Sahabatku pUnkmore

Sahabatku pUnkmore
saHabat untuk sLamanya

Rabu, 21 Desember 2011

Asuhan Keperawatan Kehamilan Ektopik

Kosep Kehamilan
Kehamilan
Kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita, yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian akan diakhiri dengan proses persalinan,
Pembuahan
pembuahan (konsepsi) adalah merupakan awal dari kehamilan, dimana satu sel telur dibuahi oleh satu sperma. ovulasi (pelepasan sel telur) adalah merupakan bagian dari siklus menstruasi normal, yang terjadi sekitar 14 hari sebelum menstruasi. sel telur yang dilepaskan bergerak ke ujung tuba falopii (saluran telur) yang berbentuk corong, yang merupakan tempat terjadinya pembuahan. jika tidak terjadi pembuahan, sel telur akan mengalami kemunduran (degenerasi) dan dibuang melalui vagina bersamaan dengan darah menstruasi. jika terjadi pembuahan, maka sel telur yang telah dibuahi oleh sperma ini akan mengalami serangkaian pembelahan dan tumbuh menjadi embrio (bakal janin).
Jika pada ovulasi dilepaskan lebih dari 1 sel telur dan kemudian diikuti dengan pembuahan, maka akan terjadi kehamilan ganda, biasanya kembar 2. Kasus seperti ini merupakan kembar fraternal. kembar identik terjadi jika pada awal pembelahan, sel telur yang telah dibuahi membelah menjadi 2 sel yang terpisah atau dengan kata lain, kembar identik berasal dari1 sel telur. Pada saat ovulasi, lapisan lendir di dalam serviks (leher rahim) menjadi lebih cair, sehingga sperma mudah menembus ke dalam rahim. Sperma bergerak dari vagina sampai ke ujung tuba falopii yang berbentuk corong dalam waktu 5 menit. sel yang melapisi tuba falopii mempermudah terjadinya pembuahan dan pembentukan zigot (sel telur yang telah dibuahi)
Implantasi & Perkembangan Plasenta
Implantasi adalah penempelan blastosis ke dinding rahim, yaitu pada tempatnya tertanam.blastosis biasanya tertanam di dekat puncak rahim, pada bagian depan maupun dinding belakang. Dinding blastosis memiliki ketebalan 1 lapis sel, kecuali pada daerah tertentu terdiri dari 3-4sel. Sel-sel di bagian dalam pada dinding blastosis yang tebal akan berkembang menjadi embrio, sedangkan sel-sel di bagian luar tertanam pada dinding rahim dan membentuk plasenta (ari-ari), plasenta menghasilkan hormon untuk membantu memelihara kehamilan dan memungkin perputaran oksigen, zat gizi serta limbah antara ibu dan janin. Implantasi mulai terjadi pada hari ke 5-8 setelah pembuahan dan selesai pada hari ke9-10,dinding blastosis merupakan lapisan luar dari selaput yang membungkus embrio (korion). lapisan dalam (amnion) mulai dibuat pada hari ke 10-12 dan membentuk kantung amnion. kantung amnion berisi cairan jernih (cairan amnion) dan akan mengembang untuk membungkus embrio yang sedang tumbuh, yang mengapung di dalamnya, tonjolan kecil (vili) dari plasenta yang sedang tumbuh, memanjang ke dalam dinding rahim dan membentuk percabangan seperti susunan pohon, susunan ini menyebabkan penambahan luas daerah kontak antara ibu dan plasenta, sehingga zat gizi dari ibu lebih banyak yang sampai ke janin dan limbah lebih banyak dibuang dari janin ke ibu. Pembentukan plasenta yang sempurna biasanya selesai pada minggu ke 18-20, tetapi plasenta akan terus tumbuh selama kehamilan dan pada saat persalinan beratnya mencapai 500 gram
Perkembangan Embrio
Embrio pertama kali dapat dikenali di dalam blastosis sekitar 10 hari setelah pembuahan. kemudian mulai terjadi pembentukan daerah yang akan menjadi otak dan medulla spinalis, sedangkan jantung dan pembuluh darah mulai dibentuk pada hari ke 16-17. Jantung mulai memompa cairan melalui pembuluh darah pada hari ke 20 dan hari berikutnya muncul sel darah merah yang pertama selanjutnya, pembuluh darah terus berkembang di seluruh embrio dan plasenta, organ-organ terbentuk sempurna pada usia kehamilan 12 minggu (10 minggu setelah permbuahan), kecuali otak dan medulla spinalis, yang terus mengalami pematangan selama kehamilan.
Kelainan pembentukan organ (malformasi) paling banyak terjadi pada trimester pertama (12 minggu pertama) kehamilan, yang merupakan masa-masa pembentukan organ dimana embrio sangat rentan terhadap efek obat-obatan atau virus. karena itu seorang wanita hamil sebaiknya tidak menjalani immunisasi atau mengkonsumsi obat-obatan pada trimester pertama kecuali sangat penting untuk melindungi kesehatannya. pemberian obat-obatan yang diketahui dapat menyebabkan malformasi harus dihindari. Pada awalnya, perkembangan embrio terjadi dibawah lapisan rahim pada salah satu sisi rongga rahim, tetapi pada minggu ke 12, janin (istilah yang digunakan setelah usia kehamilan mencapai 8 minggu) telah mengalami pertumbuhan yang pesat sehingga lapisan pada kedua sisi rahim bertemu (karena janin telah memenuhi seluruh rahim)



Konsep Kehamilan Ektopik




Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang berbahaya bagi seorang wanita yang dapat menyebabkan kondisi yang gawat bagi wanita tersebut. Keadaan gawat ini dapat menyebabkan suatu kehamilan ektopik terganggu. Kehamilan ektopik terganggu merupakan peristiwa yang sering dihadapi oleh setiap dokter, dengan gambaran klinik yang sangat beragam. Hal yang perlu diingat adalah bahwa pada setiap wanita dalam masa reproduksi dengan gangguan atau keterlambatan haid yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah dapat mengalami kehamilan ektopik terganggu.
Berbagai macam kesulitan dalam proses kehamilan dapat dialami para wanita yang telah menikah. Namun, dengan proses pengobatan yang dilakukan oleh dokter saat ini bisa meminimalisir berbagai macam penyakit tersebut. Kehamilan ektopik diartikan sebagai kehamilan di luar rongga rahim atau kehamilan di dalam rahim yang bukan pada tempat seharusnya, juga dimasukkan dalam kriteria kehamilan ektopik, misalnya kehamilan yang terjadi pada cornu uteri. Jika dibiarkan, kehamilan ektopik dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang dapat berakhir dengan kematian.
Istilah kehamilan ektopik lebih tepat daripada istilah ekstrauterin yang sekarang masih banyak dipakai. Diantara kehamilan-kehamilan ektopik, yang terbanyak terjadi di daerah tuba, khususnya di ampulla dan isthmus. Pada kasus yang jarang, kehamilan ektopik disebabkan oleh terjadinya perpindahan sel telur dari indung telur sisi yang satu, masuk ke saluran telur sisi seberangnya
.
Definisi
Istilah ektopik berasal dari bahasa Inggris, ectopic, dengan akar kata dari bahasa Yunani, topos yang berarti tempat. Jadi istilah ektopik dapat diartikan “berada di luar tempat yang semestinya”. Apabila pada kehamilan ektopik terjadi abortus atau pecah, dalam hal ini dapat berbahaya bagi wanita hamil tersebut maka kehamilan ini disebut kehamilan ektopik terganggu.
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik,sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba,jarang terjadi implantasi pada ovarium,rongga perut,kanalis servikalis uteri,tanduk uterus yang rudimenter dan divertikel pada uterus.(Sarwono Prawiroharjho, 2005)
Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium kavum uteri. (kapita selekta kedokteran,2001)
Dari difinisi diatas dapat disimpulkan kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi, berimplantasi dan tumbuh tidak di tempat yang normal yakni dalam endometrium kavum uteri.
Insiden dan Macam-macam Kehamilan Ektopik
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20 – 40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Namun, frekuensi kehamilan ektopik yang sebenarnya sukar ditentukan. Gejala kehamilan ektopik terganggu yang dini tidak selalu jelas.




Menurut Taber (1994), macam-macam kehamilan ektopik berdasarkan tempat implantasinya antara lain :
a) Kehamilan Abdominal
Kehamilan/gestasi yang terjadi dalam kavum peritoneum.
(sinonim : kehamilan intraperitoneal)
b) Kehamilan Ampula
Kehamilan ektopik pada pars ampularis tuba fallopii. Umumnya berakhir sebagai abortus tuba.
c) Kehamilan Servikal
Gestasi yang berkembang bila ovum yang telah dibuahi berimplantasi dalam kanalis servikalis uteri.
d) Kehamilan Heterotopik Kombinasi
Kehamilan bersamaan intrauterine dan ekstrauterin.
e) Kehamilan Kornu
Gestasi yang berkembang dalam kornu uteri.
f) Kehamilan Interstisial
Kehamilan pada pars interstisialis tuba fallopii.
g) Kehmailan Intraligamenter
Pertumbuhan janin dan plasenta diantara lipatan ligamentum latum, setelah rupturnya kehamilan tuba melalui dasar dari tuba fallopii.
h) Kehamilan Ismik
Gestasi pada pars ismikus tuba fallopii.
i) Kehamilan Ovarial
Bentuk yang jarang dari kehamilan ektopik dimana blastolisis berimplantasi pada permukaan ovarium.
j) Kehamilan Tuba
Kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba fallopii.

Etiologi
Kehamilan ektopik terjadi karena hambatan pada perjalanan sel telur dari indung telur (ovarium) ke rahim (uterus). Dari beberapa studi faktor resiko yang diperkirakan sebagai penyebabnya adalah :
a) Infeksi saluran telur (salpingitis), dapat menimbulkan gangguan pada motilitas saluran telur.
b) Riwayat operasi tuba.
c) Cacat bawaan pada tuba, seperti tuba sangat panjang.
d) Kehamilan ektopik sebelumnya.
e) Aborsi tuba dan pemakaian IUD.
f) Kelainan zigot, yaitu kelainan kromosom.
g) Bekas radang pada tuba; disini radang menyebabkan perubahan-perubahan pada endosalping, sehingga walaupun fertilisasi dapat terjadi, gerakan ovum ke uterus terlambat.
h) Operasi plastik pada tuba.
i) Abortus buatan.
Berbagai macam faktor berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik. Semua faktor yang menghambat migrasi embrio ke kavum uteri menyebabkan seorang ibu semakin rentan untuk menderita kehamilan ektopik.

Beberapa faktor yang dihubungkan dengan kehamilan ektopik diantaranya:
1. Faktor dalam lumen tuba:
a) Endosalpingitis, menyebabkan terjadinya penyempitan lumen tuba
b) Hipoplasia uteri, dengan lumen tuba menyempit dan berkelok-kelok
c) Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna dan menyebabkan lumen tuba menyempit
2. Faktor pada dinding tuba:
a) Endometriosis, sehingga memudahkan terjadinya implantasi di tuba
b) Divertikel tuba kongenital, menyebabkan retensi telur di tempat tersebut
3. Faktor di luar dinding tuba:
a) Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba, mengakibatkan terjadinya hambatan perjalanan telur
b) Tumor yang menekan dinding tuba, menyebabkan penyempitan lumen tuba
c) Pelvic Inflammatory Disease (PID)
4. Faktor lain:
a) Hamil saat berusia lebih dari 35 tahun
b) Migrasi luar ovum, sehingga memperpanjang waktu telur yang dibuahi sampai ke uterus
c) Fertilisasi in vitro, Bayi tabung atau pembuahan in vitro (bahasa Inggris: in vitro fertilisation) adalah sebuah teknik pembuahan dimana sel telur (ovum) dibuahi di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal, pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair.
d) Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
e) Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
f) Merokok
g) Penggunaan dietilstilbestrol (DES)
h) Uterus berbentuk huruf T
i) Riwayat operasi abdomen
j) Kegagalan penggunaan kontrasepsi yang mengandung progestin saja
k) Ruptur appendix
l) Mioma uteri
m) Hidrosalping
Patofisiologi
Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri. Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada beberapa kemungkinan akibat dari hal ini yaitu :
a) Kemungkinan “tubal abortion”, lepas dan keluarnya darah dan jaringan ke ujung distal (fimbria) dan ke rongga abdomen. Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan ampulla, darah yang keluar dan kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya tidak begitu banyak karena dibatasi oleh tekanan dari dinding tuba.
b) Kemungkinan ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum, sebagai akibat dari distensi berlebihan tuba.
c) Faktor abortus ke dalam lumen tuba.
Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena trauma koitus dan pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang sedikit hingga banyak, sampai menimbulkan syok dan kematian.
Pada kehamilan normal, proses pembuahan (pertemuan sel telur dengan sperma) terjadi pada tuba, kemudian sel telur yang telah dibuahi digerakkan dan berimplantasi pada endometrium rongga rahim. Kehamilan ektopik yang dapat disebabkan antara lain faktor di dalam tuba dan luar tuba, sehingga hasil pembuahan terhambat/tidak bisa masuk ke rongga rahim, sehingga sel telur yang telah dibuahi tumbuh dan berimplantasi (menempel) di beberapa tempat pada organ reproduksi wanita selain rongga rahim, antara lain di tuba falopii (saluran telur), kanalis servikalis (leher rahim), ovarium (indung telur), dan rongga perut. Yang terbanyak terjadi di tuba falopii (90%).
Manifestasi Klinik
Gejala dan tanda kehamilan ektopik terganggu sangat berbeda-beda; dari perdarahan yang banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas sehingga sukar membuat diagnosanya. Gejala dan tanda tergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau ruptur tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi dan keadaan umum penderita sebelum hamil. Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik terganggu. Hal ini menunjukkan kematian janin. Kehamilan ektopik terganggu sangat bervariasi, dari yang klasik dengan gejala perdarahan mendadak dalam rongga perut dan ditandai oleh abdomen akut sampai gejala-gejala yang samar-samar sehingga sulit untuk membuat diagnosanya.
Gambaran klinik kehamilan ektopik sangat bervariasi tergantung dari ada tidaknya ruptur. Triad klasik dari kehamilan ektopik adalah nyeri, amenorrhea, dan perdarahan per vaginam. Pada setiap pasien wanita dalam usia reproduktif, yang datang dengan keluhan amenorrhea dan nyeri abdomen bagian bawah, harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik.
Selain gejala-gejala tersebut, pasien juga dapat mengalami gangguan vasomotor berupa vertigo atau sinkop; nausea, payudara terasa penuh, fatigue, nyeri abdomen bagian bawah,dan dispareuni. Dapat juga ditemukan tanda iritasi diafragma bila perdarahan intraperitoneal cukup banyak, berupa kram yang berat dan nyeri pada bahu atau leher, terutama saat inspirasi.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan nyeri tekan pelvis, pembesaran uterus, atau massa pada adnexa. Namun tanda dan gejala dari kehamilan ektopik harus dibedakan dengan appendisitis, salpingitis, ruptur kista korpus luteum atau folikel ovarium. Pada pemeriksaan vaginal, timbul nyeri jika serviks digerakkan, kavum Douglas menonjol dan nyeri pada perabaan.
Pada umumnya pasien menunjukkan gejala kehamilan muda, seperti nyeri di perut bagian bawah, vagina uterus membesar dan lembek, yang mungkin tidak sesuai dengan usia kehamilan. Tuba yang mengandung hasil konsepsi menjadi sukar diraba karena lembek.
Nyeri merupakan keluhan utama. Pada ruptur, nyeri terjadi secara tiba-tiba dengan intensitas tinggi disertai perdarahan, sehingga pasien dapat jatuh dalam keadaan syok. Perdarahan per vaginam menunjukkan terjadi kematian janin.
Amenorrhea juga merupakan tanda penting dari kehamilan ektopik. Namun sebagian pasien tidak mengalami amenorrhea karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya.
Gejala klinis yang terjadi pada kehamilan ektopik meliputi :
1. akibat hilangnya darah dari peredaran darah umum, karena :
a. kekurangan darah yang beredar sampai menimbulkan gejala tampak pucat atau anemia, tampak sakit berat, dan pucat, tekanan darah turun dan frekwensi nadi meningkat.
b. Rendahnya darah menuju otak. Hilangnya darah ke otak menimbulkan gangguan psikologis atau kesadarannya menurun. Syok berat dan mungkin meninggal.
2. Timbunan darah dalam rongga perut menimbulkan gejala klinis :
a. Perut tampak makin membesar, karena timbunan darahnya.
b. Menimbulkan rasa sakit mendadak, saat dipegang atau diraba.
c. Tanda cairan bebas dalam rongga perut.
d. Darah dalam rongga perut tidak berfungsi, sehingga menimbulkan gangguan umum.

Diagnosis
Walaupun diagnosanya agak sulit dilakukan, namun beberapa cara ditegakkan, antara lain dengan melihat :
1. Anamnesis dan gejala klinis
Riwayat terlambat haid, gejala dan tanda kehamilan muda, dapat ada atau tidak ada perdarahan per vaginam, ada nyeri perut kanan / kiri bawah. Berat atau ringannya nyeri tergantung pada banyaknya darah yang terkumpul dalam peritoneum.
2. Pemeriksaan fisis
a) Didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor di daerah adneksa.
b) Adanya tanda-tanda syok hipovolemik, yaitu hipotensi, pucat dan ekstremitas dingin, adanya tanda-tanda abdomen akut, yaitu perut tegang bagian bawah, nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen.
c) Pemeriksaan ginekologis
Pemeriksaan dalam: seviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada uteris kanan dan kiri.


3. Pemeriksaan Penunjang
a) Laboratorium : Hb, Leukosit, urine B-hCG (+). Hemoglobin menurun setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat meningkat.
b) USG : - Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri
- Adanya kantung kehamilan di luar kavum uteri
- Adanya massa komplek di rongga panggul
4. Kuldosentesis : suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah.
5. Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan laparotomi.
6. Ultrasonografi berguna pada 5 – 10% kasus bila ditemukan kantong gestasi di luar uterus.
Penanganan
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Pada laparotomi perdarahan selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksa yang menjadi sumber perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dalam rongga perut sebanyak mungkin dikeluarkan. Dalam tindakan demikian, beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu: kondisi penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik. Hasil ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi (pemotongan bagian tuba yang terganggu) pada kehamilan tuba. Dilakukan pemantauan terhadap kadar HCG (kuantitatif). Peninggian kadar HCG yang berlangsung terus menandakan masih adanya jaringan ektopik yang belum terangkat.
Penanganan pada kehamilan ektopik dapat pula dengan transfusi, infus, oksigen, atau kalau dicurigai ada infeksi diberikan juga antibiotika dan antiinflamasi. Sisa-sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat dan harus dirawat inap di rumah sakit.


Tindakan operasi pada kehamilan ekopik terganggu dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. kehamilan masih intak :
a. operasi laparoskop untuk mengangkat
b. laparotomi biasa, sampai melakukan rekonstruksi dan melepaskan perekatan.
2. kehamilan ektopik terganggu :
a. terdapat darah dalam rongga perut yang perlu dikeluarkan sambil menutup sumber perdarahannya.
b. Darah dalam rongga perut dikembalikan untuk transfusi dirinya sendiri.
3. kehamilan abdominal :
a. janin dalam rongga perut dapat sampai cukup bulan.
b. Dilakukan laparotomi untuk mengambil bayinya.
c. Kehamilan jenis ini jarang terjadi .
Kehamilan ektopik terganggu jarang sekali menimbulkan kematian asalkan pasien cepat datang dan memeriksakan dirinya. Sebagian besar kedatangan pasien tidak terlambat karna rasa sakit yang mendorongnya untuk segera memeriksakan diri.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :
Pada pengobatan konservatif, yaitu bila kehamilan ektopik terganggu telah lama berlangsung (4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang, Ini merupakan indikasi operasi.
1) Infeksi
2) Sterilitas
3) Pecahnya tuba falopii
4) Komplikasi juga tergantung dari lokasi tumbuh berkembangnya embrio
Prognosis
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dengan persediaan darah yang cukup. Hellman dkk., (1971) melaporkan 1 kematian dari 826 kasus, dan Willson dkk (1971) 1 diantara 591 kasus. Tetapi bila pertolongan terlambat, angka kematian dapat tinggi. Sjahid dan Martohoesodo (1970) mendapatkan angka kematian 2 dari 120 kasus. Penderita mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami kehamilan ektopik kembali. Selain itu, kemungkinan untuk hamil akan menurun. Hanya 60% wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik terganggu dapat hamil lagi, walaupun angka kemandulannya akan jadi lebih tinggi. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0 – 14,6%. Kemungkinan melahirkan bayi cukup bulan adalah sekitar 50%
Diagnosa Banding
Diagnosa bandingnya adalah :
a) Infeksi pelvic
b) Kista folikel
c) Abortus biasa
d) Radang panggul,
e) Torsi kita ovarium,
f) Endometriosis
Kehamilan tuba memiliki gejala-gejala yang mirip dengan penyakit lain, terutama dengan infeksi daerah pelvis. Beberapa kelainan yang memiliki gejala mirip dengan kehamilan tuba antara lain adalah:
a) Salpingitis
Terjadi pembengkakan dan pembesaran tuba bilateral, demam tinggi dan tes kehamilan negatif. Dapat ditemukan getah serviks yang purulen.
b) Abortus (imminens atau inkomplitus)
Gejala klinik yang dominan adalah perdarahan, umumnya terjadi sebelum ada nyeri perut. Perdarahan berwarna merah, bukan coklat tua seperti pada kehamilan ektopik. Nyeri perut umumnya bersifat kolik dan kejang (kram). Uterus membesar dan lembek, terdapat dilatasi serviks. Hasil konsepsi dapat dikenali dari pemeriksaan vagina.
c) Appendisitis
Daerah yang lunak terletak lebih tinggi dan terlokalisir di fossa iliaka kanan. Bisa ditemukan pembengkakkan bila ada abses apendiks, namun tidak terletak dalam di pelvis seperti pada pembengkakan tuba. Demam lebih tinggi dan pasien terlihat sakit berat. Tes kehamilan menunjukkan hasil negatif.
d) Torsio kista ovarium
Teraba massa yang terpisah dari uterus, sedangkan kehamilan tuba umumnya terasa menempel pada uterus. Perut lunak dan mungkin terdapat demam akibat perdarahan intraperitoneal. Tanda dan gejala kehamilan mungkin tidak ditemukan namun ada riwayat serangan nyeri berulang yang menghilang dengan sendirinya.
e) Ruptur korpus luteum
Sangat sulit dibedakan dengan kehamilan tuba, namun ruptur korpus luteum sangat jarang ditemukan.


ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU, MIOMA UTERI+HIDROSALPING

Pengkajian
a) Kardiovaskuler : TTV
- Takikardi
- Hipotensi
- Vertigo
- Diaporesis
b) Gastrointestinal
- Mual, muntah
- Nyeri abdomen
- Cullen’s Sign (umbilicus agak kebiruan)
c) Genitourinaria
- Amenorrhea
- Jenis alat kontrasepsi
- Riwayat gangguan tuba sebelumnya
- HPHT
- Ada atau tidak ada bercak yang keluar dari vagina
- Perdarahan Vagina Cokelat tua
- Peningkatan ukuran uterus
- Nyeri pelvis
- Pembesaran Pelvis  massa tuba
- Nyeri akut abdomen

Pemeriksaan Lab :
- Hb
- Leukosit
- USG
- Kuldoskopi
- Laparoskopi

Diagnosa Keperawatan :
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan dari rupture tempat implantasi
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma rupture dan inflamasi peritoneal
3. Nyeri berhubungan dengan rupture tuba, peritonitis, perdarahan peritoneum
4. Nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitas jaringan kulit sekunder akibat sectio caesaria ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada daerah bekas operasi
5. Berduka disfungsional berhubungan dengan kehilangan kehamilan
6. kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kemungkinan komplikasi, dan treatment
7. Ansietas yang berhubungan dengan kritisituasi, ancaman yang dirasakan dari kesejahteraan maternal yang ditandai dengan pasien mengatakan sulit tidur



1. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan dari rupture tempat implantasi

Tujuan :
Tidak terjadi deficit Volume cairan

Intervensi :
1. Monitor TTV
2. Monitor perdarahan tiap 30 menit / sesuai kondisi (warna, jumlah, bau)
3. Monitor tanda Syok (kelemahan, takikardi, hipotensi, diaporesis)
4. Monitor input dan output cairan
5. Monitor pemeriksaan lab (Hb, Ht)
6. Berikan terapi cairan IV
7. Berikan tranfusi sesuai indikasi

2. Nyeri berhubungan dengan rupture tuba

Tujuan :
Nyeri pada klien akan berkurang
Intervensi :
1. Kaji nyeri (karakteristik, intensitas, frekuensi, lokasi)
2. Minimalkan distraksi stimulus ruangan
3. Anjurkan klien tirah baring dan membatasi aktivitas
4. Ajarkan teknik relaksasi
5. Kolaborasi pemberian analgesic

3. Nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitas jaringan kulit sekunder akibat sectio caesaria ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada daerah bekas operasi

Tujuan : nyeri berkurang
Intervensi :
1) Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri, perhatikan isyarat verbal dan non verbal setiap 6 jam
Rasional : menentukan tindak lanjut intervensi.
2) Pantau tekanan darah, nadi dan pernafasan tiap 6 jam
Rasional : nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan darah meningkat, nadi, pernafasan meningkat
3) Kaji stress psikologis ibu dan respons emosional terhadap kejadian
Rasional : Ansietas sebagai respon terhadap situasi dapat memperberat ketidaknyamanan karena sindrom ketegangan dan nyeri.
4) Terapkan tehnik distraksi (berbincang-bincang)
Rasional : mengalihkan perhatian dari rasa nyeri
5) Ajarkan tehnik relaksasi (nafas dalam) dan sarankan untuk mengulangi bila merasa nyeri
Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan otot-otot sehingga nmengurangi penekanan dan nyeri.
6) Beri dan biarkan pasien memilih posisi yang nyaman
Rasional : mengurangi keteganagan area nyeri.
7) Kolaborasi dalam pemberian analgetika.
Rasional : analgetika akan mencapai pusat rasa nyeri dan menimbulkan penghilangan nyeri.

4. Ansietas yang berhubungan dengan kritisituasi, ancaman yang dirasakan dari kesejahteraan maternal yang ditandai dengan pasien mengatakan sulit tidur

Tujuan : ansietas berkurang, pasien dapat menggunakan sumber/system pendukung dengan efektif.



Intervensi :
1) Kaji respons psikologi pada kejadian dan ketersediaan sitem pendukung.
Rasional : Makin ibu meraakan ancaman, makin besar tingkat ansietas.
2) Tetap bersama ibu, dan tetap bicara perlahan, tunjukan empati. Rasional : membantu membatasi transmisi ansietas interpersonal dan mendemonstrasakan perhatian terhadap ibu/pasangan.
3) Beri penguatan aspek positif pada dari ibu
Rasional : membantu membawa ancaman yang dirasakan/actual ke dalam perspektif.
4) Anjurkan ibu pengungkapkan atau mengekspresikan perasaan.
Rasional : membantu mengidentifikasikan perasaan dan memberikan kesempatan untuk mengatasi perasaan ambivalen atau berduka. Ibu dapat merasakan ancaman emosional pada harga dirinya karena perasaannya bahwa ia telah gagal, wanita yang lemah.
5) Dukung atau arahkan kembali mekanisme koping yang diekspresikan. Rasional : Mendukung mekanisme koping dasar dan otomatis meningkatkan kepercayaan diri serta penerimaan dan menurunkan ansietas.
6) Berikan masa privasi terhadap rangsangan lingkungan seperti jumlah orang yang ada sesuai keinginan ibu.
Rasional : Memungkinkan kesempatan bagi ibu untuk memperoleh informasi, menyusun sumber-sumber, dan mengatasi cemas dengan efektif.







DAFTAR PUSTAKA


1. Ayu, Ida. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. EGC : Jakarta.
2. Arif M. dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 2001. Hal. 267-271.
3. http://darsananursejiwa.blogspot.com/2010/02/askep-kehamilan-ektopik-terganggu.html.
4. Liewellyn-jones, Derek. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Jakarta, Hipokrates Edisi 6.
5. Prof. dr. Hanifa W, dkk., IlmuKebidanan, Edisi kedua, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1992, Hal. 323-334.
6. www.medica store.com/kehamilan ektopik,kehamilan luar kandungan/page:1-4
7. Prof. dr. Hanifa W. DSOG, dkk, Ilmu Kandungan,Edisi kedua, Yayasan Bina Pustaka
8. Rosanti, Anita . 2003. Kumpulan Mater MaternitasII Program Studi D. IV. Fakultas Kedokteran Negeri Airlangga : Surabaya
9. Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1999, Hal 250-255.

Senin, 19 Desember 2011

"Askep Post OP SC (Cesarean Section / C-Section)"

A. PENGERTIAN

Seksio sesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram. (Hanifa Wiknjosastro, 1994)

Seksio sesaria adalah tindakan untuk melahirkan bayi perabdominan atau pervaginam dengan membuka dinding uterus.

B. KLASIFIKASI

Seksio sesaria ada tiga jenis yaitu :
  1. Seksio sesaria transperitoneal profunda
  2. Seksio sesaria corporal (klasik)
  3. Seksio sesaria ekstra peritoneal : per abdominam, per vaginam.

Berdasar saat dilakukan seksio sesaria dibagi atas :
  1. Seksio sesaria primer : direncanakan pada waktu “antenatal care”
  2. Seksio sesaria sekunder : tidak direncanakan terlebih dulu, sewaktu masuk telah termasuk kasus emergency.


C. INDIKASI

a. Indikasi ibu
  1. Disproporsi sefalo pelvic
  2. Plasenta previa
  3. Letak lintang
  4. Tumor jalan lahir
  5. Parut bekas seksio sesaria yang tidak baik
  6. “incordinate uterine action”
  7. Solusio plasenta
  8. Preeklamsi dan eklamsi
  9. Infeksi intrepartum 
b. Indikasi janin
  1. Gawat bayi
  2. Prolapsus funikuli
  3. Primigravida tua
  4. Kehamilan dengan diabetes mellitus
  5. Infeksi intra partum
Pada umumnya seksio sesaria tidak dilakukan pada :
  • Janin mati
  • Syok, anemia berat, sebelum diatasi
  • Kelainan congenital berat (monster)

Keuntungan dan kerugian Seksio sesaria transperitoneal profunda (TPP) dan corporal / klasik adalah :


D. PEMERIKSAAN PENUNJANG POST SC
  1. Darah lengkap : Hb, Ht, Lekosit
  2. Urin kultur
  3. Darah vagina & lochea

E. PENATALAKSANAAN POST OP SC
  1. Pasien tidur miring dengan dimonitor tanda-tanda vital tiap 15 menit untuk jam I, kemudian tiap 30 menit untuk jam II, dan tiap 1 jam berikutnya.
  2. Pertahankan jalan nafas tetap terbuka
  3. Tungkai atas dalam posisi fleksi
  4. Beri analgetik
  5. Pasien dapat duduk pada jam ke 8 -12 dan 24 jam post op boleh jalan
  6. Setelah 6 jam post op, jika peristaltic positif dapat diberi minum
  7. Klien dapat makan lunak hari I, infuse dapat di aff setelah 24 jam post op.
  8. Kateter dapat dicabut 24 jam post op.
  9. Luka operasi harus dilihat hari I post op, bila kotor kasa diganti, biasanya balutan diganti pada hari ke 3-4.
  10. Jahitan dapat dibuka hari ke-5 post op.
  11. Pasien dapat digabung dengan bayi untuk memberikan ASI
  12. Pemeriksaan lab : Hb, Ht, biasanya terjadi penurunan 2 %
  13. Bila turun < 8% perlu untuk tranfusi.

F. PERSALINAN SUNGSANG
Jenis pimpinan persalinan sungsang adalah :

1. Persalinan per vaginam
Berdasarkan tenaga yang dipakai dalam melahirkan janin pervaginam, persalinan pervaginam dibagi menjadi 3 yaitu :
a. Persalinan spontan (spontaneous breech)
Janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri
b. Manual aid (partial breech extraction)
Janin dilahirkan sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi dengan tenaga penolong
c. Ekstraksi sungsang (total breech ekstraction)
Janin dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga penolong.

2. Persalinan per abdominam (seksio sesaria)

G. PATHWAY



H. PENGKAJIAN
  1. Sirkulasi : darah yang hilang akibat operasi
  2. Integritas ego
  3. Eliminasi
  4. makanan / cairan
  5. Neuro sensori
  6. Nyeri
  7. Pernafasan
  8. Keamanan (keadaan balutan)
  9. Seksualitas
  10. Keadaan umum
  11. Tanda-tanda vital
  12. Payudara
  13. Kulit
  14. Abdomen
  15. Lochea
  16. Perineum
  17. Vesika urinaria

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d kehilangan vaskuler yang berlebih
Tujuan : tidak terjadi kekurangan volume cairan
Kriteria hasil :
- Hidrasi adekuat : dengan terabanya nadi
- Pengisian kapiler normal
- Membran mukosa lembab

Intervensi
a. Monitor tanda-tanda vital
b. Monitor intake dan out put
c. Pertahankan pemberian cairan parenteral
d. Berikan cairan peroral sesuai kondisi klien
e. Observasi adanya perdarahan
f. Kolaborasi pemeriksaan Hb, Ht
g. Kolaborasi untuk pemberian tranfusi

2. Nyeri b.d luka operasi
Tujuan : Nyeri hilang, berkurang
Kriteria hasil :
- Klien mengungkapkan nyeri berkurang
- Klien tampak tenang
Intervensi :
a. Kaji karakteristik, skala nyeri
b. Berikan informasi sebagai antisipasi penyebab nyeri
c. Evaluasi tanda-tanda vital
d. Anjurkan penggunaaan teknik relaksasi
e. Anjurkan untuk ambulasi dini
f. Anjurkan menghindari makanan yang mengandung gas
g. Kolaborasi pemberian analgetik

3. Cemas b.d ketidaktahuan regimen operasi
Tujuan : Cemas hilang, berkurang
Kriteria hasil :
- Klien menyatakan tidak cemas
- Klien merasa tenang
Intervensi :
a. Kaji respon psikologis pasien
b. Tetap bersama klien dan tunjukkan empati
c. Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaannya
d. Ajarkan mekanisme koping yang positif

4. Resiko tinggi infeksi b.d trauma jaringan / intervensi pembedahan, terpasang kateter
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil :
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
- Penyembuhan jaringan
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda vital
b. Observasi luka terhadap tanda-tanda infeksi
c. Ganti balut sesuai indikasi
d. Rawat kebersihan kateter
e. Beritahu doketer terhadap adanya tanda-tanda infeksi
f. Kolaborasi terhadap pemberian antibiotik

DAFTAR PUSTAKA

Friedman, 1998. Seri Skema diagnosis dan Penatalaksanaan Obstetri. Ed2. Binarupa Aksara. Jakarta
Hanifa W. 1996; Ilmu Bedah Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta
Purnawan J. dkk. 1997; Kapita selekta Kedokteran. Ed2. Media Aesculapeus, FKUI, Jakarta
Marylin Doengoes, 2001; Rencana Keperawatan Maternal / Bayi, EGC, Jakarta
Susan Martin Tucker, 1999; Standar Perawatan Pasien, EGC, Jakarta

"Perawatan Kolostomi"

Pengertian

  • Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses (M. Bouwhuizen, 1991)
  • Pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses (Randy, 1987)
  • Lubang yang dibuat melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan feses (Evelyn, 1991, Pearce, 1993)


Jenis – jenis kolostomi
     Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun sementara.


  • Kolostomi Permanen

     Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang)


  • Kolostomi temporer/ sementara

     Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomi double barrel.

     Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga stoma tampak membesar.

     Pasien dengan pemasangan kolostomi biasanya disertai dengan tindakan laparotomi (pembukaan dinding abdomen). Luka laparotomi sangat beresiko mengalami infeksi karena letaknya bersebelahan dengan lubang stoma yang kemungkinan banyak mengeluarkan feses yang dapat mengkontaminasi luka laparotomi, perawat harus selalu memonitor kondisi luka dan segera merawat luka dan mengganti balutan jika balutan terkontaminasi feses.

     Perawat harus segera mengganti kantong kolostomi jika kantong kolostomi telah terisi feses atau jika kontong kolostomi bocor dan feses cair mengotori abdomen. Perawat juga harus mempertahankan kulit pasien disekitar stoma tetap kering, hal ini penting untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit dan untuk kenyamanan pasien.
Kulit sekitar stoma yang mengalami iritasi harus segera diberi zink salep atau konsultasi pada dokter ahli jika pasien alergi terhadap perekat kantong kolostomi. Pada pasien yang alergi tersebut mungkin perlu dipikirkan untuk memodifikasi kantong kolostomi agar kulit pasien tidak teriritasi.

Pendidikan pada pasien
     Pasien dengan pemasangan kolostomi perlu berbagai penjelasan baik sebelum maupun setelah operasi, terutama tentang perawatan kolostomi bagi pasien yang harus menggunakan kolostomi permanen.


Berbagai hal yang harus diajarkan pada pasien adalah:

  • Teknik penggantian/ pemasangan kantong kolostomi yang baik dan benar
  • Teknik perawatan stoma dan kulit sekitar stoma
  • Waktu penggantian kantong kolostomi
  • Teknik irigasi kolostomi dan manfaatnya bagi pasien
  • Jadwal makan atau pola makan yang harus dilakukan untuk menyesuaikan
  • Pengeluaran feses agar tidak mengganggu aktifitas pasien
  • Berbagai jenis makanan bergizi yang harus dikonsumsi
  • Berbagai aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien
  • Berbagi hal/ keluhan yang harus dilaporkan segera pada dokter ( jika apsien sudah dirawat dirumah)
  • Berobat/ control ke dokter secara teratur
  • Makanan yang tinggi serat

Komplikasi kolostomi

1.Obstruksi/ penyumbatan
     Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau adanya pengerasan feses yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari terjadinya sumbatan, pasien perlu dilakukan irigasi kolostomi secara teratur. Pada pasien dengan kolostomi permanen tindakan irigasi ini perlu diajarkan agar pasien dapat melakukannya sendiri di kamar mandi.

2.Infeksi
     Kontaminasi feses merupakan factor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolstomi sangat bermakna untuk mencegah infeksi.

3.Retraksi stoma/ mengkerut
     Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.

4.Prolaps pada stoma
     Terjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur penyokong stoma yang kurang adekuat pada saat pembedahan.

5.Stenosis
     Penyempitan dari lumen stoma

6.Perdarahan stoma



Perawatan kolostomi

Pengertian
     Membersihkan stoma kolostomi, kulit sekitar stoma , dan mengganti kantong kolostomi secara berkala sesuai kebutuhan.

Tujuan

  • Menjaga kebersihan pasien
  • Mencegah terjadinya infeksi
  • Mencegah iritasi kulit sekitar stoma
  • Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkungannya

Persiapan pasien
  • Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakan, dll
  • Mengatur posisi tidur pasien (supinasi)
  • Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden jendela, pintu, memasang penyekat tempat tidur (k/P), mempersilahkan keluarga untuk menunggu di luar kecuali jika diperlukan untuk belajar merawat kolostomi pasien

PERSIAPAN ALAT
  1. Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang, dan kain persegi empat
  2. Kapas sublimate/kapas basah, NaCl
  3. Kapas kering atau tissue
  4. 1 pasang sarung tangan bersih
  5. Kantong untuk balutan kotor
  6. Baju ruangan / celemek
  7. Bethadine (bila perlu) bila mengalami iritasi
  8. Zink salep
  9. Perlak dan alasnya
  10. Plester dan gunting
  11. Bila perlu obat desinfektan
  12. Bengkok
  13. Set ganti balut

PERSIAPAN KLIEN
  1. Memberitahu klien
  2. Menyiapkan lingkungan klien
  3. Mengatur posisi tidur klien

PROSEDUR KERJA
  1. Cuci tangan
  2. Gunakan sarung tangan
  3. Letakkan perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri pasien sesuai letak stoma
  4. Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien
  5. Mengobservasi produk stoma (warna, konsistensi, dll)
  6. Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien
  7. Meletakan colostomy bag kotor dalam bengkok
  8. Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma
  9. Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas sublimat / kapas hangat (air hangat)/ NaCl
  10. Mengeringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hati-hati menggunakan kassa steril
  11. Memberikan zink salep (tipis-tipis) jika terdapat iritasi pada kulit sekitar stoma
  12. Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma colostomy
  13. Menempelkan kantong kolostomi dengan posisi vertical/horizontal/miring sesuai kebutuhan pasien.
  14. Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi
  15. Merekatkan/memasang kolostomy bag dengan tepat tanpa udara didalamnya
  16. Merapikan klien dan lingkungannya
  17. Membereskan alat-alat dan membuang kotoran
  18. Melepas sarung tangan
  19. Mencuci tangan
  20. Membuat laporan

"Jenis-jenis Cairan Infus"

ASERING
Indikasi:
     Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.


Komposisi:
Setiap liter asering mengandung:
  • Na 130 mEq
  • K 4 mEq
  • Cl 109 mEq
  • Ca 3 mEq
  • Asetat (garam) 28 mEq

Keunggulan:
  • Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati
  • Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus
  • Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran
  • Mempunyai efek vasodilator
  • Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral




KA-EN 1B
Indikasi:

  • Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)
  • < 24 jam pasca operasi
  • Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak
  • Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam



KA-EN 3A & KA-EN 3B
Indikasi:

  • Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
  • Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
  • Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A
  • Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B



KA-EN MG3
Indikasi :

  • Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
  • Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
  • Mensuplai kalium 20 mEq/L
  • Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L



KA-EN 4A
Indikasi :

  • Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak
  • Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal
  • Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi (per 1000 ml):

  • Na 30 mEq/L
  • K 0 mEq/L
  • Cl 20 mEq/L
  • Laktat 10 mEq/L
  • Glukosa 40 gr/L



KA-EN 4B
Indikasi:

  • Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun
  • Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia
  • Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi:

  • Na 30 mEq/L
  • K 8 mEq/L
  • Cl 28 mEq/L
  • Laktat 10 mEq/L
  • Glukosa 37,5 gr/L



Otsu-NS
Indikasi:

  • Untuk resusitasi
  • Kehilangan Na > Cl, misal diare
  • Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)



Otsu-RL
Indikasi:

  • Resusitasi
  • Suplai ion bikarbonat
  • Asidosis metabolik



MARTOS-10
Indikasi:

  • Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik
  • Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein
  • Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam
  • Mengandung 400 kcal/L



AMIPAREN
Indikasi:

  • Stres metabolik berat
  • Luka bakar
  • Infeksi berat
  • Kwasiokor
  • Pasca operasi
  • Total Parenteral Nutrition
  • Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit



AMINOVEL-600
Indikasi:

  • Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI
  • Penderita GI yang dipuasakan
  • Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca operasi)
  • Stres metabolik sedang
  • Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)



PAN-AMIN G
Indikasi:

  • Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan
  • Nitrisi dini pasca operasi
  • Tifoid