Sahabatku pUnkmore

Sahabatku pUnkmore
saHabat untuk sLamanya

Minggu, 06 Mei 2012

ASKEP DISLOKASI PANGGUL KONGENITAL

I. Konsep Medis

1. Definisi
Dislokasi panggul kongenital adalah deformitas ortopedik yang didapat segera sebelum atau pada saat kelahiran. Kondisi ini bervariasi dari pergeseran minimal ke lateral sampai dislokasi komplet dari kaput femoris keluar asetabulum.
Ada tiga pola yang terlihat : (1) subluxation, kaput femoris berada di asetabulum dan dapat mengalami dislokasi parsial saat pemeriksaan; (2) dislocatable, pinggul dapat dislokasi seluruhnya dengan manipulasi tetapi berada pada lokasi normal pada saat bayi istirahat ; (3) dislocated, pinggul berada dalam posisi dislokasi (paling parah)

2. Etiologi
Etiologinya tak diketahui, faktor penyebab yang diduga berupa tekanan intrauterine abnormal terhadap ekstremitas, presentasi bokong dan laksitas ligamentosa

3. Insiden
 Dislokasi panggul congenital terdapat satu antara 1000 kelahiran
 Rasio perempuan laki-laki 7 : 1
 Insiden meningkat pada kelahiran sungsang
 Peningkatan insiden terdapat pula pada saudara kandung dari anak yang terkena
 Pinggul kiri lebih sering terkena daripada pinggul kanan
 Sering kali berhubungan dengan kondisi lain, seperti dengan spina bifida
 Peningkatan insiden terdapat pada Eskimo Kanada dan kelompok Indian Amerika yang menidurkan anak mereka pada ayunan selama bulan-bulan pertama kehidupan

4. Manifestasi klinis

Bayi
 Mungkin tanpa gejala yang nyata karena pergeseran femur pada bayi mungkin minimal
 Lipatan gluteal asimetris (posisi telungkup)
 Panjang kaki yang terkena lebih pendek dari kakinya yang normal
 Abduksi pinggul terbatas pada sisi yang sakit
 Tanda Galeazzi positif
 Manuver Barlow positif
 Manuver ortolani positif

Toddler atau anak yang lebih besar
 Gaya berjalan seperti bebek (dislokasi bilateral dari pinggul)
 Condong ke sisi badan yang menahan beban
 Peningkatan lordosis lumbal pada saat berdiri (dislokasi bilateral pada pinggul)
 Kaki yang sakit lebih pendek dari kaki yang sehat
 Tanda Trendelenburg

5. Komplikasi
 Displasia persisten
 Dislokasi kambuhan
 Nekrosis avaskular latrogenik pada kaput femoris

6. Penatalaksanaan medis
Pengobatan bervariasi berdasarkan beratnya manifestasi klinis dan usia anak. Jika dislokasi dapat dikoreksi dalam beberapa hari sampai minggu pertama kehidupan, displasia ini akan reversibel dengan sempurna dan akan terbentuk pinggul yang normal. Selama periode neonatal mengembalikan dan mempertahankan pinggul pada posisi fleksi dan abduksi didapat dengan menggunakan alat pengoreksi. Pada usia 2 bulan dan 12 sampai 18 bulan, traksi dilanjutkan dengan reduksi terbuka atau tertutup (tergantung pada terjadi tidaknya kontraktur pada otot-otot aduktor dan pergesaran kaput femoris) dan digunakan gips spica.

II. Konsep Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan
 Kaji tanda-tanda iritasi kulit
 Kaji respon anak terhadap traksi dan imobilisasi dalam balutan gips
 Saat pascaoperasi, kaji tanda-tanda vital dan tanda-tanda drainase luka
 Kali tingkat perkembangan anak
 Kaji kesiapan orangtua untuk melakukan perawatan di rumah pada gips tersebut

2. Diagnosa Keperawatan
 Resiko kerusakan mobilitas fisik b/d pemasangan traksi/gips
 Resiko tinggi cedera b/d pemasangan alat pengoreksi
 Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d pemasangan traksi/gips
 Kurang pengetahuan b/d pemasangan gips

3. Intervensi Keperawatan

 Resiko kerusakan mobilitas fisik b/d pemasangan traksi/gips
KE : - Mempertahankan tingkat mobilitas pada tingkat yang memungkinkan
- Mempertahankan posisi fungsional
- Pinggul bayi anak tetap pada posisi yang diinginkan
Intervensi :
 Pantau respon anak terhadap pemasangan traksi/gips
R/ : Anak mungkin merasa tidak nyaman dengan pemasangan alat koreksi ini


 Pantau respon anak terhadap immobilisasi dengan gips
R/ : Anak mungkin dibatasi oleh pandangan tentang keterbatasan fisik, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
 Dorong anak untuk tetap melakukan aktivitas sehari-harinya
R/ : Dengan dilakukannya aktivitas sehari-hari memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan rasa kontrol
 Instruksikan orang tua untuk memberikan aktivitas perangsang sesuai usia
R/ : Menjaga anak untuk tetap bergerak dan menggunakan otot-ototnya
 Berikan posisi yang nyaman pada saat anak istirahat
R/ : Berguna untuk memeprtahankan posisi fungsional dan mencegaj komplikasi

 Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d pemasangan traksi/gips
KE : Kulit anak/bayi tetap utuh tanpa kemerahan atau luka
Intervensi :
 Lakukan perawatan kulit
R/ : Menjaga kulit anak/bayi tetap bersih dan nyaman dan mencegah iritasi
 Pantau adanya tanda-tanda iritasi kulit
R/ : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan pemasangan gips yang membutuhkan intervensi lebih lanjut
 Ganti popok sesering mungkin
R/ : Untuk mencegah kerusakan kulit dan agar mempertahankan kebersihan brace
 Jaga agar kulit di bawah gips tetap bersih dan kering setiap hari
R/ : Mencegah terjadinya iritasi atau lecet akibat pemasangan gips
 Periksa adanya tanda-tanda infeksi dan tekanan
R/ : Mencegah terjadinya edema atau komplikasi lainnya yang disebabkan pemasangan gips

 Kurang pengetahuan b/d pemasangan gips
KE : orangtua mendemonstrasikan aktivitas perawatan untuk menyesuaikan diri dengan alat korektif atau gips yang dipakai bayi
Intervensi :
 Ajarkan orangtua tentang cara-cara memelihara dan merawat alat korektif
R/ : Pengetahuan mengenai pemeliharaan alat-alat korektif dapat menjaga anak dari resiko injury dan dapat memberikan kenyamanan pemakain alat korektif pada anak.
 Ajarkan orangtua tentang perawatan gips
R/ : Pada pemakaian gips perlu dimonitor setiap saat karena mencegah terjadinya iritasi dan komplikasi akibat pemakain gips ini.
 Ajarkan orangtua untuk perlunya modifikasi tempat duduk
R/ : menjaga anak agar tetap mendapatkan posisi yang nyaman walaupun dalam pemakain alat pengoreksi


 Instruksikan orangtua agar tetap mempertahankan aktivitas anak
R/ : menjaga aktivitas otot yang dipasangi alat pengoreksi agar tetap bekerja dan mencegah terjadinya imobilitas

 Resiko tinggi cedera b/d pemasangan alat pengoreksi
KE : tidak terjadi injury pada anak
Intervensi :
 Diskusikan secara proaktif cara-cara keamanan dan keselamatan anak
R/ : Mengetahui kemampuan orangtua untuk dapat menjaga anaknya dan mendapat kan cara penanganan anak dengan baik
 Kaji dan identifikasi strategi untuk memindahkan anak secara aman dan nyaman, yang terdiri dari cara menggunakan roda dorong dan menempatkan ekstremitas anak yang dipasangi alat
R/ : mencegah terjadinya cedera pada anak atau terjadinya nyeri/ketidaknyamanan pada anak pada saat anak dipindahtempatkan
 Ajarkan orangtua cara-cara mengoreksi alat serta tekankan pentingnya penggunan alat pada anak
R/ : memberi pengetahuan pada orangtua tentang cara mengoreksi alat dengan baik dan mencegah terjadinya cedera
 Ajarkan orangtua tentang tanda-tanda infeksi, kelainan neurovaskuler
R/ : mengetahui terjadinya infeksi atau komplikasi lebih dini dan dapat diberikan penanganannya
 Jadwalkan follow up setelah anak meninggalkan rumah sakit
R/ : mengetahui perkembangan kesehatan anak setelah penggunaan alat pengoreksi

DAFTAR PUSTAKA



Aston, J N. 1999. Kapita selekta traumatologik dan ortopedik. EGC. Jakarta.

Behrman, Richard E. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. EGC. Jakarta.

Betz, Cecily l. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatric. Egc. Jakarta.

Merenstein, Gerald B. 2001. Buku Pegangan Pediatrik. Widya Medika. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar