebih efektif.
        Pil KB dosis tinggi kadang digunakan untuk mencegah kehamilan setelah melakukan 1 kali hubungan seksual tanpa alat kontrasepsi, tetapi tidak selalu efektif. Pil KB harus diminum dalam waktu 72 jam. Efek sampingnya adalah mual dan muntah.
      Komplikasi aborsi secara langsung berhubungan dengan umur kehamilan dan metoda yang digunakan. Semakin tua umur kehamilan, semakin besar resiko terjadinya komplikasi:
      - Perforasi rahim oleh alat bedah
      - Perforasi usus atau organ lainnya
      - Perdarahan selama atau segera setelah aborsi
      - Perdarahan tertunda karena adanya sisa plasenta di dalam rahim
      - Infeksi rahim
      - Pembentukan jaringan parut di dalam rahim.
    Categories:KBTags:, , , , , 

    Diafragma, Alat Kontrasepsi yang Tidak Biasa

    April 20, 20092 comments
    Kontrasepsi diafragma merupakan hal yang tidak biasa di Indonesia. Kontrasepsi ini adalah kontrasepsi barier yang tidak mengurangi kenikamatan berhubungan seksual karena terjadiskin to skin kontak antara penis dengan vagina dan dapat meningkatkan frekuensi sentuhan pada G Spot dalam. Sayangnya diafragma memiliki efektifitas yang paling rendah dibandingkan dengan alat kontrasepsi lainnya, selain itu pemasangannya harus oleh tenaga kesehatan dan harganya relatif lebih mahal. Bentuk dan pemasangannya adalah sebagai berikut :
    170491
    http://creasoft.wordpress.com/category/keperawatankesehatan-masyarakatkebidanan/kb/

Minggu, 15 Januari 2012

Askep Glaukoma

ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN GLAUKOMA

BAB I
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Glaukoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa tekanan intra okuler penggaungan pupil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.
Glaukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intra okuler. (Long Barbara, 1996)

B. Klasifikasi
1. Glukoma primer
Glukoma sudut terbuka terjadi karena tumor aqueus mempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular kelainannya berkenang lambat.
Glaukoma sudut tertutup
Glaukoma sudut tertutup terjadi karena ruang anterior menyempit, sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqoeus mengalir ke saluran schlemm.
2. Glaukoma sekunder
Glaukoma yang terjadi akibat penyakit mata lain yang menyebabkan penyempitan sudut / peningkatan volume cairan dari dalam mata dapat diakibatkan oleh : perubahan lensa
Kelainan uvea
Trauma
Bedah
3. Glaukoma kongenital
Glaukoma yang terjadi akibat kegagalan jaringan mesodermal memfungsikan trabekular.
4. Glaukoma absolut
Merupakan stadium akhir, sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut.

Berdasarkan lamanya :
1. Glaukoma akut
Penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intra okuler yang meningkat mendadak sangat tinggi.
2. Glaukoma kronik
Penyakit mata dengan gejala peningkatan tekanan bola mata sehingga terjadi kerusakan anatomi dan fungsi mata yang permanen.
C. Anatomi dan Fisiologi
Di dalam terdapat dua macam cairan :
1. Aqueus humor
Cairan ini berada di depan lensa.
2. Vitreus humor
Cairan penuh albumin berwarna keputih – putihan seperti agar – agar yang berada dibelakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina. (Evelin C Pearce : 317)
Dalam hal ini cairan yang mengalami gangguan yang dihubungkan dengan penyakit glaukoma adalah aqueus humor, dimana cairan ini berasal dari badan sisiari mengalir ke arah bilik anterior melewati iris dan pupil dan diserap kembali kedalam aliran darah pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran schlemm. (Evelin C. Pearce : 317).
Secara normal TIO 10 -21 mmHg karena adanya hambatan abnormal terhadap aliran aqueus humor mengakibatkan produksi berlebih badan silier sehingga terdapat cairan tersebut. TIO meningkat kadang – kadang mencapai tekanan 50 – 70 mmHg.

D. ETIOLOGI
1. Primer
Terdiri dari
a. Akut
Dapat disebabkan karena trauma.
b. Kronik
Dapat disebabkan karena keturunan dalam keluarga seperti :
 Diabetes mellitus
 Arterisklerosis
 Pemakaian kortikosteroid jangka panjang.
 Miopia tinggi dan progresif.
Dari etiologi diatas dapat menyebabkan sudut bilik mata yang sempit.
2. Sekunder
Disebabkan penyakit mata lain seperti :
 Katarak
 Perubahan lensa
 Kelainan uvea
 Pembedahan

E. Manifestasi Klinis
1. Glaukoma primer
a. Glaukoma sudut terbuka
- Kerusakan visus yang serius
- Lapang pandang mengecil dengan macam – macam skotoma yang khas
- Perjalanan penyakit progresif lambat
b. Glaukoma sudut tertutup
- Nyeri hebat didalam dan sekitar mata
- Timbulnya halo disekitar cahaya
- Pandangan kabur
- Sakit kepala
- Mual, muntah
- Kedinginan
- Demam bahkan perasaan takut mati mirip serangan angina, yang dapat sedemikian kuatnya sehingga keluhan mata (gangguan penglihatan, fotofobia dan lakrimasi) tidak begitu dirasakan oleh klien.
2. Glaukoma sekunder
- Pembesaran bola mata
- Gangguan lapang pandang
- Nyeri didalam mata
3. Glaukoma kongenital
- Gangguan penglihatan
(Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata, hal 147 – 150)

F. Patofisiologi
Tekanan Intra Okuler ditentukan oleh kecepatan produksi akues humor dan aliran keluar akues humor dari mata. TIO normal 10 – 21 mmHg dan dipertahankan selama terdapat keseimbangan antara produksi dan aliran akueos humor. Akueos humor di produksi didalam badan silier dan mengalir ke luar melalui kanal schlemm ke dalam sistem vena. Ketidakseimbangan dapat terjadi akibat produksi berlebih badan silier atau oleh peningkatan hambatan abnormal terhadap aliran keluar akueos melalui camera oculi anterior (COA). Peningkatan tekanan intraokuler > 23 mmHg memerlukan evaluasi yang seksama. Iskemia menyebabkan struktur ini kehilangan fungsinya secara bertahap. Kerusakan jaringan biasanya dimulai dari perifer dan bergerak menuju fovea sentralis. Kerusakan visus dan kerusakan saraf optik dan retina adalah ireversibel dan hal ini bersifat permanen tanpa penangan, glaukoma dapat menyebabkan kebutaan. Hilangnya penglihatan ditandai dengan adanya titik buta pada lapang pandang.
(Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata, hal 147 – 150)



ASUHAN KEPERAWATAN GLAUKOMA


A. Pengkajian
1. Anamnesis
Anamnesis meliputi data demografi, yang meliputi :
 Umur, glaukoma primer terjadi pada individu berumur > 40 tahun.
 Ras, kulit hitam mengalami kebutaan akibat glaukoma paling sedikit 5 kali dari kulit putih (dewit, 1998).
 Pekerjaan, terutama yang beresiko besar mengalami trauma mata.
Selain itu harus diketahui adanya masalah mata sebelumnya atau pada saat itu, riwayat penggunaan antihistamin (menyebabkan dilatasi pupil yang akhirnya dapat menyebabkan Angle Closume Glaucoma), riwayat trauma (terutama yang mengenai mata), penyakit lain yang sedang diderita (DM, Arterioscierosis, Miopia tinggi)
Riwayat psikososial mencakup adanya ansietas yang ditandai dengan bicara cepat, mudah berganti topik, sulit berkonsentrasi dan sensitif, dan berduka karena kehilangan penglihatan. (Indriana N. Istiqomah, 2004)
2. Pemeriksaan Fisik
a. Neurosensori
 Gangguan penglihatan (kabur/ tidak jelas), sinar terang dapat menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa diruang gelap (katarak), tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotfobia (galukoma akut) bahan kaca mata/ pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
 Tanda : pupil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berwarna, peningkatan air mata.(www.IFC.com)
 Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan oftalmaskop untuk mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. Diskus optikus menjadi lebih luas dan dalampada glaukoma akut primer, karena anterior dangkal, Aqueus humor keruh dan pembuluh darah menjalar keluar dari iris.
 Pemeriksaan lapang pandang perifer, pada keadaan akut lapang pandang cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik akan menurun secara bertahap.
 Pemeriksaan melalui inspeksi, untuk mengetahui adanya inflamasi mata, sklera kemerahan, kornea keruh, dilatasi pupil, sedang yang gagal bereaksi terhadap cahaya (Indriana N. Istiqomah,2004)
b. Nyeri/ kenyamanan
 Ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis0
 Nyeri tiba- tiba / berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut). (www. IFC.com).
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kartu snellen / mesin telebinoklear
Digunakan untuk mengetahui ketajaman mata dan sentral penglihatan
b. Lapang penglihatan
Terjadi penurunan disebabkan oleh CSV, masa tumor pada hipofisis / otak, karotis / patofisiologis, arteri serebral atau glaukoma.
c. Pengukuran tonografi
Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12 – 25 mmHg)
d. Pengukuran gonoskopi
Membantu membedakan sudut terbuka dan sudut tertutup
e. Tes provokatif
Digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal / hanya meningkat ringan.
f. Pemeriksaan aftalmoskop
Menguji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina dan mikroaneurisma.
g. Darah lengkap, LED
Menunjukkan anemia sistemik / infeksi
h. EKG, kolesterol serum dan pemeriksaan lipid
Memastikan arterosklerosis, PAK
i. Tes toleransi glukosa
Menentukan adanya DM

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan hilangnya pandangan perifer
3. Gangguan citra diri berhubungan dengan kebutaan
C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
Tujuan : nyeri terkontrol / tulang
Kriteria hasil :
 Pasien mengatakan nyeri berkurang / hilang
 Ekspresi wajah rileks
 Pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri.
Intervensi :
a. Observasi derajat nyeri mata
Rasional : mengidentifikasi kemajuan / penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
b. Anjurkan istirahat di tempat tidur dalam ruangan yang tenang
Rasional : stress mental / emosi menyebabkan peningkatan TIO
c. Ajarkan pasien teknik distraksi
Rasional : membantu dalam penurunan persepsi / respon nyeri
d. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program
Rasional : untuk mengurangi nyeri
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan hilangnya pandangan perifer
Tujuan : Penggunaan penglihatan yang optimal
Kriteria hasil :
 Pasien berpartisipasi dalam program pengobatan
 Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan lebih lanjut.
Intervensi :
a. Kaji derajat / tipe kehilangan penglihatan
Rasional : mengetahui harapan masa depan klien dan pilihan intervensi.
b. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan.
Rasional : intervensi dini untuk mencegah kebutaan, klien menghadapi kemungkinan / mengalami kehilangan penglihatan sebagian atau total.
c. Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, mengikuti jadwal, tidak salah dosis.
Rasional : Mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lebih lanjut
d. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, misalnya agen osmotik sistemik.
Rasional : untuk mengurangi TIO
3. Resiko cedera berhubungan dengan kebutaan
Tujuan : peningkatan lapang pandang optimal
Kriteria hasil :
Tidak terjadi cedera.
Intervensi :
a. Bersihkan sekret mata dengan cara benar.
Rasional : sekret mata akan membuat pandangan kabur.
b. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata yang terlibat.
Rasional : terjadi penurunan tajam penglihatan akibat sekret mata.
c. Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap
Rasional : mengurangi fotofobia yang dapat mengganggu penglihatan klien.
d. Perhatikan keluhan penglihatan kabur yang dapat terjadi setelah penggunaan tetes mata dan salep mata
Rasional : membersihkan informasi pada klien agar tidak melakukan aktivitas berbahaya sesaat setelah penggunaan obat mata.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawata Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif.1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid 1. Jakarta : FKUI.