Sahabatku pUnkmore

Sahabatku pUnkmore
saHabat untuk sLamanya

Rabu, 30 November 2011

Mereka Bilang Saya “Pembantu” :)

Teman-teman.. Ini tulisan yg saya rasa sangat baik! Mohon izin untuk  share, tela’ah bagi kita semua :) Selamat menyimak..
“Telah genap 2 tahun saya menekuni kuliah di bidang ini.
bidang yang menurut orang-orang adalah bidang yang hanya mencetak “pembantu-pembantu” berkedok medis yang nantinya hanya bekerja untuk membersihkan pup pasien, membersihkan muntahan dan memandikan mereka.
ya. terserahlah.
ngomong-ngomong, hampir 3 minggu kebelakang ini saya sedang menikmati libur semester di kampung halaman tercinta menikmati hari-hari yang panjang tanpa tugas tugas kuliah yang setiap hari menggerogoti waktu tidur dan waktu main saya.
sesekali saya berkunjung ke rumah kerabat dan sahabat-sahabat dekat.
senang rasanya bertemu dengan orang orang yang saya cintai dan yang jarang sekali saya temui. bahkan mungkin terakhir kali saya melihat wajah-wajah mereka setahun yang lalu, ketika idul fitri. tapi beberapa orang yang saya datangi telah menggores perasaan saya dengan “jarum panas” atau “pisau yang terlebih dahulu telah dicelupkan ke air garam” atau mungkin “besi tempa dengan suhu 176852 farenheit”.
saya kira pertanyaan dan pernyataan itu telah lama terkubur 2 tahun yang lalu pasca saya mengambil bidang ini di universitas.
saya kira orang-orang yang saya datangi dengan tulus tidak akan setega ini melontarkan kalimat yang seharusnya mereka pun tahu kalau itu tidak patut diungkapkan di depan saya.
pertama-tama kebanyakan dari mereka bertanya : “shindy di unpad ya? keperawatan ya?”
dan saya pun menjawab dengan semangat “iya mbak/mas/tante/om/bu/pak.. alhamdulillah :) ” dan pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang mudah sekali ditebak.
pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya seharusnya tidak mereka tanyakan kepada saya. pernyataan pernyataan yang tidak seharusnya mereka ungkapkan di depan saya..
pertanyaan pertama :
“kenapa sih ambil di unpad segala???? kan banyak disini juga keperawatan. sama aja! “
pertanyaan kedua :
“iiiiih jadi perawat nanti nyebokin orang dong??? mandiin orang ya??? iiih”
pertanyaan ketiga :
“kenapa sih ke keperawatan?? kenapa ga di kedokteran aja???? tanggung amat deh. kan gajinya kecil!”
teman-teman, beberapa detik pasca mendengarkan pertanyaan mereka saya hanya tertawa geli atau tersenyum kecut. saya tidak tertawa untuk menyembunyikan perasaan sedih saya. saya hanya tertawa karena saya berpikir :
“mengapa banyak orang yang masih begitu picik pikirannya?”
“mengapa masih banyak diantara mereka yang belum memiliki wawasan tentang karir di bidang ini dan sebuah reputasi dan prestasi tempat saya mengambil bidang ini?
apakah mereka belum pernah dengar ada yang disebut dengan ‘internet’ di dunia ini untuk mencari informasi?”
“mengapa banyak orang yang seolah-olah menghina bidang ini padahal mereka pun belum tentu lebih baik daripada orang-orang yang sama dengan saya, yang juga mengambil bidang ini?”
sebenarnya saya malas memberikan jawaban untuk pertanyaan yang tidak patut ini. tapi hanya karena mereka-yang mengajukan pertanyaan pertanyan itu-adalah orang-orang yang saya cintai, maka sedikitnya akan saya jawab :
“kenapa sih ambil di unpad segala???? kan banyak disini juga keperawatan. sama aja! “
(sebelumnya dengan segala hormat, saya tidak bermaksud menyinggung dan merendahkan institusi manapun) pertama-tama, terimakasih kepada orang-orang yang melontarkan pertanyaan ini. terimakasih untuk telah mencoba membuat saya merasa menyesal telah mengambil kuliah yang lebih jauh padahal di kampung halaman sayapun ada institusi dengan bidang yang sama dengan bidang ini. mungkin anda berfikir saya hanya bisa menghamburkan uang orang tua saya. terimakasih telah dengan teganya mementahkan hasil jerih payah saya untuk lulus dengan baik di ujian masuk universitas ini, dimana ketika sebelum ujian dilaksanakan saya telah berusaha sekuat tenaga, pulang larut malam dan sangat sangat sering kehujanan di atas motor saya hanya untuk mengambil kelas tambahan malam di tempat les, membawa buku-buku setiap bermain dan selalu membacanya di sela-sela waktu bermain saya, bahkan mungkin jatuh sakit sesudah tes karena tidak tidur beberapa hari sebelum tes untuk mengulang pelajaran. ya. tentu saya tahu benyak sekali institusi yang menawarkan bidang ini. dengan tawaran dan janji-janji karir yang manis sekali.. tapi salahkah ketika saya mempunyai sebuah mimpi dan saya ingin orang-orang terbaiklah yang akan menggodok saya untuk meraih mimpi itu, di sebuah institusi dimana jurusan keperawatannya adalah yang terbaik ke-2 se-Indonesia setelah UI. salahkah? salahkah saya yang bekerja keras untuk mendapatkan salah satu pendidikan terbaik itu?????
maka saya balikkan pertanyaannya kepada anda.
salahkah saya?
“iiiiih jadi perawat nanti nyebokin orang dong??? mandiin orang ya??? iiih”
sekali lagi terimakasih. kali ini untuk persepsi anda yang telah menghina dan merendahkan profesi kami. tepuk tangan! :) apakah hanya hal-hal itu yang anda ingat dari seorang suster yang baik dan ramah ketika merawat anda? pernahkah anda ingat ketika anda atau saudara anda sakit kemudian harus melewati masa rawat inap, lalu mereka memasangkan infus kepada anda untuk rehidrasi agar keadaan anda cepat kembali pulih? pernahkah anda ingat mereka yang menyuntikkan obat di tangan anda atau di selang infus anda ketika anda sakit dan tidak berdaya? pernahkah anda ingat mereka yang menenangkan anda dan memberikan informasi yang benar ketika anda ketakutan dengan penyakit yang anda alami? pernahkah anda ingat bahwa merekalah yang setia mendampingi anda untuk menjaga kondisi anda tetap stabil saat dokter sulit sekali ditemui dan sudah lama tidak datang memeriksa anda? dan apakah anda tahu. mereka-perawatlah yang berjuang memberikan saran pengobatan yang lebih baik untuk anda kepada dokter ketika seorang dokter diperkirakan menawarkan metode penanganan yang kurang tepat yang justru akan memperparah keadaan anda? apakah anda tahu merekalah-para perawat yang berjuang memberi tahu dokter tentang kekurangan-kekurangan anda untuk membayarkan obat yang mahal sekali harganya dan menanyakan apakah ada alternatif lain yang sama baiknya dengan terapi yang disarankan dokter tapi bisa anda jangkau? apakah anda tahu bahwa banyak sekali puskesmas yang sulit mendapatkan jasa seorang dokter dan perawatlah yang sesungguhnya menangani anda 100% sampai memilihkan dan memberikan obat demi kesembuhan anda?? padahal itu menyimpang dari peraturan pemerintah dan mereka bisa saja dipenjarakan karena memberikan obat kepada anda demi kesembuhan anda karena tidak ada seorangpun dokter yang bisa datang menangani anda??? lalu kenapa yang anda ingat hanya ketika mereka membersihkan muntahan anda, menceboki anda, atau memandikan anda? memang benar. perawat memandikan pasien. memang benar perawat kadang menceboki pasien. memang benar kadang perawat membersihkan muntahan pasien.
lalu kenapa???
adakah yang salah???
apa hanya karena itu kami dikatai pembantu???
perawat berusaha membantu anda memenuhi kebutuhan dasar yang tidak dapat anda penuhi sendiri ketika anda tidak berdaya karena sakit perawat adalah tonggak terdepan yang mengetahui kondisi anda secara keseluruhan. perawat yang mengetahui keadaan anda selama 24 jam. dan setelah itu semua, anda menghina profesi seorang perawat???
setelah perawat begitu besarnya mencurahkan tenaga demi kesembuhan anda???
apakah anda tidak merasakan bahwa pekerjaan perawat itu sungguh mulia???
sama halnya ketika anda jatuh ke sebuah lembah, lalu seseorang menolong anda, dan anda malah mendorong penolong anda itu sampai ia terperosok ke dalam lembah. bejatnya anda bukan?
silahkan pikir sendiri. terimakasih :)
“kenapa sih ke keperawatan?? kenapa ga di kedokteran aja???? tanggung amat deh. kan gajinya kecil!”
(dengan segala hormat,saya tidak bermaksud merendahkan profesi manapun) saya sama dengan anda. manusia yang mempunyai mimpi. dan saya mempunyai mimpi yang saya pilih sendiri. lalu kenapa harus membandingkan profesi ini dengan profesi lain???
ketika saya kecil (mungkin juga terjadi ketika anda kecil) saya ingin sekali menjadi seorang dokter. ingin sekali. saya sampai memiliki mainan dokter-dokteran yang sangat lengkap saking inginnya. tapi lambat laun setelah saya dewasa dan mengerti, saya tahu bahwa profesi yang saya impikan itu bukan satu-satunya profesi yang layak dijadikan mimpi. dan sebelum saya menentukan bidang ini yang saya ambil,saya telah mempertimbangkannya dengan sangat matang.
sampai-sampai kami sekeluarga melakukan rapat keluarga besar. dan pilihanpun jatuh di bidang ini. saya tidak menyesal memilih bidang ini karena saya tahu kesempatan-kesempatan yang bisa saya dapat di bidang ini. tahukah bahwa kami para calon perawat dididik selayaknya paramedis lain?? kurikulum kami hampir sama dengan kurikulum pendidikan dokter. kami belajar tentang kardiovaskular, respirasi, integumen, muskoloskeletal, endokrin, urinari, gastrointestin, reproduksi, komunitas, persyarafan, dan lain sebagainya. kami juga belajar tentang farmakologi : tentang obat-obatan, kandungan di dalamnya, dan kegunaannya.. , kami bahkan belajar mengenai psikologi, hukum, ilmu pengetahuan umum, olah raga dan seni.
kami diuji dengan sangat ketat setiap semesternya. kami sering diberikan ujian standar soca (ujian lisan yang mirip sekali dengan ujian skripsi) ; satu orang mahasiswa diuji oleh dua dosen sekaligus di dalam suatu ruang tutor. kami harus paham setiap alur patofisiologi dan memberikan solusi berupa asuhan keperawatan. kami membuat resume kasus setiap akhir minggu sampai sering membuat kami tidak bisa pergi keluar untuk bermain seperti teman-teman kami yang lain.
kami calon-calon perawat terbaik ditempa di sebuah kawah candradimuka untuk menyongsong masa depan kami sebagai perawat yang kritis dan cerdas.
tahukah anda bahwa kami sarjana keperawatan tidak hanya bisa bekerja di rumah sakit??
kami bisa menjadi seorang perawat pendidik di institusi-institusi keperawatan
kami bisa bekerja di ASKES dan perusahaan perusahaan kesehatan lainnya kami bisa bekerja di pabrik sebagai staff K3 dan sebagai konsultan kesehatan
kami bisa bekerja di bank-bank negeri dan swasta yang tersebar di seluruh indonesia
kami bisa bekerja menjadi seorang politisi wakil dari kelompok cendekiawan dan masih banyak lagi lapangan kerja yang membutuhkan tenaga kami para perawat.
tahukah anda bahwa perawat indonesia adalah perawat perawat yang paling disukai di dunia karena ketelatenan dan keramahannya?
tahukah bahwa peluang kami para perawat indonesia sangat besar di pasar luar negeri?? bahwa peluang terbesar untuk TKI berkeahlian khusus adalah perawat BUKAN YANG LAIN???
tahukah anda bahwa banyak sekali perawat indonesia yang mendapatkan beasiswa untuk gelar master dan doktoral di luar negeri sana?
tahukah bahwa pendapatan kami bisa saja melebihi pendapatan profesi lain??
tahukah anda bahwa gaji perawat di jepang berkisar antara 11-18 juta perbulan, di amerika perawat dapat digaji 60 juta perbulan. di timur tengah sekitar 25-30 juta perbulan???
di Indonesia perawat PNS mendapatkan sekitar Rp 4juta perbulannya. lalu apa yang membuat posisi kami sangat rendah di mata anda????
apakah yang anda ingat adalah perawat-perawat dengan gaji 500rb perbulannya?
baiklah,memang banyak perawat yang digaji dengan jumlah yang sedikit. 500 ribu,bahkan kurang dari itu. dari informasi yang saya dapatkan, kemungkinan jumlah gaji itu adalah gaji perawat honorer perbulan. lalu apa bedanya perawat honorer dengan profesi lain yang honorer????
bukankah semuanya sama????
mengapa hanya profesi kami yang diidentikkan dengan gaji murah?
apakah anda adalah jenis orang yang menyamaratakan semua jenis perawat???
kalau iya, saya turut prihatin.. betapa piciknya anda! betapa pikiran anda dikotak-kotakkan dengan asumsi primitif itu. banyak buku. bacalah! ada internet yang dapat memberi tahu anda. pergunakanlah! zaman kini sudah berubah.
profesi kami telah berkembang sedemikian pesatnya. dan asumsi anda masih jalan di tempat seperti kenyataan pada tahun 1969. saya sungguh prihatin. keahlian seseorang tentu berbeda-beda. tingkat kemampuannya juga tentu berbeda-beda. jangankan perawat.. dokter,arsitek,lawyer,hakim,atau apapun profesinya.. apabila ia tidak memiliki cukup kemampuan (kemampuan dalam arti yang luas)
bisa saja mereka tidak mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang cukup setiap bulannya. bahkan banyak diantaranya menganggur! yang membedakan hasil kerja setiap orang adalah keinginannya untuk berusaha dan pencapaian tertingginya setelah berusaha dengan sekuat tenaga kita sama! keadaan kita adalah sama! lalu kenapa profesi kami yang diidentikkan dengan itu semua?? begitu picikkah pemikiran manusia di abad ini? ironis sekali……………….
TAPI… dari pertanyaan dan pernyataan orang-orang itu saya jadi bisa mengintrospeksi diri saya sendiri. saya kini tahu bahwa menghargai orang adalah penting. menghargai pilihan orang lain adalah penting. saya kini tahu bahwa asumsi umum belum tentu adalah fakta yang benar, maka jangan berbicara tentang sesuatu apabila pengetahuan anda tentang sesuatu itu belum cukup banyak. saya kini tahu bahwa seseorang harus berpikir dua bahkan sepuluh kali untuk bertanya atau mengeluarkan pernyataan yang bisa menyinggung mereka (yang bahkan belum tentu benar-benar keadaan mereka) saya kini tahu bahwa kadang-kadang pertanyaan dan pertanyaan yang kita sampaikan secara sengaja ataupun tidak bisa saja menyinggung orang lain, maka sebelum berkata pikirkanlah dulu bagaimana apabila kita ada di posisi mereka. belajarlah berempati demi dirimu sendiri. siapa tahu orang-orang yang anda katai nyatanya lebih baik daripada anda. untuk orang orang yang merasa pernah bertanya seperti itu kepada kami, jangan lakukan lagi kepada orang lain. bertanya untuk informasi mungkin akan lebih baik, karena dengan bertanya tentu pengetahuan anda akan bertambah dan anda akan mengetahui keadaan yang sesungguhnya. terakhir.. untuk orang2 yang sudah men-judge kami sebagai “pembantu dokter”, saya ingin menginformasikan bahwa kami bukanlah pembantu dokter. kami perawat adalah MITRA dokter yang melakukan diskusi untuk memberikan penanganan terbaik demi kesembuhan anda. yang mengadvokasikan anda apabila sesuatu terjadi pada anda di lingkungan kami. yang menangani anda sebagai individu yang utuh secara bio-psiko-sosial. kami tidak bergerak karena disuruh. kami bergerak dengan naluri care kami untuk mengabdi. kami bahagia menjadi perawat. dan kami bangga. mohon maaf untuk setiap kata-kata saya yang salah. maaf apabila saya terlalu lancang dan arogan saya hanya manusia biasa yang bisa tersinggung dan ingin mencurahkan perasaan saya. mungkin beberapa rekan-rekan saya pernah mengalami hal serupa. semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. terimakasih

Oleh :
Uswatun Hasanah
10111546

Penyakit Rematik Bukan Disebabkan Sering Mandi Malam


Penyakit Rematik Bukan Disebabkan Sering Mandi MalamPenyakit rematik tidak semuanya disebabkan mandi pada malam hari dengan air dingin. Bahwa rematik asalah penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia juga teryata pandangan yang salah. Cari tahu fakta-fakta lain seputar penyakit rematik yang dirangkum oleh para ahli dari Pfizer dengan membaca artikel ini.

Berikut fakta-fakta seputar penyakit rematik:


Mitos: Rematik hanya menyerang orang berusia lanjut.

Fakta: Penyakit rematik bisa menyerang semua orang, tidak mengenal usia dan jenis kelamin. Biasanya rematik memang menyerang orang dengan usia di atas 45 tahun. Namun, orang yang lebih muda juga bisa kena, bahkan ditemukan kasus bayi yang terkena rematik. Penyakit rematik pada anak dikenal dengan sebutan juvenile rheumatoid arthirtis.

Mitos: Penyakit rematik adalah penyakit tulang.

Fakta: Rematik adalah penyakit yang menyerang persendian tulang. Penyakit ini terdiri dari ratusan jenis, termasuk osteoartritis (pengapuran), lupus, dan artritis rematoid. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan rematik menyerang daerah lain, seperti jaringan ikat dan otot.

Mitos: Sering mandi malam dan udara dingin sebabkan rematik.

Fakta: Secara patologis, tidak ada kaitan antara mitos ini dan penyakit rematik. Namun, air atau udara dingin akan menyebabkan kapsul sendi mengerut. Hal ini tentu bisa menambah rasa nyeri pada persendian pasien rematik. Sebaiknya penderita rematik memang mandi air hangat untuk mengurangi rasa sakit pada persendiannya.

Mitos: Antibiotik diperlukan untuk mengatasi sendi yang bengkak.

Fakta: Antibiotik hanya digunakan pada jenis rematik yang disebabkan infeksi. Meski sendi terlihat membengkak dan merah, antibiotik tidak diberikan secara rutin.

Mitos: Makan jeroan menyebabkan rematik.

Fakta: dari sekitar 100 jenis rematik, hanya yang berkaitan dengan makanan seperti jeroan atau seafood, yaitu artritis gout atau asam urat.

Mitos: Sakit tulang pada malam hari adalah gejala rematik.

Fakta: Faktanya, gejala-gejala yang umumnya terjadi pada penderita rematik adalah pegal-pegal dan peradangan pada sendi (kemerahan, bengkak, terasa panas, dan sulit digerakkan). Gejala ini tidak terbatas pada malam hari dan bisa menyerang setiap saat.

Mitos: Makan bayam dan kangkung sebabkan rematik.

Fakta: Tidak ada hasil penelitian yang menghubungkan antara kedua jenis sayuran ini dan risiko rematik. Kalaupun ada, yang harus dihindari untuk mencegah rematik asam urat adalah makanan yang bisa memicu purin, seperti jeroan, seafood, atau alkohol.

Oleh :
USWatun Hasanah
10111546

Peran Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan Keamanan


Peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan keamanan dapat berperan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung perawat dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami masalah terkait dengan ketidakterpenuhinya kebutuhan keamanan. Adapun peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan keamanan adalah sebagai berikut:
  1. Pemberi Perawatan Langsung (care giver); perawat memberikan bantuan secara langsung pada klien dan keluarga yang mengalami masalah terkait dengan kebutuhan keamanan.
  2. Pendidik; perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga agar klien dan keluarga melakukan program asuhan kesehatan keluarga terkait dengan kebutuhan keamanan secara mandiri, dan bertanggung jawab terhadap masalah keamanan keluarga.
  3. Pengawas Kesehatan; perawat harus melakukan ”home visit” atau kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau melakukan pengkajian tentang kebutuhan keamanan klien dan keluarga.
  4. Konsultan; perawat sebagai nara sumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah keamanan keluarga. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat maka hubungan perawat-keluarga harus dibina dengan baik, perawat harus bersikap terbuka dan dapat dipercaya.
  5. Kolaborasi; perawat juga harus bekerja sama dengan lintas program maupun secara lintas sektoral dalam pemenuhan kebutuhan keamanan keluarga untuk mencapai kesehatan dan keamanan keluarga yang optimal.
  6. Fasilitator; perawat harus mampu menjembatani dengan baik terhadap pemenuhan kebutuhan keamanan klien dan keuarga sehingga faktor risiko dalam ketidakpemenuhan kebutuhan keamanan dapat diatasi.
  7. Penemu Kasus/Masalah; perawat mengidentifikasi masalah keamanan secara dini, sehingga tidak terjadi injuri atau risiko jatuh pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan keamanannya.
  8. Modifikasi Lingkungan; perawat harus dapat memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun lingkungan masyarakat agar tercipta lingkungan yang sehat dalam menunjang pemenuhan kebutuhan keamanan.

    Oleh :
    USwatun Hasanah
    10111546

Asuhan Keperawatan Ulkus Peptikum


ULKUS PEPTIKUM

A. KONSEP DASAR

1. DEFINISI

Ulkus peptikum adalah suatu gambaran bulat atau semi bulat/oval pada permukaan mukosa lambung sehingga kontinuitas mukosa lambung terputus pada daerah tukak.

2. ETIOLOGI

Ulkus peptikum biasanya disebabkan oleh hipersekresi asam lambung, namun ini hanya merupakan salah satu faktor penyebab. Ulkus peptikum bisa pula disebabkan oleh:
 Dekstruksi mukosa lambung
 Obat-obatan (aspirin)
 Zat-zat perangsang (alkohol/kafein)
 Stress, emosi
 Helicobacter pylori

3. MANIFESTASI KLINIK

Gambaran klinis utama Ulkus peptikum adalah nyeri opigastrium yang intermittent, yang secara khas akan mereda setelah makan atau menelan antasida. Nyeri timbul 2 sampai 3 jam setelah makan atau pada malam hari sewaktu lambung keadaan kosong. Nyeri ini seringkali digambarkan nyeri teriris, terbakar atau rasa tidak nyaman. Remisi dan ekasorbasi merupakan ciri yang begitu khas sehingga nyeri di abdomen atas yang persisten.

Biasanya penderita tukak lambung akan mengalami penurunan BB secara umum penderita tukak gaster. Biasanya mengeluh dyspepsia. Dyspepsia adalah suatu sindrom keluhan beberapa penyakit saluran cerna seperti mual, muntah, kembung, rasa penuh ulu hati, cepat merasa kenyang.

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang adalah pemeriksaan radiogram dan barium.

B. ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN

 Wawancara
 Riwayat Kesehatan Saat Ini
 Riwayat Kesehatan Masa Lalu
 Riwayat Kesehatan Keluarga
 Riwayat Psikososial Keluarga
 Kebutuhan Dasar (pola makan, pola minum, pola eliminasi BAK, pola tidur, pola eliminasi BAB, aktivitas sehari-hari).
 Pemeriksaan Fisik (keadaan umum, kulit, kepala, mata, leher, mulut dan tenggorokan, hidung, dada, sistem pernafasan, sistem endokrin, sistem gastrointestinal, sistem musculoskeletal, sistem neurologi, sistem kardiovaskuler).

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri b/d kerusakan kontinuitas mukosa lambung.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d kurangnya intake oral.
3. Potensial perdarahan b/d kerusakan mukosa kapiler lambung.

III. INTERVENSI

1. Nyeri b/d kerusakan kontinuitas mukosa lambung.
Tujuan: Nyeri berkurang/hilang dengan kriteria: merasa rileks, mampu tidur/istirahat dengan tenang, nadi 80 x/menit, RR 20 x/menit.

Intervensi:
1) Kaji tingkat nyeri, lokasi lamanya dan karakteristik nyeri serta faktor yang dapat memperburuk atau meredakan.
R/ Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan hal yang penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan terapi yang diberikan.
2) Beri dorongan untuk melakukan aktivitas yang meningkatkan istirahat dan relaksasi.
R/ Relaksasi otot menurunkan peristaltic dan menurunkan nyeri gastritis.
3) Anjurkan klien untuk makan dengan teratur.
R/ Makanan yang mencukupi jumlah partikel dalam lambung membantu menetralisir keasaman sekresi lambung
4) Dorong klien untuk menghindari merokok dan menurunkan masukan minuman yang mengandung alkohol ataupun kafein, dan makan yang mengandung gas.
R/ Alkohol pada lambung yang kosong akan mengikis lapisan mukosa. Merokok menurunkan sekresi bikarbonat pankreas yang meningkatkan keasaman sedangkan mencerna kafein dapat merangsang sekresi asam lambung.
5) Masase daerah yang nyeri jika pasien dapat mentoleransi sentuhan.
R/ Masase dapat meningkatkan relaksasi otot, memfokuskan perhatian dan meningkatkan kemampuan koping.
6) Kompres hangat pada daerah nyeri.
R/ Meningkatkan sirkulasi dan meningkatkan relaksasi otot.
7) Berikan obat sesuai indikasi mis: analgesik, aseraminofen, antasida.
R/ Menghilangkan nyeri dan menurunkan aktivitas peristaltic, meningkatkan kenyamanan dan istirahat, menurunkan keasaman lambung.
8) Berikan dan lakukan perubahan diit.
R/ Berguna untuk membuat program diet untuk memenuhi kebutuhan individu.

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d kurangnya intake oral.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria: intake nutrisi yang adekuat, selera makan meningkat, BB meningkat.

Intervensi:
1) Berikan makan sedikit tapi sering.
R/ Makan terlalu banyak mengakibatkan rangsangan berlebihan dan berulangnya gejala.
2) Diskusikan yang disukai klien dan masukkan dalam diet murni.
R/ Dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa berpartisipasi.
3) Bantu pasien dalam pemilihan makanan/cairan yang memenuhi kebutuhan nutrisi dan pembatasan bila diet dimulai.
R/ Kebiasaan diet sebelumnya mungkin tidak memuaskan pada pemenuhan kebutuhan saat ini untuk regenerasi jaringan dan penyembuhan.
4) Timbang berat badan setiap hari sesuai dengan indikasi.
R/ Mengkaji pemasukan yang adekuat.
5) Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
R/ menurunkan rangsangan penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
6) Berikan obat sesuai indikasi antiemetik.
R/ Untuk menekan timbulnya rangsangan yang dapat menghambat intake oral.

3. Potensial perdarahan b/d kerusakan mukosa kapiler lambung.
Tujuan: Mencegah perdarahan dengan kriteria: klien merasa nyaman/ tenang, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perdarahan: hematonesis, pucat, kulit dingin, pusing, sianotik.

Intervensi:
1) Pantau terhadap darah samar pada aspirat lambung dan feses.
R/ Pengkajian yang sering dan cermat terhadap status dapat membantu mendiagnosa perdarahan sebelum status klien terganggu lebih parah.
2) Pantau pH lambung setiap 4 jam.
R/ Dengan mempertahankan pH lambung di bawah 5 telah menurunkan perdarahan.
3) Pantau tanda dan gejala hemoragi.
R/ Hemoragi adalah komplikasi paling umum dari penyakit Ulkus peptikum. Tanda dan gejala hemorogi dapat tersembunyi atau timbul secara bertahap dan cukup jelas dan massif.
4) Berikan obat sesuai indikasi.
R/ Pemberian obat yang sesuai dapat mengurangi adanya perdarahan.

IV. EVALUASI

1. Nyeri berkurang/hilang dengan kriteria: merasa rileks, mampu tidur/istirahat dengan tenang, nadi 80 x/menit, RR 20 x/menit.
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria: intake nutrisi yang adekuat, selera makan meningkat, BB meningkat.
3. Mencegah perdarahan dengan kriteria: klien merasa nyaman/ tenang, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perdarahan: hematonesis, pucat, kulit dingin, pusing, sianotik.

Oleh :
Uswatun asanah
10111546

Asuhan Keperawatan Talasemia


TALASEMIA

A. KONSEP DASAR

1. DEFINISI
Talasemia merupakan sekelompok penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan secara resesif yang berhubungan dengan defek sintesis rantai-hemoglobin.

Secara molekuler talasemia di klasifikasikan dalam dua kelompok utama sesuai rantai globin yang terkena; α-talasemia dan β-talasemia, yang masing-masing berhubungan dengan penurunan atau ketiadaan sintesis rantai-α dan rantai-β.

Sedangkan secara klinis dibedakan atas talasemia mayor dan minor.
 Talasemia Minor, kebanyakan pasien dengan talasemia minor tidak mempunyai gejala tetapi merupakan pembawa talasemia mayor. Namun kehamilan dapat menyebabkan anemia yang bermakna sehigga memerlukan terapi transfusi.
 Talasemia Mayor (Anemia Cooley), ditandai dengan anemia berat, hemolisis, dan produksi eritrosis (eritropoesis) yang tidak efektif.

2. ETIOLOGI

Anemia pada talasemia bersifat primer dan sekunder. Primer adalah berkurangnya sintesis HbA dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran sel-sel eritrosit intramedular. Sedangkan yang sekunder ialah karena defisiensi asam folat, bertambahnya volume plasma intravaskular yang mengakibatkan hemodilusi, dan destruksi eritrosit oleh sistem retikuloendotelial dalam limpa dan hati. Penelitian biomolekular menunjukkan adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi rantai alfa atau beta dari hemoglobin berkurang. Terjadinya hemosiderosis merupakan hasil kombinasi antara transfusi berulang, peningkatan absorpsi besi dalam usus karena eritropoesis yang tidak efektif, anemia kronis serta proses hemolisis.

3. PATOFISIOLOGI
Mengenai dasar kelainan pada talasemia berlaku secara umum yaitu kelainan talasemia alfa disebabkan oleh delesi gen (terhapus karena kecelakaan genetik) yang mengatur produksi tetramer globin, sedangkan pada talasemia beta karena adanya mutasi gen tersebut.

Individu normal yang mempunyai 2 gen alfa yaitu alfa thal 2 dan alfa thal 1 terletak pada bagian pendek kromoson 16 (aa/aa). Hilangnya 1 gen (silent carrier) tidak memberikan gejala klinis sedangkan hilangnya 2 gen hanya memberikan manifestasi ringan atau tidak memberikan gejala klinis yang jelas. Hilangnya 3 gen (penyakit Hb H) memberikan anemia moderat dan gambaran klinis talasemia alfa intermedia. Afinitas Hb H terhadap oksigen sangat terganggu dan destruksi eritrosis lebih cepat. Delesi keempat gen alfa (homosigot alfa thal 1, Hb Barts hydrops fetalis) adalah tidak kompatibel dengan kehidupan akhir intra-uterin atau neonatal, tanpa transfusi darah.

Gen yang mengatur produksi rantai beta terletak di sisi pendek kromoson 11. Pada talasemia beta, sisi pendek kromoson 11. Pada talasemia beta, mutasi gen disertai berkurangnya sintesis globin dengan struktur normal.

Dibedakan dua golongan besar talasemia beta:
 Adanya produksi rantai beta (tipe beta plus).
 Tidak ada produksi rantai beta (tipe beta nol).

Defisit sintesis globin beta hampir paralel dengan defisit globin beta mRNA yang berfungsi sebagai template untuk sintesis protein.

Pada talasemia beta produksi rantai beta terganggu, mengakibatkan kadar Hb menurun sedangkan produksi Hb A2 dan atau Hb F tidak terganggu karena tidak memerlukan rantai beta dan justru memproduksi lebih banyak daripada keadaan normal, mungkin sebagai usaha kompensasi. Kelebihan rantai globin yang tidak terpakai karena tidak ada pasangannya akan mengendap pada dinding eritrosit. Keadaan ini menyebabkan eritropoesis berlangsung tidak efektif dan eritrosit memberikan gambaran anemia hipokrom dan mikrositer.

Eritropoesis didalam sumsum tulang sangat giat, dapat mencapai 5 kali lipat dari nilai normal, dan juga serupa apabila ada eritropoesis ekstramedular hati dan limpa. Destruksi eritrosit dan prekursornya dalam sumsum tulang adalah luas (eritropoesis tak efektif) dan masa hidup eritrosit memendek serta didapat pula tanda-tanda anemia hemolitik ringan. Walaupun eritropoesis sangat giat hal ini tidak mampu mendewasakan eritrosit secara efektif.
Salah satu sebab mungkin karena presipitasi didalam eritrosit.
Pada kasus homosigot talasemia beta nol, sintesis rantai globin beta tidak ada. Sekitar 50% kasus-kasus ini globin beta mRNA dalam retikulosit dan sel eritrosit muda berkurang atau tidak ada. Mutasi gen pada talasemia beta bersifat sangat heterogen dan mencapai lebih dari 20 variasi genotip. Hal ini berbeda dengan talasemia alfa yang defek gennya akan homogenik. Gen-gen talasemia alfa 1, talasemia alfa 2, talasemia beta, Hb E dan Hb constant spring dapat bergabung dalam kombinasi yang berbeda-beda yang mengakibatkan suatu kompleks variasi sindrom talasemia dengan lebih dari 60 genotip yang disertai gejala yang bervariasi dari asimtomatik sampai letal seperti pada Hb Bart hydrops fetalis.

Kemajuan-kemajuan dalam mengungkapkan penyebab genetik molekular pada talasemia didukung oleh pemeriksaan restriction endonuklease digestion dan geneblotting studies. Namun demikian secara umum tidak dapat mendeteksi talasemia beta yang disebabkan karena mutasi nukleotida yang tunggal atau delesi yang minimal.

Talasemia dan hemoglobinopati adalah contoh khas untuk penyakit/ kelainan yang berdasarkan defek/kelainan hanya satu gen.

4. MANIFESTASI KLINIK
Bayi baru lahir dengan talasemia beta mayor tidak anemis. Gejala awal pucat mulanya tidak jelas, biasanya menjadi lebih berat dalam tahun pertama kehidupan dan pada kasus yang berat terjadi dalam beberapa minggu setelah lahir. Bila penyakit ini tidak ditangani dengan baik, tumbuh kembang masa kehidupan anak akan terhambat. Anak tidak nafsu makan, diare, kehilangan lemak tubuh, dan dapat disertai demam berulang akibat infeksi. Anemia berat dan lama biasanya menyebabkan pembesaran jantung.

Terdapat hepatosplenomegali, ikterus ringan mungkin ada. Terjadi perubahan pada tulang yang menetap, yaitu terjadinya bentuk muka mongoloid akibat sistem eritropoesis yang hiperaktif. Adanya penipisan korteks tulang panjang, tangan, dan kaki dapat menimbulkan fraktur patologis. Penyimpangan pertumbuhan akibat anemia dan kekurangan gizi menyebabkan perawakan pendek. Kadang-kadang ditemukan epistaksis, pigmentasi kulit, koreng pada tungkai, dan batu empedu. Pasien menjadi peka terhadap infeksi terutama bila limpanya telah diangkat sebelum usia 5 tahun dan mudah mengalami septisemia yang dapat mengakibatkan kematian. Dapat timbul pansitopenia akibat hipersplenisme.

Hemosiderosis terjadi pada kelenjar endokrin (keterlambatan menars dan gangguan perkembangan sifat seks sekunder), pankreas (diabetes), hati (sirosis), otot jantung (aritmia, gangguan hantaran, gagal jantung), dan perikardium (perikarditis).

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Anemia biasanya berat, dengan kadar hemoglobin (Hb) berkisar antara 3-9 g/dl. Eritrosit memperlihatkan anisositosis, poikilositosis, dan hipokromia berat. Sering ditemukan sel target dan tear drop cell. Normoblas banyak di jumpai terutama pasca splenektomi. Gambaran sumsum tulang memperlihatkan eritropoesis yang hiperaktif sebanding dengan anemianya. Diagnosis definitif ditegakkan dengan pemeriksaan elektroforesis hemoglobin. Petunjuk adanya talasemia alfa adalah ditemukannya Hb Bart’s dan Hb H. Pada talasemia beta kadar Hb F bervasiasi antara 10-90%, sedangkan dalam keadaan normal kadarnya tidak melebihi 1%.

6. PENATALAKSANAAN
Pemberian transfusi darah berupa sel darah merah (SDM) sampai kadar Hb sekitar 11 g/dL. Kadar Hb setinggi ini akan mengurangi kegiatan hemopoesis yang berlebihan didalam sumsum tulang dan juga mengurangi absorpsi Fe dari traktus digestivus. Sebaiknya darah transfusi tersebut tersimpan kurang dari 7 hari dan mengandung leukosit yang serendah-rendahnya. Jumlah SDM yang diberikan sebaiknya 10-20 ml/kg berat badan. Pasien dengan kadar Hb yang rendah untuk waktu lama, perlu ditransfusi dengan hati-hati dan sedikit demi sedikit. Frekuensinya sebaiknya sekitar 2-3 minggu. Sebelumnya dan sesudah pemberian trasfusi ditentukan kadar Hb dan hematokrit. Berat badan perlu dipantau, paling sedikit 2 kali setahun.

Pemberian chelatin agents (Desferal) secara teratur membantu mengurangi hemosiderosis. Obat diberikan secara intravena atau subkutan dengan bantuan pompa kecil. Di samping Desferal kini ada chelating agent oral yaitu antara lain Desferiprone. Manfaatnya lebih rendah dari pada Desferal dan memberikan bahaya fibrosis hati.

Hanya pada 10 kasus dari 134 pasien talasemia di Rumah sakit Dr. Sutomo telah dilakukan splenektomi. Splenektomi perlu dipertimbangkan terutama bila ada tanda-tanda hipersplenisme atau kebutuhan transfusi yang meningkat atau karena sangat besarnya limpa. Cara sederhana untuk membantu menentukan indikasi splenektomi adalah menghitung indeks derajat menurunnya Hb diantara 2 transfusi.

Pasca spelenektomi dokter perlu waspada terhadap infeksi. Pemberian antibiotik kadang-kadang perlu sebagai usaha pencegahan terutama apabila infeksi sering kambuh, misalnya dengan penisilin oral. Gambaran darah tepi tidak banyak berubah setelah splenektomi, sebaliknya sering tampak lebih banyak sel normoblas. Maka hidup eritrosit lebih baik daripada sebelum splenektomi.

Pasien talasemia major memerlukan bimbingan khusus dalam pendidikannya karena sering merasa rendah diri akibat kelainan fisik yang dialami dan hambatan-hambatan lain dalam pergaulan sosial.

Di kemudian hari, pengobatan talasemia beta mayor dengan trasplantasi sumsum tulang mungkin mendapat tempat utama. Pada saat ini keberhasilan hanya mencapai 30% kasus. Tetapi, apabila transplantasi sumsum tulang pada khasus tertentu, hal ini memberikan penyembuhan.

B. ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN
 Tumbuh kembang masa kehidupan anak terhambat.
 Tidak nafsu makan.
 Diare.
 Kehilangan lemak tubuh.
 Demam berulang akibat infeksi.
 Anemia berat dan lama biasanya menyebabkan pembesaran jantung.
 Hepatosplenomegali, ikterus ringan.
 Perubahan pada tulang yang menetap (bentuk muka mongoloid akibat sistem eritropoesis yang hiperaktif).
 Penipisan korteks tulang panjang, tangan, dan kaki (mencegah Fraktur patologis)
 Epistaksis, pigmentasi kulit, koreng pada tungkai, dan batu empedu.
 Pansitopenia akibat hipersplenisme.
 Hemosiderosis (keterlambatan menars dan gangguan perkembangan sifat seks sekunder).
 Pankreas (diabetes).
 Hati (sirosis).
 Otot jantung (aritmia, gangguan hantaran, gagal jantung).
 Perikardium (perikarditis).

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan perfusi jaringan b/d anemia berat.
2. Risiko tinggi infeksi b/d transfusi.
3. Intoleran aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan nutrisi dari tubuh.
4. Risiko tinggi trauma b/d deformitas skelet.
5. Nyeri b/d produk-produk kimia.

III. INTERVENSI

1. Perubahan perfusi jaringan b/d anemia berat.
Tujuan : Menunjukkan perbaikan perfusi jaringan.

Intervensi :
1) Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat, sianosis, diaforesis, perlambatan pengisian kapiler.
R/ Perubahan menunjukkan penurunan sirkulasi/hipoksia yang meningkatkan oklusi kapiler.

2) Kaji perubahan warna pada kulit, perhatikan bagian ekstremitas bawah/tungkai.
R/ Penurunan sirkulasi perifer sering menimbulkan perubahan dermal dan perlambatan penyembuhan.

3) Pertahankan suhu lingkungan dan kehangatan tubuh.
R/ Mencegah vasokonstriksi; membantu dalam mempertahankan sirkulasi dan perfusi.

4) Awasi pemeriksaan laboratorium, mis: GDA, darah lengkap, AST (SGOT)/ALT (SGPT), CPK, BUN.
R/ Penurunan perfusi jaringan dapat menimbulkan infark terhadap organ jaringan seperti otak, hati, limpa, ginjal, jantung, dan sebagainya dengan konsekuensi pelepasan enzim intraseluler.

2. Risiko tinggi infeksi b/d transfusi.
Tujuan : Tidak demam dan bebas dari pengeluaran/sekresi purulen, dan tanda-tanda lain dari kondisi infeksi.

Intervensi :
1) Cuci tangan sebelum dan sesudah seluruh kontak perawatan dilakukan.
R/ Mengurangi risiko kontaminasi silang.

2) Periksa adanya luka/lokasi alat invasif, perhatikan tanda-tanda inflamasi/infeksi lokal.
R/ Identifikasi/perawatan awal dari infeksi sekunder dapat mencegah terjadinya sepsis.

3) Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi.
R/ Mengurangi risiko kemungkinan infeksi.

4) Pantau kecenderungan suhu.
R/ Demam disebabkan oleh efek-efek dari endotoksin pada hipotalamus dan endorfin yang melepaskan pirogen. Hipotermia adalah tanda-tanda genting yang merefleksikan perkembangan status syok/penurunan perfusi jaringan.

5) Pantau tanda-tanda penyimpangan kondisi/kegagalan untuk membaik selama masa terapi.
R/ Dapat menunjukkan ketidaktepatan/ketidakadekuatan terapi antibiotik atau pertumbuhan berlebihan dari organisme resisten/oportunistik.

6) Kolaborasi pemberian obat anti infeksi sesuai indikasi.
R/ Dapat membasmi/memberikan imunitas sementara untuk infeksi.

3. Intoleran aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan nutrisi dari tubuh.
Tujuan : Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari).

Intervensi :
1) Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas/AKS normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan kesulitan menyelesaikan tugas.
R/ Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.

2) Awasi TD, nadi, pernapasan, selama dan sesudah aktivitas. Catat respons terhadap aktivitas (mis: peningkatan denyut jantung/TD, disritmia, pusing, dispnea, takipnea, dan sebagainya).
R/ Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.

3) Berikan lingkungan tenang. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung, telepon, dan gangguan berulang tindakan yang tak direncanakan.
R/ Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru.

4) Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat. Pilih periode istirahat dengan periode aktivitas.
R/ Mempertahankan tingkat energi dan meningkatkan regangan pada sistem jantung dan pernapasan.

5) Gunakan teknik penghematan energi, mis: mandi dengan duduk, duduk untuk melakukan tugas-tugas.
R/ Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan.

6) Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi.
R/ Regangan/stress kardiopulmonal berlebihan/stres dapat menimbulkan dekompensasi/kegagalan.

4. Risiko tinggi trauma b/d deformitas skelet.
Tujuan : Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas skelet.

Intervensi :
1) Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi.
R/ Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi.

2) Pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit.
R/ Posisi yang tepat dapat mencegah tekanan deformitas.

3) Dorong pasien untuk secara hati-hati memposisikan tungkai yang sakit.
R/ Mencegah ketidaknyamanan dan risiko cedera.

5. Nyeri b/d produk-produk kimia.
Tujuan : Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.

Intervensi :
1) Observasi dan catat lokasi, beratnya (skala 0-10) dan karakter nyeri.
R/ Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan/perbaikan penyakit, terjadinya komplikasi, dan keefektifan intervensi.

2) Kontrol suhu lingkungan.
R/ Dingin pada sekitar ruangan membantu meminimalkan ketidaknyamanan kulit.

3) Pertahankan tirah baring sesuai program.
R/ Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri dan mengurangi kontraksi otot.

4) Dorong menggunakan teknik relaksasi. Berikan aktivitas senggang.
R/ Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan memfokuskan kembali perhatian sehingga menurunkan nyeri dan ketidaknyamanan.

5) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.
R/ Menghilangkan/membantu dalam manajemen nyeri.

IV. EVALUASI
1. Menunjukkan perbaikan perfusi jaringan.
2. Tidak demam dan bebas dari pengeluaran/sekresi purulen, dan tanda-tanda lain dari kondisi infeksi.
3. Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari).
4. Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas skelet.
5. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.


DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Ed.3.EGC. Jakarta.

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Ed. 3 Jilid 2. Media Aesculapius. Jakarta.

Slamet suyono, dkk. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Ed.3. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Oleh :
Uswatun Hasanah
10111546

Swine Influenza (Flu Babi)


SWINE INFLUENZA (FLU BABI) Swine Influenza (flu babi) adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), secara umum penyakit ini mirip influenza dengan gejala demam, batuk, pilek, sesak nafas, nyeri tenggorokan, lesu, letih dan mungkin disertai mual, muntah dan diare. Penyakit ini dengan sangat cepat menyebar ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, umumnya penyakit ini dapat sembuh dengan cepat kecuali bila terjadi komplikasi dengan bronchopneumonia (radang paru-paru), akan berakibat pada kematian. Penyakit virus flu babi pertama dikenal sejak tahun 1918, pada saat itu di dunia sedang terdapat wabah penyakit influenza secara pandemik pada manusia yang menelan korban sekitar 21 juta orang meninggal dunia. Kasus tersebut terjadi pada akhir musim panas. Pada tahun yang sama dilaporkan terjadi wabah penyakit epizootik pada babi di Amerika tengah bagian utara yang mempunyai kesamaan gejala klinis dan patologi dengan influensa pada manusia. Karena kejadian penyakit ini muncul bersamaan dengan kejadian penyakit epidemik pada manusia, maka penyakit ini disebut flu pada babi.


PENYEBARAN PENYAKIT
Penyebaran virus influenza dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi, melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan. Virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada babi breeder atau babi anakan. Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4 bulan tetapi mungkin tidak dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat menghalangi timbulnya kekebalan aktif.
Transmisi inter spesies dapat terjadi, sub tipe H1N1 mempunyai kesanggupan menulari antara spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan H3N2 merupakan ke 3 subtipe virus influenza yang umum ditemukan pada babi yang mewabah di Amerika Utara, tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di. Manusia dapat terkena penyakit influenza secara klinis dan menularkannya pada babi.



PENYEBAB PENYAKIT
Flu babi merupakan penyakit yang disebabkan virus influenza Famili Orthomyxoviridae tipe A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan oleh binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan menular antarmanusia. Virus ini erat kaitannya dengan penyebab swine influenza, equine influenza dan avian influenza (fowl plaque). Ukuran virus tersebut berdiameter 80- 120 nm. Selain influenza A, terdapat influenza B dan C yang juga sudah dapat diisolasi dari babi. Sedangkan 2 tipe virus influenza pada manusia adalah tipe A dan B. Kedua tipe ini diketahui sangat progresif dalam perubahan antigenik yang sangat dramatik sekali (antigenik shift). Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemik dan keganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya genetic reassortment antara bangsa burung dan manusia. Ketiga tipe virus yaitu influensa A, B, C adalah virus yang mempunyai bentuk yang sama dibawah mikroskop elektron dan hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja. Ketiga tipe virus tersebut mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya diselubungi oleh semacam paku yang mengandung antigen haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N).
Peranan haemagglutinin adalah sebagai alat melekat virion pada sel dan menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim neurominidase bertanggung jawab terhadap elusi, terlepasnya virus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan dalam melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibodi terhadap haemaglutinin berperan dalam mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung haemaglutinin yang sama. Antibodi juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam pencegahan infeksi. Influensa babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh influensa A H1N1, sedangkan di banyak negara Eropa termasuk Inggris, Jepang dan Asia Tenggara disebabkan oleh influensa A H3N2. Banyak isolat babi H3N2 dari Eropa yang mempunyai hubungan antigenik sangat dekat dengan A/Port Chalmers/1/73 strain asal manusia. Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti H1N2 yang dilaporkan di Jepang kemungkinan berasal dari rekombinasi H1N1 dan H3N2. Peristiwa semacam ini juga dilaporkan di Italy, Jepang, Hongaria, Cekoslowakia dan Perancis. BEVERIDGE (1977) melaporkan bahwa pada tahun 1935, WILSON MITH menemukan virus influenza yang dapat ditumbuhkan dengan cara menginokulasikannya pada telor ayam berembrio umur 10 hari. Setelah diuji dalam 2 hari, cairan alantoisnya mengandung virus sebanyak 10.000 juta (1010) partikel karena virus tersebut dapat menyebabkan aglutinasi sel darah merah, maka dari kejadian tersebut dikembangkan uji HA dan HI. Teknik ini kemudian digunakan sebagai cara yang termudah untuk digunakan di laboratorium. Setelah penemuan tersebut banyak para peneliti tertarik untuk mempelajari virus influenza. Oleh sebab itu, sekarang banyak ilmu pengetahuan mengenai virus influeza telah diungkapkan dibandingkan dengan virus lainnya yang menyerang manusia. Virus influenza selain dapat ditumbuhkan dalam telur berembrio juga dapat ditumbuhkan pada sejumlah biakan jaringan (sel lestari) seperti chicken embryo fibroblast (CEF), canine kidney (CK), Madin-Darby canine kidney (MDCK).


PENCEGAHAN 
Cuci tangan sesering mungkin dengan menggunakan sabun sanitizer berbahan dasar alkohol, terutama jika bepergian di tempat umum. Hindari menyentuh mata, hidung, mulut sebelum membersihkan tangan terlebih dahulu. Jika batuk, tutup dengan tissue dan buang segera ke tempat sampah, dan cuci tangan kembali.


Oleh :
Uswatun Hasanah
10111546

ASKEP MYOCARDITIS


A. PENGERTIAN
Myocardium lapisan medial dinding jantung yang terdiri atas jaringan otot jantung yang sangat khusus (Brooker, 2001).
Myocarditis adalah peradangan pada otot jantung atau miokardium. pada umumnya disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksi, tetapi dapat sebagai akibat reaksi alergi terhadap obat-obatan dan efek toxin bahan-bahan kimia dan radiasi (FKUI, 1999).
Myocarditis adalah peradangan dinding otot jantung yang disebabkan oleh infeksi atau penyebab lain sampai yang tidak diketahui (idiopatik) (Dorland, 2002).
Miokarditis adalah inflamasi fokal atau menyebar dari otot jantung (miokardium) (Doenges, 1999).
Dari pebgertian diatas dapat disimpulkan bahwa myocarditis adalah peradangan/inflamasi otot jantung oleh berbagai penyebab terutama agen-agen infeksi.


B. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI
1) Acute isolated myocarditis adalah miokarditis interstitial acute dengan etiologi tidak diketahui.
2) Bacterial myocarditis adalah miokarditis yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
3) Chronic myocarditis adalah penyakit radang miokardial kronik.
4) Diphtheritic myocarditis adalah mikarditis yang disebabkan oleh toksin bakteri yang dihasilkan pada difteri : lesi primer bersifat degeneratiff dan nekrotik dengan respons radang sekunder.
5) Fibras myocarditis adalah fibrosis fokal/difus mikardial yang disebabkan oleh peradangan kronik.
6) Giant cell myocarditis adalah subtype miokarditis akut terisolasi yang ditandai dengan adanya sel raksasa multinukleus dan sel-sel radang lain, termasuk limfosit, sel plasma dan makrofag dan oleh dilatasi ventikel, trombi mural, dan daerah nekrosis yang tersebar luas.
7) Hypersensitivity myocarditis adalah mikarditis yang disebabkan reaksi alergi yang disebabkan oleh hipersensitivitas terhadap berbagai obat, terutama sulfonamide, penicillin, dan metildopa.
8) Infection myocarditis adalah disebabkan oleh agen infeksius ; termasuk bakteri, virus, riketsia, protozoa, spirochaeta, dan fungus. Agen tersebut dapat merusak miokardium melalui infeksi langsung, produksi toksin, atau perantara respons immunologis.
9) Interstitial myocarditis adalah mikarditis yang mengenai jaringan ikat interstitial.
10) Parenchymatus myocarditis adalah miokarditis yang terutama mengenai substansi ototnya sendiri.
11) Protozoa myocarditis adalah miokarditis yang disebabkan oleh protozoa terutama terjadi pada penyakit Chagas dan toxoplasmosis.
12) Rheumatic myocarditis adalah gejala sisa yang umum pada demam reumatik.
13) Rickettsial myocarditis adalah mikarditis yang berhubungan dengan infeksi riketsia.
14) Toxic myocarditis adalah degenerasi dan necrosis fokal serabut miokardium yang disebabkan oleh obat, bahan kimia, bahan fisik, seperti radiasi hewan/toksin serangga atau bahan/keadaan lain yang menyebabkan trauma pada miokardium.
15) Tuberculosis myocarditis adalah peradangan granulumatosa miokardium pada tuberkulosa.
16) Viral myocarditis disebabkan oleh infeksi virus terutama oleh enterovirus ; paling sering terjadi pada bayi, wanita hamil, dan pada pasien dengan tanggap immune rendah (Dorland, 2002).

C. PATOFISIOLOGI
Kerusakan miokard oleh kuman-kuman infeksius dapat melalui tiga mekanisme dasar :
1) Invasi langsung ke miokard.
2) Proses immunologis terhadap miokard.
3) Mengeluarkan toksin yang merusak miokardium.
Proses miokarditis viral ada 2 tahap :
Fase akut berlangsung kira-kira satu minggu, dimana terjadi invasi virus ke miokard, replikasi virus dan lisis sel. Kemudian terbentuk neutralizing antibody dan virus akan dibersihkan atau dikurangi jumlahnya dengan bantuan makrofag dan natural killer cell (sel NK).
Pada fase berikutnya miokard diinfiltrasi oleh sel-sel radang dan system immune akan diaktifkan antara lain dengan terbentuknya antibody terhadap miokard, akibat perubahan permukaan sel yang terpajan oleh virus. Fase ini berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan dan diikuti kerusakan miokard dari yang minimal sampai yang berat (FKUI, 1999).
D. GEJALA KLINIS
 Letih.
 Napas pendek.
 Detak jantung tidak teratur.
 Demam.
 Gejala-gejala lain karena gangguan yang mendasarinya (Griffith, 1994).
 Menggigil.
 Demam.
 Anoreksia.
 Nyeri dada.
 Dispnea dan disritmia.
 Tamponade ferikardial/kompresi (pada efusi perikardial) (DEPKES, 1993).

E. KOMPLIKASI
1) Kardiomiopati kongestif/dilated.
2) Payah jantung kongestif.
3) Efusi perikardial.
4) AV block total.
5) Trombi Kardiac (FKUI, 1999).

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1) Laboratorium : leukosit, LED, limfosit, LDH.
2) Elektrokardiografi.
3) Rontgen thorax.
4) Ekokardiografi.
5) Biopsi endomiokardial (FKUI, 1999).

G. PENATALAKSANAAN
1) Perawatan untuk tindakan observasi.
2) Tirah baring/pembatasan aktivitas.
3) Antibiotik atau kemoterapeutik.
4) Pengobatan sistemik supportif ditujukan pada penyakti infeksi sistemik (FKUI, 1999).
5) Antibiotik.
6) Obat kortison.
7) Jika berkembang menjadi gagal jantung kongestif : diuretik untuk mnegurangi retensi ciaran ; digitalis untuk merangsang detak jantung ; obat antibeku untuk mencegah pembentukan bekuan (Griffith, 1994).

MANAJEMEN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
Pengkajian pasien myocarditis (Marilynn E. Doenges, 1999) meliputi :
 Aktivitas / istirahat
Gejala : kelelahan, kelemahan.
Tanda : takikardia, penurunan tekanan darah, dispnea dengan aktivitas.
 Sirkulasi
Gejala : riwayat demam rematik, penyakit jantung congenital, bedah jantung, palpitasi, jatuh pingsan.
Tanda : takikardia, disritmia, perpindaha titik impuls maksimal, kardiomegali, frivtion rub, murmur, irama gallop (S3 dan S4), edema, DVJ, petekie, hemoragi splinter, nodus osler, lesi Janeway.
 Eleminasi
Gejala : riwayat penyakit ginjal/gagal ginjal ; penurunan frekuensi/jumlsh urine.
Tanda : urin pekat gelap.
 Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : nyeri pada dada anterior (sedang sampai berat/tajam) diperberat oleh inspirasi, batuk, gerakkan menelan, berbaring.
Tanda : perilaku distraksi, misalnya gelisah.
 Pernapasan
Gejala : napas pendek ; napas pendek kronis memburuk pada malam hari (miokarditis).
Tanda : dispnea, DNP (dispnea nocturnal paroxismal) ; batuk, inspirasi mengi ; takipnea, krekels, dan ronkhi ; pernapasan dangkal.
 Keamanan
Gejala : riwayat infeksi virus, bakteri, jamur (miokarditis ; trauma dada ; penyakit keganasan/iradiasi thorakal ; dalam penanganan gigi ; pemeriksaan endoskopik terhadap sitem GI/GU), penurunan system immune, SLE atau penyakit kolagen lainnya.
Tanda : demam.
 Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : terapi intravena jangka panjang atau pengguanaan kateter indwelling atau penyalahgunaan obat parenteral.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17).
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan myocarditis (Doenges, 1999) adalah :
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi miokardium, efek-efek sistemik dari infeksi, iskemia jaringan.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan inflamasi dan degenerasi sel-sel otot miokard, penurunan curah jantung.
3. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan degenerasi otot jantung, penurunan/kontriksi fungsi ventrikel.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/daya ingat, mis- intepretasi informasi, keterbatasan kognitif, menyangkal diagnosa.

C. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994:20)
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).
Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan myocarditis (Doenges, 1999).
1. Nyeri
Tujuan : nyeri hilang atau terkontrol.
Kriteria Hasil : - Nyeri berkurang atau hilang
- Klien tampak tenang.
Intervensi dan Implementasi :
 Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan awitan dan faktor pemberat atau penurun. Perhatikan petunjuk nonverbal dari ketidaknyamanan, misalnya ; berbaring dengan diam/gelisah, tegangan otot, menangis.
R : pada nyeri ini memburuk pada inspirasi dalam, gerakkan atau berbaring dan hilang dengan duduk tegak/membungkuk.
 Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan misalnya ; perubahan posisi, gosokkan punggung, penggunaan kompres hangat/dingin, dukungan emosional.
R : tindakan ini dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional pasien.
 Berikan aktivitas hiburan yang tepat.
R : mengarahkan kembali perhatian, memberikan distraksi dalam tingkat aktivitas individu.
 Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (agen nonsteroid : aspirin, indocin ; antipiretik ; steroid).
R : dapat menghilangkan nyeri, menurunkan respons inflamasi, menurunkan demam ; steroid diberikan untuk gejala yang lebih berat.
 kolaborasi pemberian oksigen suplemen sesuai indikasi.
R : memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk menurunkan beban kerja jantung.

2. Intoleransi aktivitas
Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
Kriteria hasil : - perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.
- Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.

Intervensi dan Implementasi :
 Kaji respons pasien terhadap aktivitas. Perhatikan adanya perubahan dan keluhan kelemahan, keletiahan, dan dispnea berkenaan dengan aktivitas.
R : miokarditis menyebabkan inflamasi dan kemungkinan kerusakan fungsi sel-sel miokardial.
 Pantau frekuensi/irama jantung, TD, dan frekuensi pernapasan sebelum dan setelah aktivitas dan selama diperlukan.
R : membantu menentukan derajat dekompensasi jantung dan pulmonal. Penurunan TD, takikardia, disritmia, dan takipnea adalah indikatif dari kerusakan toleransi jantung terhadap aktivitas.
 Pertahankan tirah baring selama periode demam dan sesuai indikasi.
R : meningkatkan resolusi inflamasi selama fase akut.
 Rencanakan perawatan dengan periode istirahat/tidur tanpa gangguan.
R : memberikan keseimbangan dalam kebutuhan dimana aktivitas bertumpu pada jantung.
 Bantu pasien dalam program latihan progresif bertahap sesegera mungkin untuk turun dari tempat tidur, mencatat respons tanda vital dan toleransi pasien pada peningkatan aktivitas.
R : saat inflamasi/kondisi dasar teratasi, pasien mungkin mampu melakukan aktivitas yang diinginkan, kecuali kerusakan miokard permanen/terjadi komplikasi.
 kolaborasi pemberian oksigen suplemen sesuai indikasi.
R : memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk menurunkan beban kerja jantung.

3. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung
Tujuan : mengidentifikasi perilaku untuk menurunkan beban kerja jantung.
Kriteria Hasil : - melaporkan/menunjukkan penurunan periode dispnea, angina, dan disritmia.
- memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil.
Intervensi dan Implementasi :
 Pantau frekuensi/irama jantung, TD, dan frekuensi pernapasan sebelum dan setelah aktivitas dan selama diperlukan.
R : membantu menentukan derajat dekompensasi jantung dan pulmonal. Penurunan TD, takikardia, disritmia, dan takipnea adalah indikatif dari kerusakan toleransi jantung terhadap aktivitas.
 Pertahankan tirah baring dalam posisi semi-Fowler.
R : menurunkan beban kerja jantung, memaksimalkan curah jantung.
 Auskultasi bunyi jantung. Perhatikan jarak/muffled tonus jantung, murmur, gallop S3 dan S4.
R : memberikan deteksi dini dari terjadinya komplikasi misalnya : GJK, tamponade jantung.
 Berikan tindakan kenyamanan misalnya ; perubahan posisi, gosokkan punggung, dan aktivitas hiburan dalam tolerransi jantung.
R : meningkatkan relaksasi dan mengarahkan kembali perhatian.

4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar)
Tujuan : menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan.
Kriteria hasil : - mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan.
- memperlihatan perubahan perilaku untuk mencegah komplikasi..
Intervensi dan Implementasi :
 Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.
R : Perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit.
 Jelaskan efek inflamasi pada jantung, secara individual pada pasien. Ajarakkn untuk memperhatikan gejala sehubungan dengan komplikasi/berulangnya dan gejala yang dilaporkan dengan segera pada pemberi perawatan, contoh ; demam, peningkatan nyeri dada yang tak biasanya, peningkatan berat badan, peningkatan toleransi terhadap aktivitas.
R : untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan sendiri, pasien perlu memahami penyebab khusus, pengobatan dan efek jangka panjang yang diharapkan dari kondisi inflamasi, sesuai dengan tanda/gejala yang menunjukan kekambuhan/komplikasi.

 Anjurkan pasien/orang terdekat tentang dosis, tujuan dan efek samping obat; kebutuhan diet ; pertimbangan khusus ; aktivitas yang diijinkan/dibatasi.
R : informasi perlu untuk meningkatkan perawatan diri, peningkatan keterlibatan pada program terapeutik, mencegah komplikasi.
 Kaji ulang perlunya antibiotic jangka panjang/terapy antimicrobial.
R : perawatan di rumah sakit lama/pemberian antibiotic IV/antimicrobial perlu sampai kultur darah negative/hasil darah lain menunjukkan tak ada infeksi.

D. EVALUASI
Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan myocarditis (Doenges, 1999) adalah :
1. Nyeri hilang atau terkontrol
2. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
3. Mengidentifikasi perilaku untuk menurunkan beban kerja jantung.
4. Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan.


DAFTAR PUSTAKA
Boedihartono, 1994, Proses Keperawatan di Rumah Sakit, Jakarta.
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31. EGC : Jakarta.
DEPKES. 1993. Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. EGC : Jakarta.
Doenges, E. Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3. EGC : Jakarta.
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
FKUI. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1. FKUI : Jakarta.
Griffith. 1994. Buku Pintar Kesehatan. Arcan : Jakarta.
Nasrul Effendi, 1995, Pengantar Proses Keperawatan, EGC, Jakarta.

Oleh :
Uswatun Hasanah
10111546